Beranda Serba-Serbi Jejak Kiai Sampang, Ulama Kampung Penjaga Harmoni di Balik Sunyinya Gang Mbah Sampang
Serba-Serbi

Jejak Kiai Sampang, Ulama Kampung Penjaga Harmoni di Balik Sunyinya Gang Mbah Sampang

Foto: Makam Kiai Sampang di Dusun Balong Desa Potorono Kec. Banguntapan Bantul.

MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA  — Di sela deru pembangunan dan geliat urbanisasi Desa Potorono, Banguntapan, sebuah gang kecil bernama “Gang Mbah Sampang” menyimpan kisah yang tak lekang oleh waktu. Di gang sunyi itulah, nama Kiai Sampang atau yang akrab disebut Mbah Sampang tetap hidup di hati warga, meski tak tercatat dalam buku sejarah resmi Kesultanan Mataram.

Berdasarkan penuturan warga setempat yang berkembang turun-temurun, “Kiai Sampang adalah sosok dari tanah Madura yang datang ke Jawa atas perintah Panembahan Senopati, pendiri Kesultanan Mataram,” ungkap salah satu sesepuh warga Balong Lor. Kehadirannya bukan hanya membawa misi politik sebagai pengelola logistik dan pertanahan kerajaan, tetapi juga menanamkan nilai keagamaan dan budaya gotong royong di tengah masyarakat.

Kisah hidup Kiai Sampang tak hanya terpatri pada tugas administratifnya, melainkan juga pada peran spiritualnya. Ia diyakini menjadi rujukan masyarakat dalam mencari nasihat hidup, memperkuat akidah, dan memelihara harmoni sosial. Tradisi pengajian, ceramah, serta pendidikan agama diyakini kerap beliau selenggarakan demi membentengi masyarakat dari pengaruh buruk zaman.

Usai wafat, jasad Kiai Sampang disemayamkan di kebun tempatnya mengabdi. Hingga kini, lokasi pemakamannya dipercaya berada di sekitar kawasan Balong Lor. Nama gang kecil itu seolah menjadi penanda abadi bahwa di balik jalan sempit tersebut, terpatri jejak pengabdian seorang tokoh kampung yang setia menjaga kearifan lokal.

Sebagai wujud penghormatan, setiap awal November, masyarakat Potorono masih rutin menabur bunga di sejumlah makam tokoh leluhur, termasuk di sekitar Balong Lor. Momentum tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa di balik kemajuan desa, nilai-nilai spiritual dan sejarah lokal tetap dijaga.

Dalam perayaan Hari Jadi Kalurahan Potorono, sosok Kiai Sampang kembali hadir dalam ingatan kolektif warga. “Beliau bukan sekadar nama lama, tetapi simbol pengabdian dan peneguh tali silaturahmi antarwarga,” tutur seorang tokoh pemuda setempat.

Meski namanya kerap luput dari catatan akademis, peran Kiai Sampang membuktikan bahwa sejarah besar Mataram pun ditopang oleh figur-figur kecil di tingkat akar rumput. Dalam istilah budaya, tokoh seperti Kiai Sampang kerap disebut sebagai ‘cultural broker’, yang menjembatani kepentingan rakyat dengan penguasa.

Toponimi “Gang Mbah Sampang” pun kini menjadi saksi bisu bagaimana harmoni pernah ditanamkan di Karangduren Lor, jauh sebelum modernisasi merambah desa. Pemerintah kalurahan hingga keluarga besar Kiai Sampang terus merawat nilai-nilai tersebut agar tak tergerus waktu.

Dengan demikian, kisah Kiai Sampang bukan hanya legenda lokal, tetapi teladan bagi generasi muda Potorono untuk selalu merawat akar budaya dan spiritualitas di tengah kemajuan zaman.

Penulis : Yuliantoro, jurnalis senior

Sebelumnya

Perkenalkan Dunia Kereta Api Sejak Dini, KAI Daop 6 Yogyakarta Gelar Schooliday

Selanjutnya

Dorong Digitalisasi Ramah Lingkungan, KAI Daop 6 Yogyakarta Tambah Gate Face Recognition di Pintu Timur Stasiun Yogyakarta

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement