Berita Utama

Manfaatkan A.I untuk Siaga Serangan Wabah, Peneliti UGM Bangun Sistem Deteksi Dini Berbasis Data

Yogyakarta(07/10/2026) — Penggunaan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) kian meluas di berbagai sektor, tak terkecuali kesehatan. Teknologi ini bukan sekadar dipakai untuk chatbot atau mencari informasi, melainkan juga bisa dimanfaatkan untuk mengolah data, menopang pengambilan keputusan, sampai membantu mendeteksi potensi wabah.

Anis Fuad, S.Ked., DEA.

Pernyataan itu disampaikan oleh Anis Fuad, S.Ked., DEA., peneliti Pusat Kedokteran Tropis (PKT) UGM, dalam podcast TropmedTalk yang tayang pada Rabu (7/10). Salah satu pemanfaatan AI yang tengah dikembangkan PKT UGM adalah riset AI for Pandemic Preparedness (AI4PEP), bagian dari riset global yang menelaah penggunaan AI untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman pandemi.

Dalam penelitian tersebut, para peneliti membangun platform ExplainDengue yang memadukan data riwayat dengue dari fasilitas kesehatan dengan data iklim, cuaca, dan curah hujan guna membantu memprediksi perubahan risiko dengue serta wilayah yang berpotensi mengalami kenaikan kasus. Menurut Anis, lonjakan kasus dengue bisa berkembang menjadi kejadian luar biasa (KLB) sampai membuat fasilitas kesehatan kewalahan.

“Kalau potensi peningkatan kasus bisa diketahui lebih awal, harapannya dampak tersebut dapat dihindari,” ujar Anis pada siaran podcast. Bukan hanya untuk dengue, tim tersebut juga mengeksplorasi pemanfaatan AI untuk menopang deteksi dini potensi wabah lewat pengolahan data rekam medis elektronik (RME) di instalasi gawat darurat.

Dengan memakai large language model (LLM), informasi soal keluhan utama dan riwayat pasien dianalisis untuk membantu mengenali pola sindrom yang berpotensi menjadi penanda awal KLB. “Harapannya, data ini dapat membantu dinas kesehatan meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi wabah sejak dini,” ujar Anis.

Akan tetapi, Anis menegaskan bahwa salah satu tantangan terbesar dalam pengembangan AI tidak berhenti pada kemampuan teknologinya. Sistem AI memerlukan data yang akurat, lengkap, konsisten, dan senantiasa diperbarui supaya dapat bekerja dengan baik. Selain kualitas data, teknologi yang sudah dikembangkan juga harus benar-benar dipakai dan terus memperoleh umpan balik.

Tanpa pemanfaatan berkelanjutan, inovasi berisiko hanya berhenti pada tahap uji coba atau fenomena yang ia sebut sebagai pilotitis. “Jadi hanya dipilot-pilotkan saja,” kelakar Anis.

Pemanfaatan AI dalam pelayanan kesehatan pun harus diiringi dengan tata kelola dan evaluasi yang memadai. Anis menjelaskan bahwa teknologi AI yang dikembangkan di luar negeri, meski punya tingkat akurasi tinggi, tidak bisa langsung diterapkan pada pasien di Indonesia.

Fasilitas kesehatan perlu memahami cara kerja teknologi, memastikan status dan regulasinya, mengetahui tata kelola  serta penyimpanan data, mempelajari hasil penggunaannya di tempat lain, dan menjalankan health technology assessment sebelum mengadopsinya.

Lebih jauh, Anis menekankan pentingnya keterlibatan manusia (human in the loop) dalam setiap tahap pemanfaatan AI, mulai dari level pengembangan, pengujian, hingga verifikasi hasilnya. Prinsip itu selaras dengan pedoman etika pemanfaatan AI dari Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang juga menekankan pentingnya perlindungan terhadap otonomi manusia.

Menurutnya, AI harus ditempatkan sebagai alat bantu yang dipakai dengan penuh tanggung jawab, bukan sebagai pengganti peran manusia atau hal yang memicu ketergantungan. “Gunakan AI secara bijak untuk kebutuhan yang benar-benar kita perlukan dan untuk menunjang aktivitas yang lebih bermanfaat bagi banyak pihak,” tutupnya.

Simak podcast selengkapnya di:
https://www.youtube.com/watch?v=5BGx7goAPpk

SON

Sebelumnya

Spesifikasi Xiaomi 17 Ultra, Kamera Leica 200MP, Baterai 6.000mAh hingga AI

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement