Ternyata Carik itu bukan Sekretaris Desa
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – DI INDONESIA pernah mengangkat seluruh Carik Desa menjadi PNS dengan sebutan mereka sebagai Sekretaris Desa.
Pada masa 1990-an hingga 2000-an, di Pemerintah Desa (Pemdes), berkedudukan tertinggi adalah Kepala Desa (Lurah), kemudian di bawahnya ada Sekretaris Desa yang bertugas sebagai pimpinan administrasi, membantu ketatausahaan, keuangan dan administrasi. Kemudian dibantu oleh Kepala Urusan atau Kaur dan Kepala Seksi atau Kasi. Dan kemudian di tingkat Dusun ada Kepala Dusun.
Namun kemudian guna meneguhkan keistimewaan Pemda DIY mengembalikan pada sebutan jabatan lama, yakni Lurah, Kamituwa, Carik, Ulu Ulu, Jaga Baya, Kaum dan sebagainya. Di bawahnya sistem kemasyarakatan terkecilnya ada Dukuh.
Jika mengacu pada Maklumat nomor 16/1969 maka susunan pemerintahan di desa-des di DIY, tertinggi adalah Lurah yang memimpin dan membimbing kepala-kepala bagian agar menjalankan fungsinya dengan baik.
Kemudian Kamituwa selain mengkoordinasi tugas-tugas sosial juga mewakili Lurah jika Lurah berhalangan. Ulu Ulu bertugas mengurusi bidang pengairan, cocok tanam dan lainnya, Kaum mengurusi soal agama, Jagabaya urusannya keamanan.
Lalu Carik? Ternyata Carik bukanlah sekretaris desa. Dalam ketentuan tersebut Carik mengurusi tugas-tugas administrasi.
Memang ada perbedaan dengan yang ada di Kotagede. Kalurahan-kalurahan di Kotagede (Sayangan, Basen, Prenggan dan Jagalan — kala itu masuk Kabupaten Bantul yang kalau sekarang adalah Kalurahan Jagalan dan Singosaren).
Dahulu sekali pada masa penjajahan Jepang dan awal republik, para Lurah di Kotagede ini tidak mendapatkan tanah pelungguh atau bengkok tetapi gaji berupa uang. (Dahulu pula penulisan gaji, adalah gajih).
Masa lalu pula, Kelurahan di Kotagede ini disebut sebagai daerah Kepatuhan yang dipimpin oleh seorang Patuh yang dibantu oleh Bekel dan Bekel Anom.
Di atas para Patuh ini ada jabatan Ronggo yang setara dengan Mantri atau Asisten Wedana.
Namun perubahan-perubahan pun terjadi, hingga seperti sekarang.
Oh iya, pada masa penjajahan Jepang Kelurahan Sayangan masuk di Rukun Kampung Alun-alun. (****)











