Motivasi Menghafal Alquran (1)

Kang Rully

Alquran merupakan kalam Allah yang diturunkan untuk umat manusia. Berisi petunjuk lengkap dan berbagai hikmah dan nilai-nilai penting bagi mereka dalam rangka mengarungi bahtera kehidupan dunia dan akhirat.

Karena diperuntukkan bagi manusia, maka Allah menyelaraskan susunan bahasa (tartib lughawi)–dalam hal ini bahasa Arab–dengan tingkat dan pilihan susastera yang tinggi. Sehingga tak heran, kitab ini mampu mengundang decak kagum para penyair Arab saat itu.

Terlepas dari sisi ketinggian susastera Arab Alquran yang akan kita bahas pada kesempatan lain, susunan bahasa Alquran ini sebenarnya justru memudahkan kita dalam menghafalkannya. Dan ini seringkali tidak kita sadari. Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa menghafal adalah kerja otak.

Akses menuju lebih dekat dengan Alquran semakin mudah. Praktik-praktik pembelajaran secara online, baik melalui video Youtube, siar Podcast, radio, TV kabel sudah marak sekali.

Semua orang bisa menghafalkannya. Sehingga tidak mungkin ada anjuran untuk menghafalkan Alquran dari Rasulullah Saw. jika itu tak mampu dilakukan. Bukankah Allah Swt. sendiri telah berfirman, “Dan sungguh, telah Kami mudahkan Alquran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”(QS al-Qamar [54]: 17 )

Syekh Thontowi, penulis kitab Tafsir al-Wasith menjelaskan bahwa Allah melalui ayat ini hendak menunjukkan fenomena keutamaan dan kerahmatan bagi umat ini dengan menjadikan Alquran mudah untuk dihafal dan difahami. Sebab, Allah menurunkan kitab ini dalam bentuknya yang menakjubkan: kefasihan lafaz, susastera puncak, gamblang makna. Dan ini akan memudahkan bagi setiap orang untuk menghafalnya.

Sekarang ini, kita banyak menyaksikan Alquran dan berbagai seremonial dan gegapgempitanya sudah mulai memasyarakat. Dalam arti, perhatian orang terhadap Alquran sudah mulai massif. Di kota-kota kita banyak melihat bertumbuh-kembang lembaga-lembaga pendidikan Alquran, dari hafalan, kajian tafsir, pengajian dasar Alquran dan lain sebagainya.

Akses menuju lebih dekat dengan Alquran semakin mudah. Praktik-praktik pembelajaran secara online, baik melalui video Youtube, siar Podcast, radio, TV kabel sudah marak sekali. Tidak hanya itu, bahkan buku-buku motivasi menghafal Alquran, model cetakan khusus hafalan juga sudah membanjiri lapak-lapak toko. Meski jika diprosentasekan dengan jumlah penduduk sekitar kita para pengikut kajian dan mereka yang serius masih terbilang minim.

Dalam arti, di beberapa lokasi dan tempat masih banyak muslim yang tak mahir mengaji, lebih-lebih memahami kedalaman maknanya. Masih banyak kita temukan orang yang bermasalah dengan baca Alquran. Maka, penting untuk menjadi perhatian bahwa setiap individu harus mulai menyadari bahwa kefasihan dalam membaca Alquran bukanlah problem komunal, tapi harus menjadi kegelisahan indivual. Bukan persoalan sosial, namun problematika personal.

Mempelajari dasar-dasar Islam, seperti mengaji dan memahami Islam secara dasar dan mandiri harus mulai kita bereskan. Dan ini sekaligus menunjukkan keseriusan kita dalam beragama.

Demikian pula dengan menghafal Alquran. Dahulu, banyak beredar rumor–untuk tidak mengatakan mitos–bahwa menghafal Alquran itu harus siap lahir dan batin. Harus suci dalam arti menjaga akhlak dan perangai sedari awal menghafal. Harus sampai selesai. Tak boleh setengah-setengah. Harus benar-benar ikhlas karena Allah Swt. Tak boleh digunakan untuk kepentingan duniawi-materi, dan lain-lain.

Memang, idealnya demikian. Akan tetapi, jika kita harus menunggu hingga ada seseorang yang sanggup memenuhi kriteria di atas, akankah Alquran dapat membumi? Akankah surat-surat pendeknya mampu menembus kerongkongan mereka yang tak suci? Mungkinkah Alquran tetap terjaga di dalam hafalan anak-anak kita yang belum baligh? Jika begitu, di manakah fungsi kerahmatan Alquran sebagai kitab umat manusia.

Wallahu a’lam bish shawab

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar