Beranda Berita Utama Mila Arlinda Ubah Stigma Peternakan, Bangun Bisnis Kambing-Domba Modern Beromzet Ratusan Juta di Tuban
Berita Utama

Mila Arlinda Ubah Stigma Peternakan, Bangun Bisnis Kambing-Domba Modern Beromzet Ratusan Juta di Tuban

Marknews.id – Dunia peternakan kerap dipandang sebagai sektor tradisional yang identik dengan pekerjaan laki-laki. Namun anggapan tersebut berhasil dipatahkan oleh Mila Arlinda, peternak muda asal Desa Kebonagung, Kecamatan Rengel, Kabupaten Tuban, yang sukses membangun usaha peternakan modern berbasis ilmu pengetahuan dan pemberdayaan masyarakat.

Lulusan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) tahun 2020 itu kini mengelola Kerabat Ternak 1-3 bersama suaminya, Sahroni. Usaha yang mereka rintis berkembang menjadi bisnis terintegrasi yang mencakup penggemukan ternak, pembibitan, peternakan perah, hingga penyediaan sarana produksi peternakan (sapronak).

Di usia yang belum genap 28 tahun, Mila berhasil menunjukkan bahwa sektor peternakan mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar.

Perjalanan Mila menuju dunia peternakan tidak dimulai setelah lulus kuliah. Ketertarikan terhadap kambing dan domba justru tumbuh sejak masa remaja. Saat masih duduk di bangku kelas 2 SMA pada 2014, ia telah memelihara lima ekor domba sebagai langkah awal mengenal dunia peternakan secara langsung.

Pilihan untuk melanjutkan pendidikan di Fakultas Peternakan sempat menimbulkan keraguan di lingkungan keluarga. Namun Mila tetap mantap menekuni bidang yang menjadi minatnya sejak kecil.

“Dulu keluarga sempat ragu ketika saya memilih kuliah peternakan,” kenang Mila saat ditemui di kandang Kerabat Ternak, Tuban.

Keraguan tersebut justru menjadi motivasi baginya untuk membuktikan bahwa peternakan memiliki prospek besar apabila dikelola dengan pendekatan yang tepat.

Setelah menyelesaikan pendidikan di UGM pada 2020, Mila memutuskan fokus mengembangkan usaha peternakan. Berbekal ilmu akademik dan pengalaman lapangan yang diperoleh selama kuliah, ia menerapkan berbagai prinsip manajemen modern dalam pengelolaan ternaknya.

“Di Fapet UGM kami diajarkan bukan hanya teori, tetapi juga praktik dan pengalaman lapangan. Itu yang sangat membantu ketika benar-benar terjun ke dunia usaha,” ujarnya.

Menurut Mila, keberhasilan usaha peternakan tidak hanya ditentukan oleh pengetahuan di ruang kelas. Pengalaman langsung di lapangan menjadi faktor penting untuk memahami karakter ternak dan dinamika usaha.

“Teori itu penting, tapi tidak cukup. Harus turun langsung ke lapangan,” katanya.

Dalam membangun usaha, Mila juga menghadapi berbagai tantangan. Kematian ternak pernah menjadi pengalaman yang tidak mudah dilalui. Namun setiap kejadian selalu dijadikan bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas pengelolaan peternakan.

Melalui proses tersebut, ia semakin memahami berbagai aspek kesehatan ternak, termasuk penanganan penyakit yang umum menyerang kambing dan domba seperti pneumonia akibat perubahan cuaca maupun infeksi lainnya.

Berbeda dengan sebagian peternak yang berfokus meningkatkan jumlah populasi, Mila memilih strategi mengutamakan kualitas ternak dan perbaikan genetika. Pendekatan ini membuat produk ternaknya memiliki nilai jual yang lebih tinggi di pasaran.

Saat ini, kambing unggulan yang dipelihara Kerabat Ternak dapat dijual dengan harga Rp16 juta hingga Rp23 juta per ekor. Sementara kambing lokal dipasarkan pada kisaran Rp3 juta hingga Rp5 juta per ekor.

