Beranda Serba-Serbi UGM Targetkan 550 Huntara Berbasis Kayu Lokal untuk Penyintas Banjir di Aceh
Serba-Serbi

UGM Targetkan 550 Huntara Berbasis Kayu Lokal untuk Penyintas Banjir di Aceh

Gambar : Arsip UGM

Marknews.id  – Upaya pemulihan pascabanjir di Aceh terus menunjukkan perkembangan signifikan. Universitas Gadjah Mada (UGM) memperluas program pembangunan hunian sementara atau huntara bagi penyintas banjir dengan menargetkan pembangunan hingga 550 unit rumah. Program ini dikembangkan dari pengalaman awal pembangunan 100 unit huntara dan diarahkan untuk menjawab kerusakan permukiman warga yang terjadi secara masif di sejumlah wilayah terdampak.

Berbeda dari pendekatan konvensional, UGM mengusung konsep pemanfaatan kayu hanyut sebagai material utama. Pemilihan material lokal ini dinilai lebih adaptif terhadap kondisi lapangan sekaligus mempercepat proses pembangunan. Selain itu, langkah ini juga menjadi solusi atas melimpahnya kayu pascabencana yang berpotensi rusak jika tidak segera dimanfaatkan.

Anggota Tim UGM, Ir. Ashar Saputra, S.T., M.T., Ph.D., IPM., ASEAN.Eng, menjelaskan bahwa kebutuhan pembangunan ratusan huntara berangkat dari kondisi riil di lapangan. Di Desa Geudumbak, misalnya, sekitar 430 rumah dilaporkan mengalami rusak berat hingga hancur akibat banjir. Dari jumlah tersebut, sebanyak 330 unit huntara direncanakan dibangun dengan dukungan penyediaan dan pengolahan kayu dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).

Sementara itu, 120 unit huntara lainnya diproyeksikan untuk wilayah Aceh Tamiang dengan dukungan BNPB dan Kementerian Kehutanan. “Inisiatif ini bertujuan memindahkan penyintas dari tenda yang kurang layak ke rumah yang sehat, aman, dan dapat menjalankan fungsi sebagai rumah keluarga,” ujar Ashar, Kamis (15/1).

Dalam pelaksanaannya, UGM menggandeng Rumah Zakat sebagai mitra sekaligus donor. Lembaga ini berperan dalam penyediaan tenaga tukang lokal serta pelatihan teknis di lapangan. Skema kerja yang diterapkan mendorong keterlibatan aktif warga terdampak, baik sebagai pekerja maupun bagian dari proses pembangunan di lingkungan mereka sendiri.

Pendekatan tersebut tidak hanya mempercepat pembangunan, tetapi juga menggerakkan kembali roda ekonomi warga. Melalui skema uang lelah bagi para tukang, masyarakat mulai mendapatkan penghasilan di tengah masa pemulihan. “Rumah Zakat mendukung pembentukan kelompok tukang yang bekerja bersama warga, sementara UGM berkontribusi melalui teknologi rumah yang aman, sehat, cepat dibangun, dan mudah dibuat,” jelas Ashar.

Dukungan material menjadi aspek krusial dalam program ini. Menurut Ashar, peran BNPB dan Kementerian Kehutanan sangat penting dalam penyediaan kayu hanyut yang tersedia pascabencana. Kayu tersebut dipilah dan diolah agar bagian yang masih layak dapat dimanfaatkan. “Harapannya pemanfaatan kayu bisa dipercepat karena jika terlalu lama dibiarkan, kayu berpotensi rusak meski sebagian masih dapat diselamatkan,” katanya.

Dari sisi teknis, huntara dirancang berukuran 6 x 6 meter dengan dua kamar tidur, satu ruang multifungsi, serta teras. Desain ini disusun untuk memenuhi kebutuhan dasar keluarga penyintas. Kebutuhan kayu diperkirakan sekitar 4 meter kubik untuk rumah tanpa lantai panggung dan sekitar 5 meter kubik untuk rumah dengan lantai panggung. Sementara material pendukung seperti atap galvalum, paku, baut, dan mur didatangkan dari luar lokasi.

Pembangunan satu unit huntara melibatkan enam orang, terdiri dari dua tukang utama dan empat warga sebagai pembantu tukang. Target awal pengerjaan dipatok empat hari per unit. Namun, pada tahap awal pelaksanaan, waktu pengerjaan masih berkisar enam hari akibat proses adaptasi. “Seiring pelatihan dan pengalaman, kami optimistis target empat hari per unit dapat tercapai,” tutur Ashar.

Untuk mempercepat realisasi, UGM menerapkan skema kerja paralel dengan membentuk 15 kelompok tukang. Dengan skema ini, sebanyak 15 rumah dapat dibangun secara bersamaan. Warga lain turut dilibatkan dalam proses pemotongan, pengolahan, hingga distribusi kayu. “Tenaga kerja dan alur suplai sudah disiapkan agar proses pembangunan dapat berjalan lebih lancar,” jelasnya.

Antusiasme warga terdampak menjadi salah satu faktor pendorong keberhasilan program. Setelah hampir 50 hari tinggal di tenda darurat dengan kondisi terbatas, kehadiran huntara disambut dengan harapan besar. Pada tahap awal pembangunan, banyak warga datang melihat langsung proses pengerjaan dan berharap segera mendapatkan hunian serupa.

Penentuan penerima huntara dilakukan melalui musyawarah warga setempat dengan mempertimbangkan kelompok rentan, seperti lansia, ibu hamil, anak-anak, serta keluarga yatim dan piatu. “Urutan pembangunan ditentukan melalui rembuk gampong agar bantuan tepat sasaran dan adil,” ucap Ashar.

Ke depan, UGM menilai pemulihan pascabencana tidak bisa berhenti pada penyediaan hunian. Kebutuhan lain seperti air bersih, sanitasi, layanan kesehatan, dan pendidikan juga perlu segera dipenuhi agar kualitas hidup masyarakat kembali pulih. “Hunian menjadi pintu masuk, tetapi fasilitas pendukung seperti sekolah dan layanan kesehatan juga perlu segera disiapkan,” tutup Ashar.

Di balik data dan perencanaan teknis, program ini menyimpan kisah kemanusiaan yang mendalam. Salah satunya dialami keluarga Misran yang beranggotakan lima orang, dengan sang istri tengah hamil besar saat banjir melanda. Dalam kondisi darurat, mereka bertahan selama tiga hari tiga malam di atas pohon sawit hingga air surut. Kini, rumah keluarga Misran telah selesai dibangun dan sudah ditempati, sementara 18 unit lainnya masih dalam proses pembangunan di lokasi yang sama. “Waktu itu kami hanya berusaha bertahan, dan sekarang sudah bisa kembali tinggal bersama keluarga di rumah yang lebih aman,” ungkapnya.

Sebelumnya

Rakerwil I Adaksi DIY Tegaskan Arah Pembenahan Organisasi dan Advokasi Dosen

Selanjutnya

Janji yang Tertunaikan, Zainal Arifin Mochtar Raih Gelar Guru Besar di UGM

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement