Beranda Jalan-jalan Dulang Begibung, Jejak Meja Raja yang Hidup Kembali di Balai Adat Soekarara
Jalan-jalan

Dulang Begibung, Jejak Meja Raja yang Hidup Kembali di Balai Adat Soekarara

Menikmati Dulang Begibung

MARKNEWS.ID, Lombok Tengah – Di sebuah balai adat beratap rendah di Desa Puyung Soekarara, Kecamatan Jonggat, Lombok Tengah, beberapa orang duduk melingkar mengitari satu dulang, nampan besar berisi aneka hidangan khas Lombok. Mereka menyendok lauk dari wadah yang sama, tanpa sekat. Tradisi makan kolektif itu disebut Dulang Begibung.

Dulang berarti nampan, begibung bermakna bersama-sama. Konsep ini merupakan kearifan lokal masyarakat Sasak yang dahulu dikenal sebagai santapan para datu pada masa Kedatuan Selaparang. Kini, tradisi tersebut dihidupkan kembali di Museum Tenun Dharma Setia, bukan sekadar sebagai atraksi wisata, melainkan sebagai upaya merawat ingatan kolektif.

“Minimal satu dulang diisi dua orang, maksimal tiga orang. Memang begitu konsepnya, supaya makan bersama dan tidak membedakan satu dengan yang lain,” kata Zenor, 45 tahun, pengelola museum tersebut, saat ditemui, Senin, 16 Februari 2026.

Di kompleks museum, pengunjung tidak hanya disuguhi koleksi kain tenun. Di bagian depan rumah-rumah tradisional yang difungsikan sebagai balai adat, tersedia ruang-ruang kecil tempat Dulang Begibung dinikmati. Balai adat itu sederhana—lantai tanah atau semen, tikar digelar, dulang diletakkan di tengah. Suasananya intim dan egaliter, mendekatkan orang pada pengalaman makan ala masyarakat Sasak tempo dulu.

Menurut Zenor, nama panggung dari Zainal Gaman, Dulang Begibung lazim hadir dalam upacara adat seperti pernikahan dan kematian.

“Kalau ada hajatan besar, pasti ada begibung. Itu sudah seperti kewajiban adat,” ujarnya.

Hidangan dalam satu dulang mencerminkan kekayaan kuliner Lombok. Ares menjadi sajian yang nyaris tak pernah absen. Bahan dasarnya batang pohon pisang muda, biasanya pisang kepok, yang diolah menjadi sayur berkuah gurih.

“Ares itu makanan tradisional kami. Hampir selalu ada dalam upacara adat,” kata Zenor.

Menu lain meliputi ebatan—campuran daun turi, kacang panjang, dan pepaya muda yang diberi urap santan. Ada pula sate pusut, perpaduan daging sapi dan parutan kelapa muda berbumbu rempah. Balung, semacam sup daging sapi, melengkapi sajian berkuah.

Sementara ayam pelalah, menggunakan ayam kampung muda dengan bumbu cabai, bawang merah, dan bawang putih, menghadirkan rasa pedas yang menjadi ciri masakan Lombok.

Bagi Zenor, makna Dulang Begibung terletak pada simbol kebersamaan. Duduk melingkar dan menyantap makanan dari satu wadah adalah pernyataan bahwa semua orang setara.

“Maknanya sederhana: kita bersama-sama, tidak boleh membedakan satu dengan yang lain,” ujarnya.

Soekarara selama ini dikenal sebagai sentra tenun terbesar di Lombok. Namun di balai-balai adatnya, warisan budaya tak hanya terjalin lewat benang dan motif songket. Ia juga hadir di atas dulang, dalam sendok yang bergerak bergantian, dalam percakapan yang mengalir tanpa jarak.

Di tengah budaya makan modern yang serbapribadi, Dulang Begibung menghadirkan alternatif: meja tanpa kursi, lauk tanpa batas piring, dan kebersamaan tanpa sekat. Tradisi lama itu kini menemukan ruang barunya—di balai adat, di tengah desa, dan di ingatan para tamu yang pulang dengan rasa yang lebih dari sekadar kenyang.

Cahyo EP, salah satu pengunjung yang menikmati Dulang Begibung merasa puas. Rasa masakannya semuanya enak.

“Mantap semua,” kata Cahyo sambil memegang perut kenyangnya.

FULL

Sebelumnya

Perguruan Tinggi Islam Diminta Menjadi Institusi Peradaban

Selanjutnya

Kain Tenun Lombok Menjaga Martabat Perempuan Sasak

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Mark News
advertisement
advertisement