Rayakan Hari Musik Sedunia, Bantul Gelar Keroncong Pesisiran Sekaligus Lepas Tukik
MARKNEWS.ID . Nuansa seni dan kepedulian lingkungan berpadu indah di pesisir selatan Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Melalui ajang Keroncong Pesisiran 2025, masyarakat dan wisatawan diajak menikmati alunan musik keroncong di tepi Pantai Goa Cemara sekaligus berpartisipasi dalam upaya konservasi penyu.
Gelaran yang akan berlangsung pada 21 Juni 2025 ini tidak hanya menjadi panggung bagi musisi keroncong dari berbagai daerah, tetapi juga momentum perayaan Hari Musik Sedunia yang jatuh pada tanggal yang sama. Sejak siang hari, pengunjung sudah disuguhi beragam aktivitas, mulai dari pasar pesisir, vinyl selection, hingga piknik pesisiran.
“Keroncong Pesisiran hadir kembali, juga untuk merayakan musim migrasi tukik dan peringatan Hari Musik Sedunia di pantai selatan,” ungkap Kepala Dinas Pariwisata Bantul, Saryadi, Rabu (18/6/2025).
Tahun ini, Keroncong Pesisiran mengusung tema Irama Ombak Selatan. Sebuah penegasan bahwa harmoni tak hanya lahir dari alunan instrumen, tetapi juga terpancar dari kolaborasi antara manusia dan alam pesisir.
“Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul selalu berupaya membuat konsep yang berbeda untuk setiap gelaran Keroncong Pesisiran. Tahun lalu bertajuk ‘Swara Ibu Senja’, sedang tahun ini tajuk Keroncong Pesisiran adalah Irama Ombak Selatan,” tambahnya.
Festival ini tak sekadar menonjolkan musik keroncong sebagai genre, melainkan juga memaknainya sebagai dialek budaya dan ekspresi harmoni lintas unsur.
“Kaitannya dengan festival ini, harmoninya bisa beragam. Harmoni dengan ombak laut selatan, harmoni dengan kolaborator, dengan masyarakat, dan lain-lain. Istilah kami, gotong keroncong,” jelas Evander Dwi P., selaku Festival Director Irama Ombak Selatan.
Sebagai Creative Director, Primastri Jati menekankan bahwa Keroncong Pesisiran dirancang merangkul berbagai aspek: musik, kearifan lokal, dan isu lingkungan. Hal tersebut semakin nyata dengan adanya agenda pelepasliaran ratusan tukik di sore hari.
“Hari musik sedunia yang juga jatuh pada 21 Juni dipilih sebagai hari pelaksanaan Keroncong Pesisiran,” ucap Primastri.
Pelepasliaran tukik menjadi magnet tersendiri di antara rangkaian acara. Kegiatan ini melibatkan masyarakat, pengunjung, hingga para musisi yang tampil di panggung utama. Pelepasan tukik dilakukan di area konservasi Pantai Goa Cemara, habitat penyu Lekang — spesies penyu berwarna abu-abu yang rutin bertelur di pesisir ini setiap April hingga September.
“Makanan penyu itu ubur-ubur, sedangkan ubur-ubur memakan ikan kecil. Jadi ada rantai konservasi di laut,” terang Fajar Subekti, Ketua Kelompok Konservasi Penyu Goa Cemara, yang sejak 2010 konsisten menjaga kelestarian ribuan telur penyu agar terhindar dari gangguan predator maupun perburuan liar.
Panggung Irama Ombak Selatan dijadwalkan menampilkan sederet musisi lintas genre, seperti The Cloves and The Tobacco, Iksan Skuter, Purapurahidup, Keroncong Jazz Lastarya, serta Hamkri Bantul. Duo The Asam Garam, Burhanudin Baharsyah dan Teguh Nurwantara, akan memandu rangkaian pertunjukan.
Lebih dari sekadar festival musik, Keroncong Pesisiran menjadi bukti nyata bahwa geliat budaya dan upaya pelestarian alam dapat tumbuh berdampingan. Gelaran ini pun menegaskan bahwa wisata pantai di Bantul bukan hanya Parangtritis, tetapi juga berbagai pantai eksotis yang sarat kegiatan budaya dan edukasi.
Masyarakat dan wisatawan diharapkan tidak hanya pulang membawa kenangan indah, tetapi juga kesadaran akan pentingnya menjaga harmoni dengan alam pesisir selatan.









