Beranda Jogja Tempo Doeloe Gerobag Itu Cargo, Andong Itu Pengangkut Orang
Jogja Tempo Doeloe

Gerobag Itu Cargo, Andong Itu Pengangkut Orang

Ilustrasi

Marknews.id – Memasuki era 2000-an, banyak bermunculan penghobi gerobag sapi. Gerobag versi baru ini dihias dengan warna-warni mirip dengan gerobag era 1970-an atau bahkan era sebelumnya.

Hanya saja, gerobag yang berkembang sekarang ini meniru gerobag era 1970-an. Cirinya, rodanya menggunakan roda mobil, terutama truk. Di era sebelumnya, gerobag menggunakan roda mirip roda andong dengan jeruji kayu. Namun diameternya lebih tinggi ketimbang roda belakang andong. Diameter roda gerobag sapi ini bisa mencapai 1,5 meter bahkan mungkin dua meteran, sama dengan gerobag jaran yang dahulu banyak ditemukan di Kutoarjo hingga Banyumas.

Gerobag sapi ditarik dua ekor sapi, sedangkan gerobag jaran ditarik satu atau dua ekor kuda. Badan gerobag jaran memang lebih ramping dibanding dengan gerobag sapi.

Di Yogyakarta, gerobag sapi biasanya bergerak dari berbagai penjuru dengan tujuan akhir pasar-pasar yang ada di Kota Yogyakarta, terutama Pasar Beringharjo sebagai pasar utama. Gerobag sapi ini mulai bergerak sekitar pukul 11.00 malam dan perlahan-lahan dengan suara “pating glodhak” menyusuri jalanan yang menghubungkan desa dengan kota.

Salah satunya Jalan Patangpuluhan. Tahun-tahun 1970-an, jalan ini aspalnya hampir semuanya mengelupas, yang tersisa hanyalah batuan tajam. Sepeda biasa berjalan tidak di badan jalan, tetapi mencari sisi yang halus meski tanah.

Gerobag yang berasal dari tempat-tempat jauh biasanya melewati jalanan rusak ini sekitar jam dua malam. “Ting” atau lampu minyak berkerodong kaca tergantung di bawah badan gerobag, bergoyang mengikuti irama kaki sapi.

Di badan gerobag berisi barang-barang bawaan yang akan dijual di pasar. Ada yang membawa arang dan kayu bakar, ada yang membawa beras, atau dalam satu gerobag dimungkinkan membawa beberapa jenis barang sekaligus. Namun, gerobag tidak untuk membawa penumpang manusia. Bahkan, pemilik barang biasanya tidak ikut. Pengirim barang sudah percaya dengan pemilik gerobag bahwa barang yang dikirim akan tepat sasaran mencapai alamat yang dituju.

Pengguna gerobag — meski untuk kepentingan pribadi — biasanya membawa hasil sawah ke rumah atau membawa belanjaan besar seperti ban bus, onderdil, dan lain sebagainya. Salah satunya adalah Pak Harno, pemilik PO Suharno di Ngento-ento (Godean atau Moyudan).

Ini saya tahu ketika menjadi panitia kegiatan wisata kampung di tahun 1975-an. Saat akan menyewa bus untuk wisata ke PO Suharno, saya bertemu dengan orang yang sedang menurunkan kacang tanah yang baru dipanen.

“Madosi sinten?” kata orang yang sedang menurunkan kacang tersebut.
“Mau bertemu Pak Harno. Mau tanya-tanya sewa bus untuk piknik,” jawab saya.

Penggerobag ini meminta saya menunggu di ruang tamu, lalu orang tadi menghilang lewat samping. Beberapa saat kemudian, ia muncul lagi dari pintu dalam dengan pakaian lebih rapi dan terlihat telah membersihkan diri — cuci tangan, cuci muka, dan merapikan busana.
“Mangga. Tepangken, kula ingkang nami Suharno,” katanya memperkenalkan diri. Saya kaget, haru, dan kagum. Ternyata Pak Harno orang yang sederhana.

Profesi penggerobag memang disebut bajingan. Nama ini lebih dahulu ada ketimbang digunakan sebagai pisuhan (makian). Nama profesi inilah yang secara kasar diserobot untuk memaki orang lain. Sama seperti profesi penggembala itik — sontoloyo. Kedua profesi ini tidak dilekatkan pada nama seseorang, tetapi lepas begitu saja, berbeda dengan profesi lain.

Orang yang bekerja sebagai blandong, misalnya jika namanya Pawiro sering pula kemudian dinamai Pawiro Blandong. Tapi tak ada, misalnya, Pawiro Sontoloyo.

Berbeda dengan gerobag, andong yang juga alat transportasi masa lalu adalah pengangkut penumpang manusia. Meski sering pula membawa barang bawaan, namun jumlahnya relatif tidak banyak.

Pedagang sayur-mayur, tembakau, atau barang lain, jika membawa dagangannya ke pasar biasa menggunakan andong. Barang bawaan ditaruh di belakang dan penumpang duduk di kursi penumpang.

Bahkan, seorang penjual gudeg di Beringharjo pada era 1970-an yang tinggal di Jogja Utara biasa membawa dagangannya — kuali, panci, daun, dan lainnya — dalam satu andong bersamanya. Pulang berjualan pun kembali dengan andong sambil membawa wadah kosong serta gori atau nangka muda yang akan dimasak esok harinya.

Atau Bu Pawiro Bakir dari Wirobrajan yang berjualan berbagai makanan kering, membawa dagangannya dari rumah ke pasar juga menggunakan andong.

Akhirnya, andong dan gerobag harus menyerah pada kemajuan zaman. Munculnya mobil angkutan umum yang kecil dan lincah seperti Mitsubishi Colt, Suzuki Truntung, dan Daihatsu Unyil menggusur keberadaan mereka secara perlahan. Tarif yang murah dan lebih cepat menjadi pilihan yang diambil masyarakat.

Beruntung, andong kemudian mendapat tempat dalam pariwisata dan menjadi andong wisata, berbaur antara gaya Yogyakarta dan gaya Surakarta. Ciri khasnya, gaya Yogyakarta pada bagian atas tiang penyangga atap berbentuk seperti angka empat, sedangkan gaya Surakarta bercabang seperti lidah ular.

Di antara angkutan penumpang yang ditarik kuda, masih ada yang disebut dokar — beroda dua. Ada juga yang menyebut sado, bukan bendi modern seperti di objek wisata sekarang. Dokar yang dulu banyak di Prambanan dan Wates kini menghilang.

Sedangkan gerobag sapi, meski sempat surut, kini menjadi bagian dari hobi banyak orang. Bahkan penghobi gerobag ini semakin banyak dan mereka memiliki kegiatan rutin. Kini, gerobag sering digunakan untuk mengangkut orang yang ingin berwisata keliling kawasan tertentu.

Sebelumnya

Gamahumat, Inovasi UGM Ubah Batubara Jadi Pembenah Tanah Ramah Lingkungan

Selanjutnya

Tips Memilih Jasa Pembuatan Website Profesional agar Bisnis Anda Tampil Maksimal di Dunia Digital

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement