Berita Utama

Geopix Desak Status Darurat Orangutan Kalimantan, 440 Ribu Titik Panas Ancam Habitat

Marknews.id – Geopix mendesak pemerintah menetapkan status darurat konservasi orangutan Kalimantan. Desakan ini muncul setelah pemantauan menemukan ratusan ribu titik panas di habitat satwa tersebut.

Dalam laporan bertajuk ACT NOW! Borneo Lautan Api yang dirilis pada Jumat (16/10/2026), Geopix mencatat 440.010 titik panas di habitat orangutan. Data tersebut mencakup periode 1 Juni hingga 12 Oktober 2026.

Secara keseluruhan, pemantauan Geopix menemukan 572.261 titik panas di seluruh Kalimantan. Jumlahnya mencapai puncak pada September 2026.

Kalimantan Tengah Catat Titik Panas Tertinggi

Kalimantan Tengah menjadi provinsi dengan jumlah titik panas terbanyak. Wilayah ini mencatat 289.785 titik atau 50,6 persen dari total temuan.

Kalimantan Barat menempati urutan berikutnya dengan 165.527 titik atau 28,9 persen. Sementara itu, Kabupaten Ketapang mencatat jumlah tertinggi di tingkat kabupaten, yakni 89.086 titik panas.

Dari seluruh titik panas di Kalimantan, sebanyak 440.010 titik atau 76,89 persen berada di habitat orangutan. Subspesies Pongo pygmaeus wurmbii menghadapi paparan terbesar. Geopix menyebut subspesies ini mencakup 91,60 persen dari seluruh titik panas dalam habitat orangutan.

Geopix juga mengidentifikasi tiga lanskap dengan konsentrasi titik panas tertinggi. Ketiganya meliputi Sebangau, Seruyan-Sampit, dan Kahayan-Kapuas.

Kebakaran Meluas hingga Kawasan Konservasi

Dampak kebakaran terhadap habitat orangutan terus meningkat. Geopix mencatat kenaikan luas habitat terdampak dari 25,8 juta hektare menjadi 28,9 juta hektare. Angka tersebut naik 7,4 persen dibandingkan periode pemantauan sebelumnya.

Ancaman kebakaran juga menjangkau Taman Nasional Tanjung Puting dan Taman Nasional Sebangau. Aktivitas kebakaran di sekitar kawasan konservasi meningkatkan risiko kerusakan habitat.

Wilayah konsesi perkebunan kelapa sawit, pertambangan, dan Perizinan Berusaha Pemanfaatan Hutan turut menjadi perhatian. Kebakaran di area tersebut berisiko memicu penjalaran api menuju kawasan konservasi.

Selain merusak habitat, kebakaran memperburuk kualitas udara. Geopix melaporkan kondisi udara sangat tidak sehat di Taman Nasional Sebangau. Sementara itu, kualitas udara di Taman Nasional Tanjung Puting masuk kategori tidak sehat.

Puluhan Orangutan Mengalami ISPA

Asap kebakaran turut mengancam kesehatan orangutan. Geopix mengutip data BOS Foundation pada September 2026 yang mencatat 21 orangutan terdampak asap dan mengalami infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Laporan DetikKalimantan pada Oktober 2026 juga menyebut 47 orangutan mengalami ISPA.

Kebakaran turut menyebabkan kematian berbagai satwa dilindungi. Korbannya mencakup orangutan, bekantan, trenggiling, dan sejumlah jenis reptil.

Senior Wildlife Campaigner Geopix, Annisa Rahmawati, menilai situasi tersebut mengancam kelangsungan hidup orangutan dan masa depan ekologi Kalimantan.

“Situasinya semakin parah, ketika kebakaran mengancam habitat orangutan dalam skala sebesar ini, Kita sedang menghadapi ancaman serius terhadap keberlangsungan populasi orangutan dan masa depan ekologis Kalimantan, khususnya kesehatan dan harapan hidup masyarakat Kalimantan.”

Geopix Dorong Pembaruan Kajian Populasi

Pada akhir September 2026, IUCN SSC Primate Specialist Group menyerukan penguatan respons terhadap kebakaran di Kalimantan. Seruan itu menekankan perlindungan masyarakat dan satwa liar serta pencegahan kerusakan hutan.

Geopix mendukung seruan tersebut. Organisasi ini juga meminta pemerintah memperbarui kajian Population and Habitat Viability Assessment (PHVA) setelah kebakaran.

Kajian tersebut perlu mencakup survei populasi, perubahan luas dan kualitas habitat, serta ketersediaan sumber pakan dan pohon sarang. Pemerintah juga perlu menilai konektivitas habitat ketiga subspesies orangutan, termasuk di wilayah konsesi.

Geopix menilai pemerintah perlu memperjelas kewenangan dan kebijakan konservasi. Pemerintah juga perlu menyiapkan anggaran, menyelamatkan populasi terancam, melindungi habitat, menegakkan hukum, dan memulihkan ekosistem.

Organisasi tersebut turut menyoroti pembentukan Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional (BPMGN). Geopix memandang lembaga ini sebagai peluang untuk memperkuat tata kelola gambut.

Upaya perlindungan, menurut Geopix, membutuhkan dukungan lintas sektor. Perlindungan itu harus mencakup kawasan lindung maupun area konsesi.

Annisa mengingatkan pemerintah agar segera mengambil tindakan sebelum kerusakan habitat menghambat pemulihan populasi orangutan.

“Kita tidak bisa menunggu sampai populasi orangutan kehilangan kemampuan untuk pulih, atau sampai hutan yang tersisa tidak lagi mampu menopang kehidupan mereka. Jangan sampai Orangutan hanya tinggal kenangan. Ketika ancaman telah sedemikian serius, menunda tindakan berarti memperbesar risiko terhadap keberlangsungan kehidupan ribuan satwa liar di dalamnya dan rakyat kita sendiri. Ingat, jangan bermain api sebab ‘there is no business on a dead planet’,” pungkas Annisa.

Geopix merupakan organisasi kampanye independen yang bergerak dalam isu lingkungan dan perlindungan satwa liar. Organisasi ini menjalankan riset, investigasi, dokumentasi, komunikasi publik, dan advokasi berbasis bukti.

Sebelumnya

15 Tool AI untuk Mempercepat Pekerjaan Sehari-hari, dari Menulis hingga Optimasi SEO

Selanjutnya

Pemandian Air Panas Tirta Husada Ponorogo - Lokasi, Tiket, dan Daya Tarik

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement