Forcreator IKPM Gontor Bangun Ekosistem Kreatif Alumni, dari Karya hingga Kolaborasi
MARKNEWS.ID, SLEMAN — Kreativitas alumni Pondok Modern Darussalam Gontor kini dihimpun dalam sebuah wadah bernama Forcreator IKPM Gontor. Forum ini menjadi ruang bagi alumni yang bergerak di bidang seni, budaya, media, desain, hingga berbagai sektor industri kreatif untuk berkarya, berkolaborasi, dan saling menguatkan.
Ketua Forcreator IKPM Gontor, Reza Alfarabi, mengatakan forum tersebut tidak dimaksudkan sekadar menjadi tempat berkumpulnya para alumni kreatif. Forcreator diarahkan menjadi ekosistem yang mampu mempertemukan berbagai potensi dan keahlian alumni.
“Forcreator bukan hanya tempat berkumpul, tetapi menjadi ruang untuk saling mengenal, belajar, berkarya, berkolaborasi, dan memberikan manfaat melalui kreativitas yang dimiliki,” kata Reza.
Menurut dia, potensi alumni Gontor di bidang kreatif sangat beragam. Karena itu, diperlukan wadah yang mampu menghimpun potensi tersebut agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Forcreator merupakan badan otonom di bawah naungan Pengurus Pusat IKPM Gontor. Forum ini dideklarasikan pada 27 September 2023 di Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Kepengurusan periode 2026–2031 kemudian dilantik pada 13 Juli 2026.
Sekretaris Forcreator IKPM Gontor, Wawan Sugianto, mengatakan keberadaan forum tersebut diharapkan dapat menjadi jembatan antara alumni yang telah lebih dahulu berkiprah dengan generasi alumni yang sedang membangun karier di bidang kreatif.
“Kami ingin membangun jejaring yang memungkinkan para kreator alumni Gontor saling berbagi pengalaman, membuka peluang kolaborasi, dan bersama-sama mengembangkan potensi yang ada,” ujar Wawan.
Forcreator menghimpun alumni dalam sembilan bidang kreatif. Bidang tersebut meliputi kaligrafi dan seni rupa Islami; desain komunikasi visual dan grafis; desain interior dan arsitektur; teater, sastra dan penulisan; seni media rekam seperti film, fotografi dan audiovisual; seni lukis dan ilustrasi; musik dan olah suara; seni instalasi dan kontemporer; serta seni kriya dan kerajinan tangan.
Menurut Reza, keragaman tersebut justru menjadi kekuatan utama Forcreator.
“Kreativitas memiliki banyak bentuk. Karena itu, kami membuka ruang seluas-luasnya bagi alumni untuk berkarya sesuai dengan bidang dan kompetensinya,” katanya.
Pembagian bidang tersebut juga membuka peluang kolaborasi lintas disiplin. Kreator di bidang film, misalnya, dapat berkolaborasi dengan penulis, fotografer, ilustrator, desainer, musisi maupun pelaku seni lainnya.
Forcreator membawa filosofi “Creating for Others”. Prinsip tersebut menempatkan kreativitas bukan hanya sebagai ekspresi personal, tetapi juga sebagai sarana untuk memberikan manfaat bagi orang lain, pesantren, alumni, dan masyarakat.
Salah satu program yang dikembangkan Forcreator adalah membangun database alumni yang bergerak di bidang kreatif. Database tersebut memuat profil, keahlian, serta produk atau usaha kreatif yang dimiliki alumni.
Wawan mengatakan pendataan menjadi penting karena jumlah alumni yang memiliki kemampuan di bidang kreatif cukup beragam dan tersebar di berbagai daerah.
“Kami ingin mengetahui siapa saja alumni yang bergerak di bidang kreatif, apa keahliannya, dan karya atau produk apa yang mereka hasilkan. Dari situ kami bisa mempertemukan mereka untuk membangun kolaborasi,” kata Wawan.
Database tersebut diharapkan menjadi fondasi untuk membangun jejaring yang lebih kuat. Alumni tidak hanya dapat saling mengenal, tetapi juga dapat menemukan mitra yang sesuai untuk mengembangkan karya maupun usaha.
Forcreator juga mengembangkan program mentoring lintas generasi. Kreator senior diharapkan dapat berbagi pengalaman, pengetahuan, serta jejaring kepada alumni yang baru mulai menekuni bidang kreatif.
Menurut Reza, proses regenerasi penting agar pengalaman para alumni yang telah lebih dahulu berkarya tidak berhenti pada satu generasi.
“Kami ingin ada proses transfer pengetahuan dari para senior kepada generasi berikutnya. Pengalaman yang sudah dimiliki para alumni adalah aset yang sangat berharga untuk dikembangkan bersama,” ujarnya.
Selain mentoring, Forcreator mengembangkan program pemberdayaan dan advokasi. Program tersebut diarahkan untuk membantu promosi produk kreatif alumni, membuka akses pasar, memberikan pendampingan terkait legalitas, hingga mempertemukan kreator dengan mitra potensial.
Bagi Forcreator, kreativitas tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan karya. Kreativitas juga dipandang sebagai bagian dari pengabdian.
Prinsip Creating for Others menjadi pijakan agar karya alumni memiliki manfaat yang lebih luas.
“Kami ingin kreativitas alumni tidak hanya berhenti sebagai karya untuk diri sendiri. Ada nilai kebermanfaatan yang ingin kami bangun,” ujar Reza.
Wawan menambahkan, kekuatan utama forum tersebut berada pada jaringan alumni. Setiap anggota memiliki pengalaman, kompetensi, dan jejaring yang berbeda. Jika dipertemukan, potensi tersebut dapat menjadi kekuatan bersama.
“Kita memiliki banyak alumni dengan keahlian yang luar biasa. Tantangannya adalah bagaimana potensi itu bisa saling terhubung dan menghasilkan sesuatu yang lebih besar,” katanya.
Forcreator juga memiliki jaringan koordinator wilayah di sejumlah daerah, antara lain Daerah Istimewa Yogyakarta dan Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Jabodetabek, Sumatera Utara, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Jaringan tersebut menjadi modal untuk memperluas kolaborasi sekaligus memastikan Forcreator tidak hanya berpusat di satu daerah.
Bagi Reza dan Wawan, Forcreator pada akhirnya diharapkan menjadi rumah bersama bagi alumni Gontor yang berkarya di dunia kreatif. Forum ini tidak hanya menyediakan ruang untuk menghasilkan karya, tetapi juga mempertemukan gagasan, pengalaman, jaringan, dan peluang.
“Kami ingin Forcreator menjadi rumah bagi para kreator alumni Gontor. Tempat untuk belajar, berkarya, berkolaborasi, dan memberi manfaat,” ujar Reza.








