Beranda Berita Utama Intercom, Jaringan Komunikasi yang Meluas
Berita Utama

Intercom, Jaringan Komunikasi yang Meluas

Oleh: Agus U, Jurnalis

Marknews.id – INTERCOM sebenarnya merupakan alat komunikasi audio seperti telepon, namun hanya digunakan untuk antar ruangan atau antar kamar. Namun, berbeda dengan yang terjadi pada awal 1990-an lalu.

Banyak toko elektronika di Yogyakarta yang menjual alat komunikasi yang disebut intercom ini dengan harga yang relatif murah, berkisar antara Rp25 ribu hingga Rp50 ribu. Yang membedakan adalah power output pada peralatan tersebut.

Jadi, jangan membayangkan intercom ini sebagai peralatan yang mahal dan penuh dengan sentuhan rancang bentuk yang indah. Intercom yang beredar di kalangan warga ini hanyalah kotak dengan chassis pelat bercat warna hitam, dilengkapi dengan tombol untuk bicara, lampu LED yang menandakan adanya sinyal masuk, serta socket untuk menyambung ke jaringan.

Peralatan dengan catu daya 12 volt DC ini dihubungkan dengan peralatan lainnya menggunakan jaringan kabel atau kawat yang biasanya memakai kawat bendrat atau kawat pengikat besi tulangan beton.

Mula-mula, jaringan ini hanya antar rumah dalam satu RT, kemudian berkembang dengan jaringan yang terhubung dengan jaringan RT lainnya. Bahkan, tercatat dari Condongcatur jaringan ini pernah meluas hingga tersambung dengan kawasan di Prambanan, Cangkringan, Ngemplak, Turi, Tempel, Minggir, bahkan Kalibawang di Kulon Progo dan Kota Yogyakarta.

Bayangkan betapa riuhnya suara yang muncul dalam satu jaringan yang tersambung. Karena itu, biasanya ada jaringan internal yang hanya tersambung dengan kawasan se-RT dan ada yang tersambung luas dengan wilayah lain.

Karena itu, biasanya kemudian ada orang yang bertindak sebagai pengatur atau moderator komunikasi. Mirip dengan pada radio komunikasi lainnya, peran ini juga disebut NC (Nett Control).

Jaringan komunikasi semacam ini sangat ramai, tidak hanya pada malam hari, tetapi hampir 24 jam selalu ada yang sedang berkomunikasi. Obrolannya macam-macam, mulai dari senda gurau hingga informasi penting. Bahkan, razia kendaraan bermotor pun selalu diudarakan, di mana sedang berlangsung, di mana adanya penjagaan, serta lewat mana untuk menghindarinya.

Bahasa awal yang digunakan mirip dengan orang berkomunikasi menggunakan radio, baik RAPI maupun ORARI, dan bercampur pula dengan gaya-gaya lain. Para pengguna juga menggunakan alfabet NATO maupun versi lokal untuk mengeja huruf, atau istilah 10-1 untuk mengatakan penerimaan buruk, 51 untuk mengatakan salam, YL untuk menyebut wanita, dan istilah lainnya.

Penggunanya? Yang pada awalnya hanya digunakan oleh kalangan remaja, akhirnya berkembang dengan pengguna yang lebih beragam. Tak jarang peralatan ini dipasang pula di pos-pos ronda atau pos kamling sehingga dapat saling menginformasikan ketika terjadi sesuatu kedaruratan.

Namun, akhirnya peralatan komunikasi ini berangsur-angsur ditinggalkan dan sebagian penggunanya bergabung dengan jaringan komunikasi radio yang formal, sedangkan sebagian lainnya tidak.

Intercom yang pernah membuka jaringan yang luas dan merakyat pun akhirnya redup. Kawat bendrat yang semula membentang antar rumah, antar desa, dan antar kecamatan pun akhirnya hilang. Komunikasi dengan orang lain kini cukuplah dengan hape. (***)

Sebelumnya

Kia Siap Ramaikan GIIAS 2026, Umumkan Harga All-New Seltos hingga Hadirkan Dua Mobil Elektrifikasi Baru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement