Kelindhon
Oleh: Agus U, jurnalis
Marknews.id – GEMPA BUMI atau dalam Bahasa Jawa disebut dengan LINDHU oleh masyarakat Jawa masa lalu terjadi karena makhluk mistis yang disebut Bedawangnala yang berupa kura-kura dan dililit oleh dua naga raksasa, Anantaboga dan Basuki, menggeliat atau bergerak karena merasa terganggu oleh sesuatu. Akibatnya bumi ikut bergerak atau menyebabkan terjadinya gempa bumi.
Lindhu ini oleh pemahaman lama selain sering diartikan sebagai pertanda kemarahan dewa, juga sering pula dimaknai sebagai pertanda akan terjadinya perubahan kekuasaan atau perubahan kekuasaan. Perubahan kekuasaan di mana? Tak ada penjelasan rinci.
Bagi masyarakat Jawa, lindhu juga akan menyebabkan hal yang tidak baik bagi perempuan yang sedang hamil. Setidaknya anak yang dikandung, ketika tumbuh menjadi anak hingga remaja bahkam mungkin hingga dewasa akan terkena “semacam kutukan” yang disebut kelindhon.
Anak yang saat dalam kandungan ibunya mengalam peristiwa gempa bumi atau lindhu, bocah kelindhon sepanjang masa anak-anak hingga remaja, akan sering terjatuh. Bukan kecelakaan terjatuh dari kendaraan atau kuda (transportasi masa lalu) tetapi terjatuh saat berjalan, berlari atau naik turun tangga rumah (undhak-undhakan).
Menurut kepecayaan masa lalu yang mungkin masih diyakini oleh sebagian orang tua hingga era 1970-an, bocah kelindhon ini jatuhnya tidak fatal. Namun sering sehingga sering menjadi objek “nyek-nyekan” atau kalau sekarang mungkin masuk kategori bullying.
Namun, kondisi kelindhon ini bisa dicegah dengan 3 langkah.
Pertama, saat terjadi gempa bumi atau lindhu, si ibu hamil tidak panik dan berpegang pada sesuatu yang kuat, berjalan ke luar rumah — merambat sambil menggumam “kukuh bakuh-kukuh bakuh-kukuh bakuh” disetiap langkah hingga lindhu berhenti.
Kedua, diambilkan/keluar membawa bantal sendiri dan kemudian setelah di luar dan lindhu berhenti, memukulkan bantalnya itu ke pohon yang kuat yang terbesar di dekatnya, 3, 5, 7 atau 11 kali sambil membatinkan doa agar anak dan ibu terlindungi dari dampak gempa.
Ketiga suami atau kalau tidak ada, wanita tertua yang ada di dekatnya (terutama yang masih keluarga besar) mengambil abu dari keren (tungku kayu) atau luweng (tungku kayu dengan beberapa lubang api) dan kemudian abu tersebut dioleskan di bagian pusar (wudel) perempuan hamil (tentunya dengan sikap menjaga kehormatan dan tidak mempermalukan dengan membuka bagian perut di depan umum).
Suami atau perempuan tertua yang mengoleskan melantunkan doa pengharapan agar anak yang dikandung, kelak tidak terkena dampak lindhu.
Kebenarannya? Tidak pernah ada yang tahu. Hanya saja itu menjadi bagian dari kehidupan masyarakat kita masa lampau.
Dan di era yang lebih modern, kemudian dianggap sebagai gugon tuhon atau sesuatu yang dipercayai namun tidak ada dasar dan tidak ada kebuktiannya.
Lama-lama, ketika terjadi gempa bumi, orang hanya akan berkata “gempa-gempa” bahkan ada yang kemudian berkata “njiiir, gempa…. kerasa banget” tanpa disertai ungkapan doa dan permohonan. (***)











