Kampanye Budaya Membaca Ala Kedai Kopi
MARKNEWS.ID, SLEMAN — Di sebuah sudut di Timur Stadion Maguwoharjo, tepatnya di Kelurahan Wedomartani, Ngemplak, Sleman, sebuah ekosistem literasi sedang dirawat. Dana Gumilar, alumnus Fakultas Pertanian Instiper Yogyakarta, membangun Berdikari Book & Coffee bukan hanya sebagai tempat transaksi, melainkan ruang perlawanan terhadap pendangkalan makna bacaan.
Perjalanan toko buku ini bermula dari kamar kos pada 2014, di mana Dana memulai segalanya dari atas kasur. Tanpa latar belakang pendidikan bisnis, ia memanfaatkan media sosial untuk memasarkan buku-buku filsafat dan sosial yang saat itu dianggap sepi peminat. Kini, tempat tersebut bertransformasi menjadi ruang diskusi yang menggabungkan perpustakaan dengan kedai kopi.
“Berdikari digawangi oleh para pembaca. Kami sadar betul apa yang ditulis Albert Camus: bayangkan Sisyphus bahagia. Kami hidup dari ide-ide itu. Ciptakan pasar sendiri. Merdekalah mereka yang bisa menari dalam pasungan,” ujar Dana Gumilar saat ditemui di lokasinya.
Menurut Dana, kampanye Sandang, Pangan, Bacaan adalah harga mati untuk mengejar ketertinggalan literasi di Indonesia. Ia menilai posisi buku harus setara dengan kebutuhan pokok lainnya agar tradisi membaca bisa mengakar kuat. Baginya, membaca adalah kerja kebudayaan yang harus berdampak pada tindakan nyata atau praksis.
Ia juga menyoroti rusaknya ekosistem perbukuan akibat maraknya buku bajakan yang masih menghantui industri nasional. Dana mengibaratkan kondisi literasi saat ini seperti menanam di tanah yang gersang. Meski secara hitung-hitungan dagang murni sangat berat, ia memilih bertahan karena dorongan ideologi dan keberpihakan pada gagasan.
Dana secara konsisten menulis resensi hampir setiap hari untuk melawan anggapan bahwa budaya ulasan buku telah mati. Ia terinspirasi oleh media luar negeri seperti The Guardian yang menjadikan buku sebagai alat untuk membedah berbagai fenomena sosial secara serius. Hal inilah yang berusaha ia adaptasi melalui narasi di media sosial Berdikari.
Pilihan platform digital pun dilakukan secara selektif untuk menjaga kualitas diskursus. Dana memilih fokus pada Instagram dan Facebook daripada TikTok yang dianggapnya lebih mengutamakan konten sensasional. Ia ingin membangun kesadaran pembaca secara perlahan namun mendalam, bukan sekadar mengikuti algoritma yang riuh. Di kedai kopinya itu jelas, ia menyediakan perpustakaan dengan ratusan judul buku, baik buku untuk anak-anak hingga orang dewasa.
Mengenai minimnya penulis yang mampu menggedor kesadaran publik, Dana melihat adanya mata rantai yang hilang setelah era Pramoedya Ananta Toer. Ia berpendapat, sebenarnya Indonesia tidak kekurangan penulis, tetapi kekurangan karya yang mampu menghidupkan jiwa-jiwa yang mati. Hal ini diperparah oleh minimnya dukungan negara terhadap kesejahteraan penulis.
“Di industri musik muncul pertanyaan, jadi penyanyi nanti hidup dari mana? Di dunia buku lebih mengerikan lagi, jadi penulis mau hidup dari mana? Selama ekosistemnya tidak sehat, pertanyaan itu akan selalu menjadi pertanyaan retoris,” ungkap alumnus Instiper Yogyakarta tersebut.
Meski sempat mencoba peruntungan di bisnis lain seperti jualan jersi bola dan gagal, Dana memilih kembali fokus sepenuhnya pada buku. Konsistensi ini membuahkan hasil berupa kepercayaan pembaca yang sering meminta rekomendasi bacaan daripada sekadar menanyakan stok. Baginya, apresiasi semacam itu jauh lebih berharga daripada transaksi biasa.
Di tengah situasi ekonomi yang tidak menentu, Berdikari tetap beroperasi dengan semangat eksperimental. Dana tidak ingin melebar ke banyak lini usaha yang tidak relevan dengan visi awalnya. Ia memilih untuk menekuni satu bidang namun merajut banyak gagasan besar di dalamnya untuk menemani para pembaca.
Dana berharap buku benar-benar menjadi perkakas untuk membaca zaman, bukan hanya menjadi komoditas hiburan sesaat. Ia ingin setiap orang yang membaca buku menggunakan kepala dan pikiran mereka agar bacaan tersebut memantul menjadi sebuah pemahaman. Itulah misi utama yang terus ia tanamkan melalui narasi-narasi di media sosialnya.
Perlawanan terhadap tanah gersang literasi itu terus berlanjut. Dari pinggiran Sleman, Dana Gumilar membuktikan bahwa konsistensi dan keberpihakan pada gagasan mampu menghidupkan kembali nyawa buku di tengah masyarakat yang kian pragmatis.
Salah satu pengunjung kedai plus perpustakaan, M. Fatchurrohman, sangat mengapresiasi adanya kedai kopi yang menjunjung nilai membaca buku. Karena perpustakaan besar seolah kurang peminat kecuali orang yang benar-benar mencari data untuk kepentingan akademis.
“Ini berbeda-beda, suasana membaca buku sambil menyeruput kopi, pikiran jadi plong. Budaya membaca buku harus selalu dikampanyekan,” kata dia.
Ia berharap akan banyak para pegiat membaca buku di kalangan masyarakat. Membaca buku yang dikemas dalam suasana rileks dan menyenangkan menjadi salah satu hal yang menarik untuk meningkatkan gairah membaca.











