Cukur – Haute Couture – Barbershop
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – Seorang pensiunan KNIL (Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) yang sudah berusia lanjut, pada era 1970–1980-an berkeliling membawa kursi lipat dan kotak kayu yang sudah dekil. Ia sering mengenakan celana khaki dipadu dengan pecis mutz list keperakan. Setiap hari ia menyusuri kampung, mulai dari Sonopakis di Kalurahan Ngestiharjo hingga Bugisan, Patangpuluhan, Sindurejan, Ketanggungan, Wirobrajan bahkan sampai Singosaren.
Tidak ada teriakan untuk menjajakan dagangan, namun warga tahu bahwa Pak Bejo, orang Sonosewu ini, berkeliling menawarkan jasa potong rambut atau cukur. Ia memang pensiunan KNIL. Ceritanya, pada awal perang kemerdekaan, Pak Bejo tidak mau bergabung dengan BKR dan memilih melanjutkan tugasnya sebagai tentara KNIL di Korps Zeni (Genie). Hingga perang kemerdekaan berakhir, ia dipensiunkan oleh Markas Besar Tentara Belanda dengan pangkat terakhir sersan. Alasannya bukan karena tidak cinta tanah air, tetapi karena desakan kebutuhan. Ia menjadi tulang punggung perekonomian keluarga besar, tidak hanya keluarga inti tetapi juga kerabat lainnya.
Setelah pensiun, ia sempat mencari berbagai pekerjaan. Namun karena usia semakin menua, ia kemudian memilih menjadi tukang cukur keliling. Peralatannya sama seperti tukang cukur pada umumnya: barbir atau alat potong rambut, sisir, semprotan air, sabun, gondel atau pisau cukur, serta bekas sabuk kulit yang digunakan untuk mengasah gondel.
Kala itu, pekerjaan sebagai tukang cukur tidak cukup bergengsi sehingga tidak banyak yang menekuninya. Tukang cukur pada masa itu, seperti Pak Amat Praitum dan Pak Brahim yang membuka usaha di Jalan S Parman, menjalankan usaha dengan sederhana. Sedangkan tukang cukur besar yang menggunakan kursi naik-turun, sandaran yang bisa diobohkan, serta fasilitas lain yang disebut sebagai haute couture, jumlahnya sangat sedikit. Hanya ada satu di Jalan Malioboro, tepat di depan Gedung DPRD DIY (yang kini sudah tidak ada).
Tukang cukur biasa cukup banyak jumlahnya, bahkan di pojok Alun-Alun Utara depan PDHI ada dua atau tiga tukang cukur yang pada waktu itu disebut “DPR” — Di bawah Pohon Rindang. Sama seperti Pak Bejo, peralatannya serba kuno. Jika terlambat mengasah barber, rambut akan terasa “njenggit”, dan ketika gondel telat diasah, kulit kepala terasa perih saat dikerik.
Para tukang cukur ini kemudian banyak ditinggalkan. Kalangan muda lebih memilih memangkas rambut di salon. Menjelang tahun 1990-an, tidak banyak salon yang memiliki layanan lengkap dan bahkan muncul istilah STG (Salon Tanpa Gunting).
Meski biayanya lebih mahal, layanan di salon lebih menyenangkan. Ada keramas, pijat kepala, pemberian tonik rambut, hingga minuman ringan atau sirup setelah selesai cukur. Kebanyakan pencukurnya adalah perempuan yang beraroma wangi, semakin menjadi daya tarik bagi kalangan muda. Namun kemudian, sebagian salon tercemar oleh praktik layanan mesum.
Di tengah keriuhan itu, muncul bisnis baru: barbershop. Konsepnya satu ruangan dengan empat atau lima kursi cukur, melanjutkan model Potong Rambut Gumbira yang ada di Jalan Solo. Barbershop yang terus bermunculan dengan segala keramahan layanannya akhirnya menggusur tukang cukur lama.
Salah satu penanda barbershop, seperti di Eropa, adalah lampu bergaris merah, biru, dan putih yang dipasang di luar. Barbershop berkembang menjadi bisnis kalangan muda, memberikan layanan yang baik, dan bebas dari kekhawatiran akan praktik permesuman. (***)









