Dari NALO ke SDSB dan Porkas, Jejak Lotre dan Ramalan Angka di Masa Lalu
Marknews.id – Setiap hari, di trotoar dulu ditulis trottoirsisi utara Jalan Senopati, berderet para “orang pintar” yang duduk di kursi kecil. Di depan mereka, meja mungil penuh lembaran kertas berisi ramalan angka. Mereka berbicara dengan penuh keyakinan, merangkai kalimat yang memukau, dan menyebut angka-angka seolah benar-benar tahu nomor yang akan keluar dalam undian berikutnya.
Dengan “rumus jitu” hasil olah batin dan hitungan misterius, para peramal itu mengaku bisa menebak angka undian hingga empat digit dengan tepat—bahkan mengklaim ramalannya sering terbukti pada undian sebelumnya. Di tangan mereka, angka bukan sekadar angka, melainkan jalan menuju “keberuntungan”.
Mereka ini menjual rumus buntut—angka-angka jitu dari hasil undian resmi yang digelar oleh yayasan berizin Departemen Sosial.
Dan di balik semua itu, berdirilah sejarah panjang perjudian berlabel sosial di Indonesia.
NALO: Cikal Bakal Lotre Nasional
Lotre resmi pertama di Indonesia tercatat bernama NALO—singkatan dari National Lottery atau Nasional Lotre. Setelahnya, muncul versi daerahnya: LODA (Lotre Daerah).
Yogyakarta pun punya. LODA di kota ini bahkan digelar setiap hari, dengan pengumuman hasil lewat siaran Radio THR di Jalan Brigjen Katamso (dulu Jalan Kintelan).
Di sela lagu-lagu Langgam Jawa, penyiar THR menyelipkan suara yang paling ditunggu: “Nomor yang keluar hari ini adalah…”
LODA hanya empat angka, tapi pemain bisa memilih dua atau tiga angka saja. Hadiahnya? Dua angka menang dikalikan 40 kali lipat dari nilai taruhan. Tiga angka 200 kali. Empat angka? Lebih besar lagi.
Tak heran, setiap pengumuman disambut deg-degan dan teriakan lega—atau keluhan nasib sial.
Dari “Undian Harapan” ke SDSB
Setelah NALO dan LODA ditutup, muncul Undian Harapan. Sistemnya mirip: pembeli kupon resmi bisa memenangkan hadiah besar, dari tujuh angka hingga “hadiah kagetan” untuk tebakan empat, tiga, atau dua angka.
Namun, karena tidak ada versi daerahnya, penjual “buntutan” pun bermunculan di berbagai tempat—menjual harapan lewat angka.
Undian Harapan kemudian diganti dengan SDSB (Sumbangan Dermawan Sosial Berhadiah). Secara konsep tak jauh berbeda, hanya pengelolanya yang berganti.
Tak lama kemudian, muncul lagi Porkas. Katanya, singkatan dari forecast—ramalan hasil pertandingan sepak bola dunia.
Porkas mengklaim hasilnya untuk membantu pembiayaan olahraga nasional. Tapi, benar tidaknya, tak banyak yang tahu.
Berbeda dengan lotre sebelumnya, Porkas tidak menggunakan angka, melainkan huruf—dari A sampai N. Pemain bisa membeli kombinasi dua hingga enam huruf, berharap tebakannya cocok dengan hasil akhir pertandingan.
Ramalan, Dukun, dan Tafsir Mimpi
Kembali ke Jalan Senopati. Ramalan “buntut” tetap laris. Kerumunan orang berkumpul, menunggu giliran mendapat “bisikan angka keberuntungan”. Tapi di antara mereka, selalu ada yang nyeletuk,
“Kalau memang tembus, kenapa nggak dibeli sendiri aja? Udah kaya raya tuh!”
Pembicaraan tentang nomor buntutan memang jadi hiburan tersendiri. Di warung kopi, terminal, atau pasar, selalu ada yang membahas angka dan keberuntungan. Dari situ pula muncul banyak dukun angka—tempat orang “nenepi” atau mencari wisik lewat mimpi dan meditasi.
Pernah, iseng, kami berenam mendatangi seorang dukun. Datang bergantian, dua-dua. Hasilnya? Enam orang, enam nomor buntutan berbeda. Logikanya sederhana: dari seratus orang, pasti ada satu yang cocok—dan itu cukup untuk menjaga “mitos ketepatan” ramalan tetap hidup.
Fenomena ini bahkan melahirkan buku 1001 Tafsir Mimpi, serta rubrik ramalan angka di berbagai koran harian dan mingguan. Beberapa koran bahkan menampilkan gambar-gambar simbolik, dipercaya sebagai petunjuk angka jitu.
Namun, semua itu kini hanya tinggal cerita.
Dari Jalan Senopati ke Dunia Maya
Kini, tak ada lagi meja kecil di trotoar atau suara penyiar radio yang menyebut angka keberuntungan.
Namun, di balik layar ponsel dan situs-situs tersembunyi, “permainan keberuntungan” itu belum benar-benar hilang.
Namanya berganti: judi online.
Tak ada yang tahu pasti siapa yang menang, siapa yang kalah. Tapi satu hal pasti—keuntungan yang dihasilkan tetap luar biasa besar.
Dan kisah dari NALO ke SDSB hingga Porkas pun kini hanya menjadi potret masa, ketika angka-angka dianggap punya nasib, dan keberuntungan masih bisa dibeli di atas kertas kecil.











