Ruwahan
Oleh: Agus U, Jurnalis
Marknews.id – RUWAHAN merupakan kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, khususnya (yang saya ketahui) di Yogyakarta. Kegiatan ini dilaksanakan pada bulan Ruwah, yaitu bulan kedelapan dalam kalender Jawa Sultan Agungan. Pada bulan yang sejajar dengan bulan Sya’ban ini, bagi masyarakat Jawa setidaknya terdapat tiga kegiatan tradisional yang berkaitan dengan arwah para leluhur, yaitu Ngirim, Ruwahan, dan Nyadran.
Ketiga kegiatan spiritual tersebut biasanya dilakukan setelah Keraton Yogyakarta menyelenggarakan tradisi Kuthamara. Upacara ini dilakukan setiap tahun pada tanggal 13 Ruwah. Pada tanggal tersebut, Sri Sultan mengutus Abdi Dalem Kanca Kaji dan Suranata untuk mengirim ubarampe ke Kawedanan Pengulon. Ubarampe yang terdiri atas lisah konyoh (minyak wangi), ratus (serbuk kayu cendana), dan yatra tindih (uang untuk membeli bunga) kemudian digunakan untuk ziarah ke makam-makam Kagungan Dalem.
Setelah itu, masyarakat awam mulai melakukan tradisi Ngapem, yakni membuat kue apem. Proses pembuatan apem diawali dengan ngebluk jladren atau membuat jenangan tepung beras yang dituangi air dan diberi ragi roti yang dahulu disebut gis. Setelah selesai, jladren diperam selama lebih dari 12 jam agar mengembang. Keesokan harinya barulah apem dibuat.
Apem cetakan pertama, yang biasanya dibuat menggunakan cetakan apem, harus dilandasi dengan daun dadap srep. Umumnya satu atau dua kali buatan, atau sekitar 6 hingga 12 apem, memiliki salah satu sisi yang menempel daun dadap srep.
Kegiatan ini biasanya dilakukan oleh para ibu. Bersamaan dengan pembuatan apem, juga dibuat kolak berbahan pisang raja dan ubi jalar (tela pendhem) yang diolah dengan santan pekat (kanil) dan gula jawa hingga nyaris kering. Kolak ini berbeda dengan kolak yang biasa dijual di warung dadakan saat buka puasa. Pada saat yang sama, nasi ketan juga dimasak.
Kegiatan lainnya adalah membuat sudi, yaitu wadah untuk menempatkan apem, serta takir sebagai alas apem. Seluruh wadah tersebut dibuat dari daun pisang, dengan daun pisang klutuk (pisang batu) sebagai pilihan utama.
Setelah jladren habis, apem yang menggunakan daun dadap srep dipisahkan dan ditempatkan dalam satu wadah. Apem tersebut kemudian dibawa ke salah satu kamar dan dilengkapi dengan kembang setaman, lampu minyak (sentir), ses wangen (rokok kemenyan), yatra tindih berupa uang receh (biasanya koin), minyak wangi, serta satu gelas kopi pahit.
Semua perlengkapan tersebut diletakkan di atas amben. Selanjutnya, perempuan tertua membakar kemenyan dan memanjatkan doa untuk memohon kesehatan, kesejahteraan, serta kecukupan rezeki pada tahun mendatang, sekaligus bersyukur atas segala kebaikan Tuhan sepanjang tahun berjalan.
Bulan Ruwah juga dimaknai sebagai bulan untuk memuliakan Nabi Adam dan Hawa. Dari keduanya, manusia berkembang biak hingga memenuhi dunia, termasuk manusia Jawa. Iku kang duwe bobowan ing wulan Saban iya ta puniki Nabi Adam Ibu Hawa iku mulane wong aneng dunya sedekah ing wulan Ruwah puniku panutane wong aneng dunya iya kasihane Hyang Widi (Serat Cariyos Dewi Sri).
Setelah doa selesai, ketan, kolak, dan apem lainnya dibagikan kepada para tetangga.
Kegiatan lain dalam bulan Ruwah adalah Ngirim. Ngirim atau nyekar merupakan kegiatan ziarah kubur kepada anggota keluarga yang telah meninggal dunia. Dalam kegiatan ini dibawa bunga setaman yang dilengkapi dengan bunga kanthil dan bunga telasih.
Di setiap pusara anggota keluarga, selain membersihkan makam dan meninggikan kembali gundukan tanah, dilakukan pula pembakaran kemenyan dan doa. Prosesi diawali dengan uluk salam sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur, kemudian dilanjutkan dengan doa memohonkan ampun kepada Tuhan agar arwah dibebaskan dari siksa kubur dan dimudahkan melewati jembatan sirotol mustaqim yang besarnya sak gedhene rikma pinara sasra, atau sebesar rambut yang dibelah seribu. Selain itu, juga disampaikan permohonan agar arwah yang telah meninggal membantu memohonkan kepada Tuhan supaya keluarga yang ditinggalkan senantiasa sehat, bahagia, gampang sandang, gampang rezeki, serta memperoleh kebaikan lainnya. Manusia Jawa menyadari bahwa leluhur yang telah meninggal tidak pantas untuk dimintai secara langsung, tetapi dapat dimohonkan bantuannya sebagai perantara doa kepada Tuhan.
Jika Ruwahan dan Ngirim bersifat kegiatan keluarga, terdapat pula kegiatan yang disebut Nyadran. Kegiatan spiritual ini merupakan peninggalan masa lalu sebelum Islam berkembang di Jawa. Sraddha, yang berarti mendoakan arwah, kemudian berkembang menjadi kegiatan komunal Nyadran yang dikhususkan bagi tokoh-tokoh besar yang dimakamkan di suatu kompleks makam.
Kini, Nyadran telah diramu dengan berbagai kegiatan budaya warga. Pada masa lalu, kegiatan ini hanya berupa kenduri di kompleks makam untuk mendoakan seluruh penghuni makam agar memperoleh ampunan, dibebaskan dari siksa kubur, dan dilipatgandakan amal baiknya.
Namun, seiring perkembangan pemikiran, kegiatan-kegiatan tersebut nyaris ditinggalkan. Hanya Nyadran yang hingga kini masih lestari. (***)