Untuk menjaga kualitas ternak, pengelolaan pakan dilakukan secara serius. Mila menyiapkan lahan hijauan pakan ternak seluas sekitar 1,5 hektare yang didukung pakan tambahan seperti ampas tahu dan kangkung kering guna memenuhi kebutuhan nutrisi hewan ternak.

Pendekatan modern tersebut turut mendorong pertumbuhan bisnis Kerabat Ternak. Selain melayani kebutuhan kurban dan aqiqah, usaha ini juga mengembangkan penjualan berbagai produk pendukung peternakan seperti susu cempe, vitamin, serta peralatan peternakan.

Momentum Iduladha menjadi periode dengan aktivitas penjualan tertinggi. Dalam dua bulan menjelang musim kurban tahun 2024, omzet usaha disebut mencapai Rp500 juta hingga Rp700 juta. Sementara di luar musim kurban, usaha aqiqah, penjualan bibit ternak, susu, dan sapronak mampu menghasilkan perputaran sekitar Rp50 juta per bulan, ditambah pendapatan dari bisnis sarana produksi peternakan sekitar Rp75 juta.

Jangkauan pasar Kerabat Ternak kini tidak hanya terbatas di Tuban, tetapi juga meluas ke Lamongan, Bojonegoro, dan sejumlah wilayah lain di Jawa Timur.

Tidak hanya fokus pada pengembangan bisnis, Mila juga aktif membangun edukasi peternakan melalui media sosial sejak 2023. Berbagai konten yang dibagikannya menjadi sarana berbagi pengetahuan sekaligus memperkenalkan konsep peternakan modern kepada masyarakat luas.

Kehadiran Kerabat Ternak juga mulai memberikan dampak sosial bagi lingkungan sekitar. Selain mempekerjakan karyawan, Mila bersama suaminya membangun kelompok ternak yang bertujuan meningkatkan kapasitas peternak lokal.

Salah satu manfaatnya dirasakan oleh Erma, anggota kelompok ternak binaan Kerabat Ternak. Ia mengaku terbantu dalam pemasaran hasil ternaknya, khususnya susu kambing.

“Saya jadi tidak bingung soal penjualan susu. Selain itu juga bisa belajar banyak di kelompok ternak dan di Kerabat Ternak,” ujarnya.

Peran edukatif Kerabat Ternak juga dirasakan kalangan pelajar. Agung Setiawan, siswa praktik kerja lapangan (PKL) dari SMK Negeri 4 Bojonegoro, mengaku memperoleh banyak pengalaman selama belajar di peternakan tersebut.

“Banyak ilmu yang saya peroleh selama PKL di sini,” katanya.

Bagi Mila, keberhasilan usaha tidak hanya diukur dari besarnya keuntungan yang diperoleh. Ia meyakini peternakan dapat menjadi sarana belajar, pemberdayaan ekonomi, sekaligus sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat.

Perjalanan yang dimulai dari lima ekor domba saat masih duduk di bangku SMA kini telah berkembang menjadi usaha peternakan modern dengan jaringan pemasaran yang luas. Kisah Mila menunjukkan bahwa sektor peternakan memiliki potensi besar bagi generasi muda, termasuk perempuan, selama dikelola dengan pengetahuan, inovasi, dan kemauan untuk terus belajar.

Di tengah berbagai tantangan yang ada, Mila berhasil membuktikan bahwa peternakan bukan sekadar pekerjaan tradisional, melainkan sektor usaha yang mampu menciptakan kesejahteraan sekaligus memberikan dampak positif bagi lingkungan sosial di sekitarnya.

Sebelumnya

Jenang Gempol Tetap Digemari, Kuliner Lawas Yogyakarta Ini Jadi Incaran Pengunjung Pasar Kangen 2026

Selanjutnya

Liburan Sekolah Dongkrak Mobilitas Penumpang, KAI Daop 6 Hadirkan Hiburan Anak dan Tambah Perjalanan Kereta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement