Berita Utama

Mendukung Kebijakan “Siswa Tak Otomatis Naik Kelas”, Senator Gus Hilmy: Momentum Perbaikan Ekosistem Pembelajaran

 

Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dr. H. Hilmy Muhammad, M.A. menyatakan dukungan penuh terhadap rencana kebijakan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) yang menetapkan bahwa mulai Tahun Ajaran 2027/2028 siswa tidak lagi diberlakukan sistem “otomatis naik kelas”. Menurut Senator yang akrab disapa Gus Hilmy ini, langkah tersebut merupakan koreksi fundamental untuk mengembalikan esensi pendidikan ke jalan yang benar, yakni berorientasi pada pencapaian kompetensi, kedalaman penguasaan materi, dan pembentukan karakter peserta didik.

“Saya secara tegas mendukung rencana kebijakan Pak Abdul Mu’ti, Mendikdasmen. Kebijakan ini justru merupakan bagian dari upaya mendasar untuk menaikkan mutu pendidikan kita, meningkatkan kinerja serta akuntabilitas guru, dan memastikan kemampuan akademik anak didik benar-benar matang sebelum melangkah ke jenjang berikutnya. Jadi, ini momentum perbaikan ekosistem pembelajaran.” ucap Gus Hilmy melalui keterangan tertulis kepada media pada Ahad (18/10/2026).

Gus Hilmy yang juga Pengasuh Pondok Pesantren Krapyak Yogyakarta ini menyoroti bahwa kebijakan kurikulum sebelumnya yang menerapkan sistem “otomatis naik kelas” telah memberikan dampak psikologis dan akademis yang kurang ideal bagi ekosistem pembelajaran. Selama ini, sistem tersebut kerap memaksa peserta didik untuk naik tingkat meskipun secara substantif penguasaan materinya belum tuntas.

“Anak harus dinyatakan tidak naik bukan sebagai bentuk hukuman, melainkan karena memang secara akademik dan kompetensi belum memenuhi kriteria untuk melanjutkan ke kelas atau jenjang berikutnya. Kebijakan kurikulum yang selama ini terbiasa ‘menaikkan anak’ tanpa basis kompetensi yang riil justru memaksa anak mengikuti pembelajaran pada fase yang belum tiba saatnya bagi mereka. Tentu hal ini pada akhirnya malah akan menyulitkan anak dalam menghadapi tantangan masa depannya,” tegas Gus Hilmy.

Lebih lanjut, Senator asal Daerah Istimewa Yogyakarta ini menanggapi secara konstruktif berbagai pandangan, termasuk catatan kehati-hatian dari mitra kerja legislatif seperti Komisi X DPR RI serta asosiasi guru mengenai pentingnya kesiapan mekanisme dan agar kebijakan ini tidak menjadi beban tambahan bagi siswa. Menurutnya, kekhawatiran tersebut harus dijawab melalui perumusan petunjuk teknis yang objektif, transparan, serta berpihak pada pendampingan yang manusiawi.

“Kritik dan catatan dari berbagai pihak, termasuk rekan-rekan di parlemen, adalah pengingat penting bahwa transisi kebijakan ini harus dikawal dengan sistem asesmen yang adil, objektif, dan transparan. Pemerintah pusat bersama dinas pendidikan daerah harus memastikan sekolah memiliki instrumen asesmen diagnostik yang akurat. Yang tidak kalah penting, kebijakan ini harus disertai dengan program remedial, bimbingan intensif, dan pendekatan psikologis yang tepat, sehingga anak yang belum tuntas belajarnya tidak merasa distigmatisasi, melainkan mendapat haknya untuk dibimbing hingga benar-benar siap,” papar Gus Hilmy.

Anggota Komite II DPD RI tersebut menambahkan, di tengah persaingan global yang semakin ketat, dunia pendidikan nasional membutuhkan budaya belajar yang jujur dan kompetitif secara sehat.

“Pasti naik kelas itu bagian dari budaya instan. Proses pencapaian belajar diabaikan demi formalitas administratif kelulusan. Hal ini mesti dihentikan. Dengan dikembalikannya wewenang penilaian yang objektif kepada satuan pendidikan dan guru, martabat profesi guru akan makin kokoh sebab guru memperoleh legitimasi penuh untuk mengukur ketercapaian kompetensi muridnya,” ujar Gus Hilmy.

Gus Hilmy kembali mengingatkan bahwa pendidikan bertujuan memanusiakan manusia. Salah satunya adalah meningkatkan mutu pendidikan kita.

“Pendidikan merupakan ikhtiar memanusiakan manusia serta menyiapkan bekal masa depan yang kokoh. Memaksa anak naik kelas ketika fondasi akademisnya lemah sama saja dengan menumpuk persoalan di masa depan mereka. Mari kita dukung kebijakan ini bersama-sama dengan pengawasan yang konstruktif, supaya mutu pendidikan Indonesia benar-benar meningkat secara substansial, bukan hanya administratif,” tutup Gus Hilmy.

Sebelumnya

Artotel Group Hadir melalui Pengelolaan Ramada by Wyndham dan Wyndham Garden Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement