Kemensos Gelar Wisuda Unik untuk KPM PKH DIY, Pakai Toga dan Terima ‘Ijazah’ Kehidupan
MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA – Sebanyak 1.000 keluarga penerima manfaat (KPM) Program Keluarga Harapan (PKH) dari lima kabupaten/kota di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) resmi “naik kelas” dan dinyatakan lulus dari program bantuan sosial. Kementerian Sosial Republik Indonesia menggelar prosesi wisuda graduasi di Gedung Grha Sabha Pramana, Universitas Gadjah Mada (UGM), Kamis (17/7), sebagai simbol keberhasilan para KPM dalam mencapai kemandirian ekonomi.
Acara bertajuk “Berani Graduasi, Siap Mewujudkan Generasi Emas” tersebut menghadirkan suasana layaknya kelulusan perguruan tinggi. Para KPM mengenakan toga dan menerima ijazah sebagai penanda mereka telah menyelesaikan “sekolah kehidupan” dan siap menjalani masa depan tanpa ketergantungan pada bantuan sosial.
Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau yang akrab disapa Gus Ipul, menyampaikan penghargaan kepada para KPM atas tekad mereka untuk hidup lebih mandiri. “Hari ini kami mewisuda, jadi seperti upacara graduasi. Mereka telah bisa melewati masa-masa yang bisa dikatakan menuju keluarga yang lebih berdaya. Selama ini mereka ada di program PKH atau Bansos Sembako,” tuturnya.
Lebih lanjut, Gus Ipul menegaskan bahwa Kementerian Sosial akan melakukan evaluasi berkala terhadap para penerima bansos setiap lima tahun sekali, untuk memastikan ketepatan sasaran dan mendorong kemandirian. Ia menyoroti masih adanya warga yang telah lebih dari 10 tahun berada dalam program bansos tanpa progres signifikan.
Ke depan, para KPM yang telah lulus dari program bansos akan diarahkan mengikuti program pemberdayaan ekonomi dari berbagai instansi, seperti Kementerian Koperasi dan UKM, serta pemerintah daerah. Harapannya, para lulusan PKH ini dapat terus melangkah maju, menciptakan peluang ekonomi yang berkelanjutan bagi keluarganya.
Sebagai bagian dari strategi jangka panjang dalam penanganan kemiskinan, Kemensos juga menjalin kerja sama dengan 16 perguruan tinggi di DIY, termasuk UGM. Penandatanganan kerja sama dilakukan langsung oleh Gus Ipul dan Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, M.Med.Ed., Sp.OG(K)., Ph.D., yang disaksikan oleh pimpinan perguruan tinggi lainnya.
Mensos menekankan pentingnya akurasi data penerima bansos. Ia mengungkapkan bahwa berdasarkan data Dewan Ekonomi Nasional, anggaran subsidi dan bantuan sosial pada tahun 2025 mencapai lebih dari Rp500 triliun. Namun, tidak sedikit bantuan tersebut yang tidak tepat sasaran. Untuk itu, pemerintah kini tengah mengonsolidasikan seluruh data penerima bantuan ke dalam Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional yang dikelola oleh BPS.
“Perintahnya jelas, tidak boleh ada kementerian, pemerintah daerah yang memiliki data sendiri-sendiri. Dalam rangka apa? Konsolidasi data, supaya data kita akurat sehingga nanti tepat sasaran,” jelas Gus Ipul. Ia menyebutkan bahwa konsolidasi ini merupakan amanat dari Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2020 dan akan menjadi tonggak penting dalam pemerintahan Presiden Prabowo.
Sementara itu, Direktur Jenderal Pemberdayaan Sosial Kemensos RI, Mira Riyati Kurniasih, menyebut kolaborasi dengan perguruan tinggi menjadi langkah strategis percepatan pengentasan kemiskinan. “Graduasi peserta Program Keluarga Harapan maupun Sembako adalah satu komitmen yang sangat penting yang menandai keberhasilan peserta dalam meningkatkan taraf hidupnya hingga dinyatakan mampu secara mandiri,” ujarnya.
Rektor UGM, Ova Emilia, menyampaikan apresiasi atas kepercayaan Kemensos kepada UGM sebagai tuan rumah acara wisuda KPM. Menurutnya, acara tersebut bukan sekadar seremoni, tetapi merupakan refleksi dari komitmen universitas dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat. “Perguruan tinggi dalam hal ini memiliki peran strategis untuk melakukan hilirisasi inovasi, teknologi, dan program-program pengentasan kemiskinan yang dibutuhkan masyarakat,” kata Ova.
Wisuda ini menjadi bukti nyata bahwa dengan pendampingan yang tepat dan semangat yang kuat, keluarga penerima manfaat dapat keluar dari ketergantungan bantuan sosial dan melangkah menuju kehidupan yang lebih sejahtera dan berdaya. Pemerintah pun menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat program pemberdayaan demi mewujudkan generasi emas Indonesia.











