VW Dakota Warna-Warni: Mobil Legendaris Sang Duta Jamu Keliling
Marknews.id – Pada masa keemasan jamu di tahun 1970-an, ketika pasar-pasar tradisional masih menjadi nadi ekonomi rakyat Jawa, ada pemandangan menarik yang selalu dinanti: datangnya mobil penuh warna yang membawa kesegaran alami dari botol-botol jamu tradisional. Mobil itu bukan sembarang kendaraan melainkan VW Transporter T2 Generasi I, yang akrab disebut VW Dakota.
Mobil mungil dengan wajah lucu ini menjadi andalan dua pabrik jamu besar kala itu: satu di Wonogiri, satu lagi di Semarang. Tanpa perlu booth modern seperti sekarang, tim pemasaran mereka cukup memarkirkan VW Dakota di pinggir pasar, membuka pintu belakangnya, dan seketika berubah menjadi warung kecil serba jamu.
Bagian depannya masih memakai kaca pisah, lampu utamanya seperti truk Mercy Bagong, dan lampu seinnya nongkrong di atas. Produksi mobil ini memang antara 1957 hingga 1967, sebelum akhirnya model pintu geser populer di generasi berikutnya. Namun yang paling ikonik bukan bentuknya, melainkan cat kotak-kotak warna-warni dan logo pabrik jamu dengan ejaan lama yang menempel di sisi mobil pemandangan yang menggoda mata di tengah hiruk-pikuk pasar.
Begitu tiba di lokasi, para petugas langsung bersiap: membuka dagangan, menyiapkan air panas, air hangat, dan deretan gelas kecil berisi sirop jamu siap minum. Para pembeli pun datang silih berganti. Di Pasar Ngringin, Patangpuluhan, mobil bercat cerah ini bergantian datang hari ini giliran jamu dari Air Mantjur (Wonogiri), beberapa hari kemudian Djamu Tjap Djago (Semarang) yang menempati lapak yang sama.
Selain menjual eceran per saset, mereka juga piawai merayu pemilik warung kecil agar ikut memasarkan produk jamu mereka. Ragam jamu yang dijajakan pun khas: mulai dari Jamu Beranak (untuk ibu pascamelahirkan), Jamu Bakes Linmas (Badan Kesel, Linu, dan Masuk Angin akronim legendaris sebelum lembaga Sospol dibubarkan), Jamu Bludrek untuk tekanan darah tinggi, hingga Jamu Galian Singset yang digandrungi kaum hawa.
Menariknya, meski identik dengan nama “jamu” yang sangat njawani, banyak pendiri dan pemilik pabrik jamu ini berasal dari keturunan Tionghoa. Mereka lihai memadukan resep tradisional Jawa dengan ramuan pengobatan Cina, menciptakan formula yang manjur dan dipercaya lintas generasi.
Namun, memasuki era 1980-an, VW Dakota Jamu perlahan menghilang dari jalanan. Konsep pemasaran berganti: warung-warung jamu bermunculan, melayani berbagai kebutuhan pelanggan tanpa perlu mobil keliling. Beberapa perusahaan sempat mencoba ide baru seperti mobil berbentuk botol jamu atau bahkan batu baterai namun aura nostalgia Dakota tetap tak tergantikan.
Kini, ketika jamu mulai merambah marketplace digital, kualitasnya tak selalu terjamin. Jamu ilegal kadang mencoreng citra warisan budaya ini, sementara pengetahuan tradisional tentang resep jamu makin terkikis oleh zaman.
Dan bagaimana nasib VW Dakota sang duta jamu keliling itu?
Kini ia telah menjelma menjadi barang langka buruan kolektor. Tapi keberadaannya terutama yang pernah mengemban misi menjajakan jamu masih misteri. Mungkin teronggok di gudang tua, atau sudah jadi legenda yang tinggal dalam kenangan aroma kunyit dan kencur di pasar tradisional masa lalu.











