Beranda Ekbis Pendapatan Telkom Menurun, Komisi VI Minta Evaluasi Strategi Bisnis dan Anak Perusahaan
Ekbis

Pendapatan Telkom Menurun, Komisi VI Minta Evaluasi Strategi Bisnis dan Anak Perusahaan

Gambar : Aktual

MAKRNEWS.ID – Komisi VI DPR RI menekankan pentingnya transformasi yang menyeluruh dalam tubuh PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (Telkom) agar tidak hanya bersifat kosmetik, melainkan mampu menjawab tantangan zaman serta mengukuhkan peran Telkom sebagai lokomotif digital Indonesia. Penegasan ini disampaikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama jajaran Direksi Telkom yang berlangsung pada 2 Juli 2025 lalu, dengan agenda evaluasi kinerja semester I tahun 2025 serta pemaparan roadmap pengembangan perusahaan.

Rapat tersebut juga menjadi ajang perkenalan antara Komisi VI dengan jajaran direksi baru yang dilantik dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) Telkom pada 27 Mei 2025.

Dalam paparannya, Direktur Utama Telkom, Dian Siswarini menyampaikan bahwa pendapatan konsolidasi Telkom pada kuartal I 2025 tercatat sebesar Rp 36,639 triliun, menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 37,429 triliun. Laba komprehensif juga mengalami penurunan dari Rp 7,939 triliun menjadi Rp 7,812 triliun.

“Porsi pendapatan terbesar berasal dari bisnis data, internet, dan IT sebesar 58,2%, namun ini juga menurun dari 60,2% pada tahun lalu. Sementara itu, IndiHome naik kontribusinya menjadi 18,2% dari sebelumnya 17,2%,” ujar Dian.

Dian menyoroti bahwa persaingan di sektor telekomunikasi semakin kompleks, khususnya dengan masifnya disrupsi dari layanan Over the Top (OTT). Meskipun IndiHome masih memimpin dengan 58,3% pangsa pasar di layanan broadband rumah, Telkomsel harus lebih waspada karena pangsa pasar layanan selulernya turun menjadi 50,7%.

Penurunan jumlah pelanggan aktif Telkomsel sebesar 578 ribu serta turunnya ARPU (Average Revenue Per User) sebesar 3,6% turut menjadi perhatian. Telkom juga mencatat belanja modal (Capex) sebesar Rp 5 triliun pada kuartal pertama atau sekitar 13,5% dari total pendapatan, dengan fokus utama pada pembangunan infrastruktur digital seperti jaringan serat optik, menara, satelit, dan kabel bawah laut.

Transformasi Telkom diarahkan untuk memperkuat tiga pilar utama bisnis digital melalui strategi Five Bold Moves, mencakup digital connectivity, digital platform, dan digital services. Namun, Dian menegaskan bahwa hal ini tidak cukup tanpa didukung tata kelola berintegritas.

“Telkom ingin menjadi penggerak ekosistem digital global melalui transformasi menjadi perusahaan digital telco, membangun organisasi dengan standar global, serta meningkatkan budaya layanan prima kepada semua pemangku kepentingan,” jelas Dian.

Namun, tantangan internal juga turut mengemuka. Dengan kepemilikan atas 13 entitas anak langsung dan 31 tidak langsung, Telkom dihadapkan pada kebutuhan rasionalisasi portofolio. Beberapa entitas seperti Telkom Akses, Telkom Infra, Telkomsat, dan PT Telkom Infrastruktur Indonesia (TIF) dinilai seharusnya disatukan dalam satu entitas bisnis InfraCo untuk meningkatkan efisiensi.

Ketua Komisi VI DPR RI Anggia Erma Rini menekankan bahwa transformasi Telkom tidak boleh hanya menjadi wacana tanpa realisasi konkret.

“Transformasi Telkom tidak boleh sekadar pemanis. Di tengah era 5G, AI, dan persaingan global yang sangat agresif, Telkom harus membangun model bisnis progresif agar bisa bersaing dengan raksasa teknologi asing,” tegas Anggia.

Ia juga membandingkan langkah agresif Indosat Ooredoo Hutchison (IOH) yang telah mendirikan AI Experience Center di Solo dan Jayapura serta meluncurkan berbagai inisiatif berbasis AI melalui anak usahanya, Lintasarta.

“Lintasarta bahkan sudah meluncurkan gerakan AI Merdeka dan program Laskar AI untuk pengembangan talenta lokal. Ini menjadi tantangan besar bagi Telkom agar tidak tertinggal dalam membangun ekosistem AI nasional,” sambungnya.

Lebih jauh, Anggia menekankan bahwa sebagai BUMN, Telkom harus mengedepankan pemerataan akses dan kedaulatan digital Indonesia.

“Telkom tidak hanya bicara profit. Tanggung jawab besar lainnya adalah soal perlindungan data pribadi, pemerataan layanan digital di wilayah 3T, serta integrasi layanan publik berbasis digital,” tutupnya.

RDP ini menjadi pengingat penting bagi Telkom bahwa transformasi bukan sekadar jargon, melainkan tuntutan nyata untuk menjawab dinamika industri telekomunikasi global dan membangun kedaulatan digital bangsa.

Sebelumnya

Festival Prambanan Jazz 2025, Sinergi Antara Musik, Seni, dan Alam di Candi Prambanan

Selanjutnya

UM CBT UGM 2025 Diikuti 34.627 Peserta, Disabilitas Dapat Fasilitas Khusus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement