Selangkah Lebih Serius Hidup Bersama Alquran

Kang Rully

Alquran adalah anugerah terindah yang dikaruniakan Allah kepada umat Nabi Muhammad Saw. Setiap jengkalnya mengandung keberkahan berlimpah dan kerahmatan bagi seluruh semesta. Kitab ini begitu lantang dan jumawa mentahbiskan dirinya sebagai tak mengandung keraguan. Bahwa kehadirannya akan menjadi petunjuk, obat, pelipurlara, dan ragam fungsi spiiritual, bahkan diskursif duniawi-material.

Setelah Allah Swt. menurunkan Alquran dari Baitul Makmur melalui Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad Saw. Maka Alquran menjelma hafalan dalam diri suci Nabi. Secara perlahan tapi pasti, Nabi mulai mengabarkan kepada para sahabat dan menjelaskan kandungan dan maknanya. Mereka mulai menghafalkan ayat demi ayat sesuai dengan peristiwa, dipadu dengan keterangan dari hadis-hadis yang menyertainya.

Selain menjaga dalam hafalan, ada sebagian sahabat yang ditugasi Nabi Saw. sebagai penulis wahyu, seperti Zaid bin Tsabit, Muawiyah bin Abi Sufyan, Ubay bin Ka’ab, dan utamanya Ali bin Abi Thalib. Mereka mula-mula mencatatnya dalam lembaran kulit binatang, pelepah kurma, batu, dan potongan tulang.

Meski tertulis dalam beberapa media, namun hafalan tetap yang utama. Terbukti Nabi Muhammad secara berkala setiap bulan Ramadan mentaskhikh dan tasmi’ hafalan kepada Malaikat Jibril. Begitu pula para sahabat mengulang-ulang hafalan di hadapan Nabi Saw. Di samping itu, sebagai bentuk pelestarian Kalam Tuhan, hafalan menjadi satu nomenklatur transmisi keilmuan di dalam Islam. Transmisi dari satu guru ke guru lain, bacaan yang memiliki tingkat akurasi secara turun temurun begitu tersimpan dan terjaga baik di dalam Islam.

Karena itulah, melihat pentingnya Alquran sebagai kitab suci umat Islam. Sebagai Buku Induk pedoman yang bersifat samawi dan Ilahiah, petunjuk abadi duniawi dan ukhrawi, selayaknya ada satu titik kesadaran umat Islam untuk setingkat lebih serius hidup bersama Alquran, salah satunya dengan menghafalkannya.

Berkaitan dengan keutamaan menghafal, penghafal, dan ahli Alquran, Rasulullah Saw. begitu banyak serius memperhatikan mereka. Misalnya ketika beliau menyinggung kedudukan pemilik Alquran, dalam arti penghafalnya akan bersama para Malaikat yang mulia. Atau, dalam hadis lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Dikatakan kepada pemilik Alquran, “Bacalah dan naiklah, lalu bacalah secara tartil, sebagaimana kamu membaca tartil di dunia. Karena kedudukanmu di ayat terakhir yang kamu baca.” (HR Tirimizi)

Demikian pula, para penghafal Alquran juga kelak akan mendapatkan berbagai kehormatan dari Allah Swt. Seperti yang terekam dalam Kitab al-Mu’jam al-Ausath karya Ath-Thabrani disebutkan,

“Pelajarilah Alquran, sebab di akhirat nanti dia akan datang kepada para ahlinya. Kala itu orang sangat memerlukannya.”
Ia akan datang dalam bentuk seindah-indahnya dan bertanya, “Kenalkah kamu kepadaku?” Maka orang yang pernah membaca akan menjawab : “Siapakah kamu?” Maka berkata Alquran: “Akulah yang kamu cintai dan kamu sanjung, dan bangun malam untukku dan juga kamu pernah membacaku di siang hari”. Kemudian berkata orang yang pernah membaca Alquran itu : “Adakah kamu Alquran?” Lalu Alquran mengakui dan menuntun orang yang pernah membaca menghadap Allah Swt, lalu orang itu diberi kerajaan di tangan kanan dan kekal di tangan kirinya, kemudian dia meletakkan mahkota di atas kepalanya.

Pada kedua Ayah dan Ibunya diberi perhiasan yang tidak dapat ditukar dengan dunia meski berlipat ganda, sehingga keduanya bertanya: “Dari manakah kami memperoleh ini semua, padahal amal kami tidak sampai ini?” Lantas dijawab, “Kamu dianugerahi ini semua karena anakmu telah mempelajari Alquran”.

Namun demikian, yang harus menjadi catatan, penghargaan puncak Alquran kepada para penghafalnya ini tidak begitu saja. Tentunya narasi “Sebaik-baik kamu adalah yang mengajar dan mengamalkan Alquran” menuntut kita untuk menjaga diri agar sejalan dengan ajaran dan nilai-nilai Alquran. Bukan sekadar menghafal saja, karena itu kerja otak. Semua orang bisa. Namun mentadabburi dan menjadikan Alquran sebagai lelaku keseharian itu harus menjadi cita-cita utama saat kita mau masuk menjadi keluarga Alquran. Wallahu a’lam bish shawab.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar