Beranda Jogja Tempo Doeloe Gendheng Kripik
Jogja Tempo Doeloe

Gendheng Kripik

Oleh: Agus U, jurnalis

Marknerws.id – PRESIDEN Prabowo Subianto melontarkan gagasan agar semua rumah yang selama ini bertatapkan seng, ijuk, rumbia atau benda lain yang bukan genteng diganti dengan genteng. (Dahulu dalam Bahasa Indonesia disebut genting bukan genteng).

“Tik tik tik bunyi hujan di atas genting….. airnya turun tidak terkira…..” Begitu dalam syair salah satu lagu anak.

Keinginan Presiden Prabowo ini ditanggapi beragam. Namun yang jelas beberapa desa di Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sentra produksi genteng. Sekarang kebanyakan adalah genteng pres. Artinya yang proses pembuatannya dengan cara mengepres bahan baku menjadi bentukan genteng.

Masa lalu, warga Yogyakarta dan sekitarnya masih ingat, suara kaki-kaki kuda yang menelusuri jalanan kampung. Kuda beban yang disebut dengan “jaran kore” ini di punggungnya menanggung beban yang berisi ratusan genteng yang terbuat dari tanah liat. Namun jangan bandingkan dengan genteng pres yang ada sekarang.

Ini adalah genteng tradisional, bentuknya “sekadar genteng” dan bagian bawahnya selalu ada semacam pasir yang menempel yang berasal dari alas genteng saat pembuatannya.

Sebutannya kala itu adalah genteng (gendheng) kripik. Mungkin karena tipis dibandingkan dengan genteng pres masa lalu yang sering disebut genteng kodok.

Genteng kripik ini produksi Kasongan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul. Selain genteng biasa, Kasongan juga membuat genteng wuwung, atau genteng paling atas. Kala itu ada dua jenis genteng paling atas. Wuwung dan krepus. Jika wuwung diletakkan begitu saja di paling atas, sementara krepus dilekatkan dengan adonan semen.

Para pembuat genteng dari Kasongan, memasarkannya selain dititipkan di toko-toko bangunan, juga ada yang dipasarkan secara keliling. Kudanya dituntun dengan punggung yang dipasang kantong berisi beban yang menempel sisi kiri dan kanan kuda.

Namun lama-lama penjualan genteng Kasongan ini merosot. Warga Yogyakarta dan sekitarnya memilih menggunakan genteng pres maupun genteng Soka (buatan Soka, Kebumen) yang dinilai lebih rapi dan lebih kuat.

Genteng buatan Kasongan semakin terdesak. Pada saat terjadi kemerosotan tajam industri genteng Kasongan, pada era 1970-an datanglah seniman banyak kepandaian, RM Sapto Hoedojo.

Pak Sapto mengajarkan hal baru. Para pembuat genteng atau barang gerabah lainnya di Kasongan diajak untuk membuat kerajinan gerabah.

Unsur estetika dan keindahan yang ditampilkan hingga akhirnya Kasongan dikenal sebagai pusat industri kerajinan gerabah yang kondang.

Meski dalam salah satu obrolan Pak Sapto sempat melontarkan rasa kecewanya. Namun apapun kondisinya, Kasongan dari pusat pembuatan genteng, wuwung dan beberapa peralatan rumah tangga dari gerabah seperti pengaron, jembangan, gentong, padasan, pot, celengan, kuali, keren dan anglo menjadi pusat kerajinan gerabah. Bahkan kini banyak yang membangun showroom untuk memajang dan memasarkan produk mereka.

Gentengisasi, mungkin sudah tidak akan dirasakan warga Kasongan.

Industri genteng yang ada di Yogyakarta kini yang banyak dikenal adalah Godean.

Dan gentengisasi bisa jadi akan menghadapi perlawanan budaya dari sejumlah lokasi. Saya pernah mendapat penjelasan dari tokoh Sumatra. Mereka tidak membangun rumah beratapkan genteng. Alasannya? Yang di bawah tanah itu yang sudah purna hidupnya. (****)

Sebelumnya

Jelang Lebaran 2026, KAI Daop 6 Gencarkan Sosialisasi Keselamatan di Perlintasan Brambanan

Selanjutnya

KAI Daop 6 Yogyakarta Dukung Kebijakan Pemerintah, Diskon Tiket Kereta Berlaku Saat Lebara

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement