Kain Tenun Lombok Menjaga Martabat Perempuan Sasak
Seorang perempuan suku Sasak sedang menenun kain.
MARKNEWS.ID, LOMBOK TENGAH – Derit kayu alat tenun bukan mesin terdengar ritmis dari sebuah balai adat di Desa Puyung Soekarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah. Di ruangan sederhana itu, sehelai kain perlahan lahir dari tangan-tangan terampil perempuan Sasak. Setiap tarikan benang bukan sekadar proses produksi, melainkan perpanjangan sejarah dan harga diri.
Suasana itu muncul saat kunjungan jurnalis bersama sivitas akademik dan Humas Universitas Islam Indonesia (UII) ke Museum Tenun Dharma Setia, Senin, 16 Februari 2026. Rombongan diajak menyaksikan langsung proses menenun, memahami ragam motif, hingga melihat tahapan pewarnaan benang yang masih dikerjakan secara tradisional.
Soekarara dikenal sebagai sentra tenun terbesar di Lombok. Di desa inilah tradisi menenun bertahan lintas generasi.
“Tenun itu bukan cuma kain. Itu identitas kami,” kata Zenor, 45 tahun, pengelola museum tersebut.
Menurut Zenor, tradisi menenun telah hidup sejak masa kerajaan-kerajaan lokal di Lombok, termasuk era Kedatuan Selaparang. Kain tenun kala itu menjadi simbol status sosial dan dikenakan dalam upacara adat maupun kegiatan resmi bangsawan. Hingga kini, dalam budaya Sasak, seorang perempuan dianggap belum siap menikah jika belum mampu menenun.
“Itu semacam syarat budaya. Menenun adalah bekal hidup,” ujarnya.
Mutia, 46 tahun, salah satu penenun tradisional di Soekarara, menjadi saksi hidup tradisi itu. Ia belajar menenun sejak usia 11 tahun.
“Dulu diajari ibu. Hampir semua perempuan di sini begitu,” katanya, sembari tetap menggerakkan alat tenunnya.
Bagi Mutia, menenun bukan sekadar keterampilan teknis. Motif dan pola tidak hanya disusun berdasarkan pakem, tetapi juga dengan perasaan.
“Kalau hati tenang, hasilnya juga bagus. Kita bikin motif itu pakai rasa,” ujarnya.
Ragam motif tenun Lombok terinspirasi dari alam, simbol kosmologi, dan kehidupan sosial masyarakat Sasak.
Motif Subahnale dikenal luas sebagai ungkapan pujian kepada Tuhan, melambangkan rasa syukur dan keindahan. Motif Keker atau merak menggambarkan keanggunan. Motif Lumbung (Alang) merepresentasikan kemakmuran dan ketahanan pangan.
Ada pula motif Bintang Empat atau Bintang Delapan sebagai simbol keseimbangan arah mata angin, serta motif flora seperti Nanas yang melambangkan kesuburan. Beberapa kain juga memuat motif tokoh dan ornamen yang mendapat pengaruh budaya luar, seperti Bali dan Jawa.
Selain motif, proses pewarnaan menjadi bagian penting dalam kualitas tenun. Zenor menjelaskan, secara tradisional masyarakat menggunakan pewarna alami dari tumbuhan. Warna cokelat dan kemerahan diperoleh dari akar atau kulit kayu, kuning dari kunyit, hijau dari daun-daunan, dan biru dari tanaman nila. Prosesnya memakan waktu lebih lama, namun menghasilkan warna yang lembut dan tahan lama.
“Sekarang ada juga yang memakai pewarna sintetis karena lebih cepat dan warnanya lebih cerah,” kata Zenor.
Pewarna sintetis memudahkan produksi massal dan menyesuaikan permintaan pasar. Namun, sebagian penenun tetap mempertahankan teknik alami untuk menjaga nilai tradisi dan kualitas ekologis kain.
Kunjungan jurnalis dan sivitas akademik UII itu menjadi ruang dialog antara dunia akademik dan tradisi lokal. Para peserta tidak hanya melihat kain sebagai produk kerajinan, tetapi sebagai teks budaya yang menyimpan sejarah, etika, dan pandangan hidup.
Di tengah gempuran tekstil pabrikan, tenun Lombok tetap bertahan lewat tangan-tangan seperti Mutia—yang belajar sejak kecil, merangkai motif dengan rasa, dan menjaga tradisi sebagai bagian dari martabat perempuan. Dari balai adat Soekarara, benang-benang itu terus disusun, mengikat masa lalu dan masa depan dalam satu helai kain.
Full











