Masih Adakah di Kepatihan?, Menelusuri Jejak Sri Sultan dan Warisan Sejarah di Jantung Yogyakarta
Marknews.id – Kepatihan nama ini bukan sekadar kompleks perkantoran di jantung Yogyakarta. Ia menyimpan riwayat panjang, dari pusat pemerintahan kerajaan hingga menjadi tempat para pemimpin Daerah Istimewa Yogyakarta menjalankan roda pemerintahan.
Awalnya, Kepatihan dibangun sebagai kantor Pepatih Dalem, jabatan setara perdana menteri di bawah Kesultanan Yogyakarta. Namun, seiring waktu, jabatan Rijkbestuur ini tak lagi diisi oleh Sri Sultan Hamengku Buwono.
Setelah kemerdekaan, fungsi Kepatihan berubah. Kompleks megah ini menjadi kantor Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemda DIY). Di sinilah Sri Sultan Hamengku Buwono IX dan Sri Pakualam VIII berkantor, tepatnya di Gedong Wilis ruang kerja yang penuh cerita dan simbol kesetiaan.
Tradisi di Meja Sultan
Gedong Wilis bukan sekadar kantor. Di sini, setiap hari, unjukan teh dan air putih selalu disajikan di meja Sri Sultan, meski beliau kerap berada di Jakarta. Uniknya, air sisa atau lorodan yang dikembalikan selalu menjadi rebutan para staf. Mereka percaya, air itu membawa berkah dari sang raja.
Tradisi kecil itu menjadi penanda bahwa penghormatan pada Sultan bukan hanya lewat upacara, tapi juga lewat hal-hal sederhana yang dijaga dengan penuh khidmat.
Bangunan yang Punya Cerita
Bangunan utama di Kepatihan adalah Dalem Ageng, dilengkapi dengan hall besar bernama Bangsal Kepatihan. Di antara keduanya ada langkan yang disebut Pringgitan.
Ruang besar di Dalem Ageng yang lantainya lebih tinggi itu, konon dulu digunakan untuk menempatkan gamelan. Di bagian dalamnya terdapat tiga senthong: tengah, kiwo, dan tengen. Senthong Tengah berfungsi sebagai Pasren, tempat tidur dengan sepasang patung pengantin yang disebut Roro Blonyosimbol keselarasan rumah tangga Jawa. Sementara dua senthong lainnya, hingga kini, misterinya masih tersimpan.
Pare Anom dan Pracimosono
Di sebelah barat Dalem Ageng berdiri Gedong Wilis, tempat kerja Sultan HB IX dan Pakualam VIII. Tak jauh dari sana, Pare Anomyang kini menjadi kantor Wakil Gubernur DIY dibangun menjelang pelantikan Sri Pakualam IX.
Ke arah barat, berdiri Pracimosono, bangunan megah yang dulu digunakan untuk kantor Sekwilda dan ruang rapat besar. Namanya diambil dari letaknya di sisi barat (pracimå berarti barat).
Sementara di timur Bangsal Kepatihan, dulu berdiri bangunan bergaya indische yang menjadi Direktorat Sosial Politik (Ditsospol). Pemimpinnya selalu berasal dari kalangan ABRI aktif, berpangkat Letnan Kolonel atau Kolonel. Di tingkat kabupaten, jabatan serupa ditempati oleh perwira berpangkat Mayor atau Letnan Kolonel di kantor Sospol.
Bale Woro, Bale Mangu, dan Kentongan Ki Timbul
Tak jauh dari situ berdiri Bale Woro, bangunan dua lantai yang kini menjadi Kantor Humas Pemda DIY. Di terasnya tergantung kentongan besar buatan Ki Timbul, sementara di depannya berdiri Bale Mangu.
Di sebelah barat Bale Woro berdiri Masjid Sulthoni, dengan lantai marmer yang berkilau. Dahulu, di sebelah timur gerbang dalam, terdapat deretan bangunan panjang yang kini sudah hilang, berganti pagar tinggi.
Masih di kawasan yang sama, ada bangunan dengan pagar tinggi dan regol sempit yang dulu digunakan untuk Dinas Tenaga Kerja (DTK). Di sisi barat Bale Woro, berdempetan dinding, berdiri Kantor Kas Daerah, tempat para pensiunan daerah sabar mengantre setiap awal bulan untuk mengambil uang pensiun.
Bangsal Wiyoto Projo dan Jejak yang Tersisa
Ke arah timur Bale Mangu, berdiri bangunan joglo dengan gandok kiwo dan tengen, dikenal sebagai Bangsal Wiyoto Projo, dulu digunakan untuk Dinas Pendidikan. Kini, pagar tinggi yang melingkupinya telah dirobohkan, dan bangunannya menjadi Kantor Sekretariat Daerah (Sekda).
Masuk lebih ke dalam, di utara Gedong Pracimosono, dulunya terdapat bangunan bernama Gadri, Gedong Pacar, dan Gedong Gendul. Tapi kini, tak banyak yang tahu apakah bangunan-bangunan itu masih ada atau sudah hilang ditelan waktu.
Dua Gerbang dan Kenangan Sate Pak Amat
Kepatihan memiliki dua gerbang utama: barat (dari arah Malioboro) dan selatan. Dahulu, di balik gerbang barat sisi selatan, ada penjual sate ayam legendaris bernama Pak Amat, yang kemudian pindah ke Pekapalan Alun-Alun Utara. Di sisi utara gerbang, berdiri sebuah rumah makan yang kini hanya tersisa di ingatan.
Deretan bangunan bergaya indische di sisi selatan dulu menjadi tempat Satpol PP, PKK, dan sejumlah kantor lain. Kini, sebagian bangunannya sudah berubah wajah, menyesuaikan zaman.
Makam yang Nyaris Terlupakan
Di dekat gerbang selatan, konon dulu terdapat makam tua. Cerita tutur menyebut, di sanalah Ki Demang Tangkil dan Ki Ageng Mangir Wonoboyo dimakamkan. Dikisahkan, jenazah Ki Ageng Mangir dibawa oleh Ki Demang Tangkil ke tempat inidi selatan Kepatihan sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Kepatihan Kini
Kini, banyak bagian Kepatihan yang telah direnovasi dan beralih fungsi. Namun, di balik dindingnya yang tebal dan halaman yang tenang, masih terasa denyut masa lalu. Jejak langkah para abdi dalem, aroma teh di meja Sultan, dan suara kentongan Ki Timbul seolah masih bergema.
Kepatihan bukan sekadar kantor pemerintahan. Ia adalah arsip hidup sejarah Yogyakarta, tempat di mana tradisi dan kekuasaan pernah berpadu dalam harmoni yang lembut seperti nada gamelan di Dalem Ageng yang dulu.











