Beranda Berita Utama Pengamat : Saatnya Prabowo No Mic
Berita Utama

Pengamat : Saatnya Prabowo No Mic

Agung Marsudi, pengamat sosial, ekonomi dan politik dalam karikatur.

 

MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA – Pengamat sosial, ekonomi, dan politik Agung Marsudi menilai Presiden Prabowo Subianto perlu lebih berhati-hati dalam menyampaikan pidato di ruang publik. Menurut dia, gaya komunikasi seorang kepala negara memiliki pengaruh besar terhadap persepsi masyarakat dan kualitas ruang demokrasi.

Agung, yang juga penulis buku Chevronomics, menyebut munculnya istilah “Prabowo No Mic” sebagai simbol harapan agar Presiden lebih mengedepankan ketenangan dan kebijaksanaan dalam menyampaikan pesan kepada publik. Jauhkan dia dari mic (microphone), karena sering memberi pernyataan yang membuat geram masyarakat.

“Ini bukan soal kebijakan ekonomi atau Prabowonomics, melainkan harapan agar Presiden lebih mengutamakan substansi dibanding retorika yang berapi-api,” kata Agung dalam keterangan tertulis yang diterima, Jumat (31/7).

Menurut Agung, di tengah derasnya arus informasi dan tingginya polarisasi di media sosial, masyarakat membutuhkan komunikasi politik yang lebih menyejukkan. Ia menilai seorang presiden tidak hanya dituntut mengambil keputusan, tetapi juga menjaga pilihan kata karena setiap pernyataan memiliki dampak yang luas.

Agung mengakui Prabowo memiliki rekam jejak sebagai prajurit yang nasionalis dan mencintai Indonesia. Namun, ia menilai sejumlah ungkapan yang pernah terlontar dalam pidato Presiden, seperti “ndasmu”, “bajingan”, “brengsek”, hingga “londo ireng”, telah menjadi perhatian publik dan memunculkan beragam respons di masyarakat.

“Setiap ucapan presiden memiliki daya sebar yang sangat besar. Dalam era digital, satu kalimat bisa menjadi bahan diskusi, meme, bahkan membentuk persepsi publik dalam waktu singkat,” ujarnya.

Karena itu, Agung berharap komunikasi politik Presiden ke depan lebih mengedepankan keteduhan, kearifan, dan semangat persatuan yang sejalan dengan nilai-nilai Pancasila. Menurut dia, kewibawaan seorang pemimpin tidak selalu ditunjukkan melalui retorika yang keras, melainkan juga melalui sikap, keputusan, dan ketenangan dalam berbicara.

Ia menambahkan, masyarakat pada dasarnya menginginkan pemimpin yang mampu menghadirkan rasa tenang di tengah situasi politik dan sosial yang dinamis. “Ketegasan tidak selalu harus disampaikan dengan suara keras. Kewibawaan justru lahir dari kebijaksanaan dan kemampuan menjaga tutur kata,” kata Agung.

 

Sebelumnya

34,9 Persen Remaja Indonesia Pernah Hadapi Masalah Kesehatan Mental, Ini Penjelasan UGM

Selanjutnya

Angkasa Pura Indonesia Gandeng BNN DIY Perkuat Edukasi Antinarkoba bagi Pelajar Kulon Progo

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement