Ahli Gizi UGM Tekankan Pentingnya Gizi dan Pengawasan dalam Program MBG
MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA– Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu andalan kabinet Presiden Prabowo kini mulai dirasakan manfaatnya di berbagai sekolah di daerah. Dengan alokasi anggaran mencapai Rp71 triliun per tahun untuk menjangkau 19,4 juta anak, program ini digadang-gadang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Meski demikian, tantangan dalam hal pengelolaan, transparansi, dan optimalisasi gizi masih menjadi perhatian utama.
Dalam diskusi bertajuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG): Tinjauan Perspektif Gizi, Kebijakan, dan Supply Chain Bahan Pangan di Universitas Gadjah Mada, sejumlah pakar dari berbagai bidang mengupas program ini dari berbagai sudut pandang.
Manfaat Gizi untuk Fungsi Kognitif Anak
Dr. Toto Sudargo, M.Kes., ahli gizi dari Fakultas Kedokteran UGM, menyoroti pentingnya pengolahan makanan bergizi agar dapat mendukung fungsi kognitif siswa secara maksimal. “Konsumsi makanan bergizi, seperti protein dari telur, sangat penting untuk mendukung perkembangan otak. Namun, penyajiannya juga harus diperhatikan agar anak-anak tertarik untuk mengkonsumsinya,” ujarnya.
Ia mencontohkan pengolahan telur menjadi menu seperti dadar atau orak-arik yang tidak hanya meningkatkan nilai gizi tetapi juga membuat anak lebih tertarik untuk mengonsumsinya. “Yang penting anak-anak mau makan dan makanan tidak terbuang. Jangan sampai makanan hanya diacak-acak dan menjadi sampah,” tegasnya.
Pemanfaatan Bahan Pangan Lokal
Prof. Subejo dari Fakultas Pertanian UGM menekankan pentingnya mengurangi ketergantungan pada bahan impor seperti gandum dengan memanfaatkan sumber karbohidrat lokal. “Indonesia memiliki banyak sumber karbohidrat lokal seperti singkong, jagung, dan sagu. Jika bahan-bahan ini dimanfaatkan, kita tidak hanya mendukung ketahanan pangan tetapi juga memberdayakan petani lokal,” jelasnya.
Ia juga menyarankan agar desa diberdayakan sebagai basis distribusi makanan bergizi. Dengan demikian, distribusi akan lebih efisien dan dapat mengurangi risiko makanan basi akibat perjalanan distribusi yang terlalu jauh.
Transparansi dan Akuntabilitas Dana
Prof. Wahyudi Kumorotomo dari Fisipol UGM menyoroti pentingnya pengawasan dana yang besar agar program ini dapat berjalan tepat sasaran. “Dana sebesar Rp71 triliun per tahun yang ditargetkan untuk 19,4 juta anak ini harus dipantau penggunaannya. Jangan sampai ada korupsi atau dana yang dialihkan untuk kepentingan lain,” ujarnya.
Ia mengingatkan pentingnya keterlibatan masyarakat dalam mengawasi pelaksanaan program ini. “Potensi terjadinya korupsi harus diantisipasi dengan pengawasan ketat oleh seluruh lapisan masyarakat,” tambahnya.
Komitmen Berkelanjutan untuk Generasi Emas
Ketiga pakar sepakat bahwa MBG adalah investasi jangka panjang yang memerlukan komitmen lintas pemerintahan. Dr. Toto mencontohkan keberhasilan program serupa di India yang membutuhkan konsistensi lebih dari satu dekade untuk mencapai hasil signifikan. “Jika konsisten, Indonesia bisa mencapai hasil yang signifikan, baik dalam hal kesehatan, kemampuan, maupun prestasi generasi mendatang,” katanya.
Diskusi yang berlangsung selama dua jam ini ditutup dengan seruan kepada seluruh elemen masyarakat untuk mendukung dan mengawasi pelaksanaan MBG. “Ini adalah investasi untuk generasi masa depan. Jika program ini berhasil, Indonesia akan memiliki generasi yang lebih sehat, cerdas, dan siap bersaing di kancah global,” pungkas Dr. Toto.
Program MBG menjadi sebuah harapan besar yang memerlukan sinergi antara pemerintah, masyarakat, dan akademisi untuk menciptakan generasi emas Indonesia di masa depan. Dengan pengelolaan yang baik, program ini tidak hanya memperbaiki gizi anak-anak tetapi juga menjadi langkah strategis untuk membangun bangsa.









