Dari Qismul Ghiro’ di Gontor, Zain Muttaqin Kini Jadi Pengusaha Akrilik
SEMARANG — Zain Muttaqin mengawali perjalanan seninya dari pekerjaan sederhana di Pondok Modern Darussalam Gontor. Saat masih menjadi santri, ia membantu dekorasi dengan menempel kertas menggunakan lem. Puluhan tahun kemudian, alumnus Gontor 1988 itu menjadi pengusaha kerajinan akrilik dan mengembangkan ARTCLIRIC di Semarang.
Berawal dari Qismul Ghiro’ di Gontor
Zain mengenang masa nyantrinya sebagai periode ketika ia mulai mengenal dunia seni dan dekorasi. Ia sering membantu berbagai kegiatan di pesantren. Pekerjaan awalnya cukup sederhana, yakni qismul ghiro’, istilah yang ia gunakan untuk pekerjaan menempel kertas dengan lem.
Dari pekerjaan sederhana itu, Zain semakin dekat dengan dunia seni. Ia kemudian aktif dalam berbagai kegiatan seni di Gontor. Pengalaman tersebut menjadi bekal yang tidak langsung ia gunakan setelah lulus, tetapi kelak justru menjadi bagian penting dalam perjalanan bisnisnya.
Setelah meninggalkan Gontor, Zain mencoba berbagai bidang usaha. Ia pernah menjalankan bisnis pengadaan alat kantor untuk instansi pemerintah. Ia kemudian mencoba usaha aksesori telepon seluler dan obat herbal.
Melewati Masa Jatuh Bangun
Perjalanan bisnis Zain tidak selalu berjalan mulus. Beberapa usaha yang ia jalankan mengalami pasang surut. Ia bahkan pernah berada dalam kondisi terpuruk dan harus kembali mencari peluang usaha untuk bangkit.
Di tengah masa sulit itu, Zain bertemu dengan sesama alumnus Gontor 1988, Dadi Purwadi, almarhum, di Bandung. Pertemuan tersebut kemudian menjadi salah satu titik balik dalam perjalanan bisnis Zain.
Saat itu Dadi sudah menekuni usaha kerajinan akrilik. Ia menggunakan mesin laser untuk membuat berbagai produk. Dadi kemudian memberikan sebuah mesin laser kepada Zain untuk menjadi modal awal menjalankan usaha kerajinan akrilik.
“Ini Bidang Saya”
Zain membawa mesin tersebut ke Semarang. Ia mulai belajar mengolah akrilik dan menggunakan mesin laser untuk membuat berbagai produk. Pada saat yang sama, pengalaman seninya sejak menjadi santri kembali menemukan tempat.
Zain merasa bidang tersebut sesuai dengan dirinya. “Ini bidang saya,” ujarnya ketika menyadari bahwa kerajinan akrilik bisa menjadi jalan baru dalam perjalanan usahanya.
Ia kemudian membangun usaha bernama ARTCLIRIC. Perlahan, usaha itu berkembang. Zain menambah mesin produksi dan memperluas jenis produk yang dikerjakan. Ia juga menggabungkan kemampuan desain dengan teknologi mesin laser.
Dari Rumah Kontrakan hingga Punya Rumah Tingkat
Perkembangan ARTCLIRIC ikut mengubah kehidupan Zain. Ketika berada dalam masa keterpurukan, ia masih tinggal di rumah kontrakan. Kini, ia sudah memiliki rumah bertingkat.
Ia juga mampu menambah mobil dan melengkapi mesin produksi. Perjalanan tersebut menunjukkan bagaimana Zain membangun usahanya secara bertahap. Ia memulai dari satu mesin, lalu mengembangkan peralatan dan kemampuan produksi seiring pertumbuhan usaha.
ARTCLIRIC dan Gonsus 88
Keterampilan Zain juga banyak digunakan dalam kegiatan Gonsus 88, perkumpulan alumni Gontor angkatan 1988. Ia ikut mengerjakan berbagai kebutuhan kreatif untuk kegiatan alumni.
Suvenir hingga hiasan panggung menjadi bagian dari pekerjaannya. Zain merancang berbagai produk seperti gantungan kunci, topi, kaus, dan suvenir lainnya. Ia juga ikut mendesain kebutuhan visual panggung dalam kegiatan Gonsus 88.
Keterlibatan itu membuat hubungan Zain dengan dunia seni kembali semakin kuat. Jika dulu ia membantu dekorasi dengan kertas dan lem, kini ia menggunakan desain dan mesin produksi untuk menghasilkan berbagai karya.
Dari Lem dan Kertas ke Mesin Laser
Perjalanan Zain memiliki satu benang merah yang menarik. Ia memulai dunia seninya dari qismul ghiro’, pekerjaan sederhana menempel kertas ketika masih menjadi santri Gontor. Kini, ia menjalankan usaha kerajinan akrilik dengan mesin laser di Semarang.
Bagi Zain, ARTCLIRIC bukan hanya hasil dari sebuah peluang bisnis. Usaha itu mempertemukan kembali pengalaman masa lalu, kreativitas, persahabatan sesama alumni, dan keberanian untuk bangkit setelah mengalami keterpurukan.
Mesin laser dari Dadi Purwadi menjadi awal babak baru tersebut. Dari mesin itu, Zain menemukan bidang yang ia yakini sebagai dunianya. Dari qismul ghiro’ di Gontor, ia kini tumbuh menjadi pengusaha kerajinan akrilik yang terus mengembangkan ARTCLIRIC di Semarang.
*****









