Peresean, dari Ritual Meminta Hujan Menjadi Magnet Wisata
Pertunjukan seni budaya peresean di desa budaya Sade, Lombok Tengah
MARKNEWS.ID, LOMBOK TENGAH – Bunyi pukulan dari rotan itu memecah sore di Sasak Village Sade, Rambitan, Lombok Tengah. Dua lelaki bertelanjang dada saling mendekat di pelataran batu, kaki mereka lincah mencari celah. Satu pukulan mendarat di perisai kulit kerbau. Bunyi kerasnya membuat beberapa penonton spontan menahan napas.
Di kampung adat dengan rumah beratap ilalang dan dinding anyaman bambu itu, peresean digelar. Para penonton dari anak-anak hingga dewasa duduk di pinggir arena. Wisatawan mengangkat ponsel. Di sisi lain, sejumlah jurnalis dari berbagai media tampak mencatat dan merekam. Datang bersama sivitas akademika dan tim Humas Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta yang tengah berkunjung ke Lombok.
Peresean adalah tradisi adu ketangkasan masyarakat Sasak yang telah hidup berabad-abad. Dalam cerita turun-temurun, duel rotan ini dahulu digelar ketika kemarau panjang melanda. Dua pepadu (petarung) dipertemukan sebagai bagian dari ritual memohon hujan. Darah yang menetes diyakini sebagai simbol kesungguhan dan pengorbanan agar langit berbelas kasih.
“Dari cerita orang tua kami, peresean dulu dilakukan saat musim kering panjang. Harapannya hujan turun,” kata Amaq Epa, yang bernama asli Talim.
Amaq merupakan salah satu pengelola rumah adat dan budaya Sasak di Sade. Ia berdiri tak jauh dari arena, mengawasi jalannya pertandingan.
Kini peresean tak lagi menjadi ritual pemanggil hujan. Fungsinya bergeser menjadi pertunjukan budaya dan daya tarik wisata.
Namun tata aturan tetap dijaga. Pepadu membawa penjalin (rotan) sepanjang sekitar satu meter dan ende, perisai dari kulit kerbau tebal. Pukulan diarahkan ke tubuh bagian atas, terutama punggung dan bahu. Kepala dihindari.
Pertandingan dibagi dalam beberapa ronde singkat dan diawasi pakembar, wasit yang siap menghentikan laga bila luka terlalu dalam. Pertarungan diiringi musik gamelan Sasak dan tembang bernuansa mistis.
Benturan demi benturan terjadi cepat. Rotan kerap mendarat bersih, meninggalkan garis merah di kulit. Sorak penonton pecah tiap kali pukulan mengenai sasaran. Namun di akhir ronde, kedua pepadu saling merangkul. Wajah yang tadi tegang berubah santai. Tidak ada amarah yang dibawa keluar arena.
“Kami ingin orang melihat ini sebagai tradisi, bukan perkelahian,” ujar Amaq Epa. Ada aturan, ada sportivitas.
Di Sade, pertunjukan ini berlangsung terbuka. Tidak ada loket, tidak ada tiket masuk untuk menyaksikan duel. Penonton tak dipungut karcis. Hanya ada petugas yang membawa wadah sederhana untuk saweran.
“Kalau penonton ingin memberi uang saweran, silakan seikhlasnya. Itu bentuk apresiasi,” kata Amaq Epa. Uang yang terkumpul dibagikan kepada para pepadu dan pendukung pertunjukan.
Mustaqim, salah satu penonton yang berdiri di baris tengah, mengaku sempat merasa ciut ketika rotan pertama kali diayunkan.
“Awalnya agak ngeri. Pukulannya keras sekali, suaranya bikin kaget,” ujarnya.
Ia bahkan sempat mundur setapak ketika salah satu pepadu terhuyung.
Namun beberapa menit kemudian, perasaan itu berubah. Ia mulai melihat pola gerak dan teknik bertahan.
“Ternyata tidak asal pukul. Ada aturannya. Setelah selesai mereka juga saling peluk. Justru jadi seru dan menarik,” katanya.
Kunjungan para jurnalis bersama rombongan sivitas akademika dan Humas UII Yogyakarta sore itu menambah riuh suasana. Beberapa di antaranya berdiskusi dengan Amaq Epa tentang sejarah peresean dan perubahan fungsinya. Tradisi yang dulu bersifat ritual kini berdiri di panggung pariwisata, namun tetap diikat nilai lama yaitu keberanian, ketahanan, dan persaudaraan.
Full











