Beranda Opini Maxride di Jogja Seperti Pacar Bisa Dikenalkan ke Teman, Tapi Tidak Ke Orangtua
Opini

Maxride di Jogja Seperti Pacar Bisa Dikenalkan ke Teman, Tapi Tidak Ke Orangtua

Maxride

Marknews.id – Di Yogyakarta, urusan transportasi ternyata bisa lebih ruwet daripada hubungan asmara mahasiswa perantau. Begitu pula cerita tentang Maxride, si kendaraan roda tiga bermotor yang datang penuh percaya diri, berharap bisa beroperasi layaknya tuk-tuk Bangkok atau bajaj oranye kebanggaan ibu kota. Namun apa daya—di Jogja, nasibnya justru mirip tamu kondangan yang datang tanpa undangan, dilihat boleh… masuk belum tentu.

Bajaj Bukan Budaya, Tapi Gengsi Kota Berbudaya

Maxride datang membawa harapan: cepat, simpel, dan cocok untuk jarak menengah. “Kan orang sekarang maunya yang praktis,” begitu kira-kira bisikan hati penggunanya. Tapi Yogyakarta punya satu prinsip: semua yang beroda tiga tidak otomatis dianggap saudara.

“Ini bukan Jakarta,” kata seorang pejabat, ini dalam imajinasi kita.
Di Jakarta, bajaj adalah nostalgia. Di Jogja? Ya nostalgia juga—nostalgia betapa kita nggak pernah punya bajaj.

Jogja bangga pada becak dan andong. Becak itu tradisi. Bentor dilarang karena mengacaukan estetika. Lalu muncullah becak listrik: modern tapi tetap “ndesani”. Sementara Maxride… tidak punya akar budaya. Bukan becak. Bukan andong. Bukan juga sepeda listrik yang bisa melenggang manis di Malioboro. Secara budaya, Maxride di Jogja itu seperti bawa sate padang ke rumah makan gudeg. Enak, tapi nggak nyambung.

Alasan Resmi Pemerintah: Regulasi, Ruang Jalan, dan Kecemburuan Moda

Pemerintah Kota Yogyakarta menolak Maxride dengan alasan-alasan yang cukup formal (dan kalau dibaca sambil ngantuk, bisa bikin tidur lebih pulas):

  1. Tidak ada dasar hukum
    UU transportasi tidak menyebut angkutan roda tiga bermotor sebagai moda resmi di kota.
    Di Jogja, yang sah itu bus, taksi, ojek online, dan becak (dengan syarat tertentu).
    Maxride? “Silakan mendaftar kategori yang belum diatur.”
  2. Soal keselamatan
    Bajaj memang stabil, tapi ya tetap saja roda tiga. Bagi pemerintah, ini mirip mengizinkan mahasiswa naik sepeda unicycle ke kampus. Bisa, tapi… jangan-jangan bikin masalah.
  3. Perlindungan moda tradisional
    Becak adalah ikon. Andong adalah simbol.
    Maxride dianggap berpotensi mencuri spotlight.
    “Wisatawan nanti lebih pilih naik yang cepat,” begitu kekhawatiran tersirat.
    Drama kecemburuan moda pun terjadi.

Tapi Sebenarnya… Fungsinya Beda Jauh

Padahal kalau dilihat-lihat, becak listrik itu cocoknya untuk wisata pelan-pelan. Becak kayuh cocok untuk rute pendek dan romantis. Andong buat vibe kerajaan.
Sementara Maxride?
Ya untuk hidup praktis: jarak 1–7 km, cepat, ringkas, hemat, dan naik turunnya tidak serumit angkot.

Ini seperti membandingkan sandal jepit, sepatu pantofel, dan sepatu lari. Semua punya fungsi, tidak perlu rebutan kelas.

Solusi? Bisa, Jogja Fleksibel Asal Jangan Merusak Estetika

Sebenarnya Maxride bisa saja diterima, asal tahu diri—dan mau mengikuti aturan main Yogyakarta, kota yang rapi tapi suka drama.

  1. Bikin kategori baru: Angkutan Lingkungan Bermotor
    Bayangkan sebuah perda:
    “Maxride boleh beroperasi, tapi kecepatannya dibatasi dan area tertentu dilarang.”
    Simple, elegan, dan tetap sopan.
  2. Pemisahan wilayah operasi
    • Becak: Malioboro dan wisata pusat kota.
    • Becak listrik: rute menengah dengan gaya masa depan.
    • Maxride: pemukiman, jalan pinggir kota, kampus, dan rute-rute yang tidak disentuh becak.
      Semua bahagia, semua dapat panggung.
  3. Janji manis: Konversi ke listrik
    Kalau mau benar-benar curi hati Pemkot, Maxride tinggal berjanji:
    “Tahun depan kami jadi listrik.”
    Jogja suka yang ramah lingkungan.
  4. Kerjasama resmi dengan Trans Jogja atau kampus
    Kalau pemerintah melihat manfaatnya, drama bisa langsung berubah jadi sinetron happy ending.

Yogyakarta, Kota yang Lebih Nyeni daripada Logis

Pada akhirnya, permasalahan Maxride ini bukan sekadar soal roda tiga. Ini soal identitas, estetika kota, kebijakan transportasi, dan sedikit bumbu cemburu antar moda.

Jogja ingin menjaga wajahnya tetap klasik, tapi warga juga berharap mobilitas tetap praktis.
Di tengah itu, Maxride berdiri dengan gagah, berharap suatu hari bisa mendapat izin.

Sampai hari itu tiba, Maxride mungkin akan tetap jadi legenda urban.
Kendaraan yang boleh lewat, tapi belum boleh resmi beroperasi. Seperti pacar yang dikenalkan ke teman, tapi belum boleh dikenalkan ke orang tua.


Sebelumnya

Mendekati Peluncuran, Bocoran Baru Poco F8 Series Tampilkan Kolaborasi Audio Premium

Selanjutnya

Tegesan Ketika Puntung Rokok Lebih Dicintai daripada Mantan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement