Mau Jadi Pemenang atau Pecundang di Akhir Ramadhan?

M Arif Rodhi, alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor dan dosen di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya.


Ibadah puasa Ramadhan 1441 H telah memasuki 10 hari terakhirnya, mendekati babak final, ibarat ajang reli terganas di dunia Reli Dakkar, semakin mendekati garis finis ternyata semakin ganas medan yang ditempuh. Terlihat dari  banyak peserta yang mengalami kerusakan kendaraan, cedera, kecelakaan bahkan sampai ada yang meninggal dunia. 

Begitulah ramadhan 1441 H, pada 10 hari terakhir ini, seperti pengalaman ramadhan yang sebelum-sebelumnya umat Islam biasa terbagi menjadi dua, ada sekelompok yang semakin berbobot aktivitas ibadahnya menghabiskan waktu untuk tetap istiqamah sholat berjama’ah 5 waktu, qiyam al-lail, ‘itikaf di Masjid, tadarus al-Qur’an dan bersedekah, tapi ada juga sekelompok yang asyik masyuk menyalurkan hasrat konsumerismenya  sibuk berbelanja dengan dalih untuk mempersiapkan hari raya Idhul fithri (Padahal inti dari idhul fithri itu bukan pada baju yang baru, tapai idhul fithri itu bertambah tidaknya iman seorang hamba). Seperti yang  terjadi di beberapa kota besar di Indonesia orang-orang sudah menyerbu sebagian mal dan toko-toko pakaian, disaat situasi pandemi Covid-19 plus PSBB saja mereka tidak bisa menahan diri, masih memaksakan untuk berbelanja di tengah kerumunan masa tanpa memperdulikan aturan social distancing dan virus corona lagi. 

Padahal telah dijelaskan dalam sebuah hadis : 

Dari ‘Aisyah ra, ia berkata, “Rasulullah SAW biasa ketika memasuki 10 Ramadhan terakhir, beliau mengencangkan ikat pinggangnya, menghidupkan malam-malam tersebut dengan ibadah, dan membangunkan istri-istrinya untuk beribadah.” (HR. Bukhari dan Muslim).”

Maksud dari mengencangkan ikat pinggang jangan di artikan secara sempit, yaitu hanya tidak melakukan sexual intercourse, tapi mengencangkan ikat pinggang bisa juga diartikan sebagai menahan diri dari sifat konsumerisme baik melalui  gaya hidup hedonistik materialistik maupun konsumerisme dalam hal makanan, termasuk hal-hal yang tidak bermanfaat. Sejatinya di sepuluh hari terakhir ibadah puasa ramadhan  sangat ditekankan untuk menghidupkan aktivitas ibadah yang lebih berbobot dan bermakna baik secara individual ataupun sosial dengan mengajak istri dan anak-anak. Ini adalah kekuatan ramadhan yang sesunguhnya dari makna menahan diri, baik terhadap hal-hal yang dihalalkan apalagi yang diharamkan. Jadilah pemenang bukan pecundang. 

Dalam konteks syariat Islam, puasa (shiyām)  ialah menahan diri dari makan-minum dan kegiatan seksual sejak terbit fajar hingga terbenam matahari, dengan niat ibadah kepada Allah SWT tentunya. Salah satu fungsi ibadah puasa adalah usaha menahan diri dari syahwat badaniah dan syahwat bathiniyah, yang diantaranya sejajar dengan sabar, bahkan dalam surat Al Baqarah ayat 45 

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”.

Kata الصَّبْرِ di tafsirkan sebagai puasa, …”jadikanlah kesabaran dan sikap menahan diri dari apa yang kalian benci sebagai penolong dalam menjalankan beban ini. Salah satu caranya adalah dengan berpuasa.” Dampak transformative puasa itu juga terkait dengan kecerdasan emosional atau difahami dengan kesabaran.

Dalam kitab sifru as Sa’adah dijelaskan bahwa paling tidak ada tiga kondisi penting bagi seseorang untuk senantiasa sabar: 

Pertama, الصبر علي الأوامر والطاعات حتي يؤديها Sabar terhadap semua perintah-perintah Allah SWT dengan penuh ketaatan dalam melaksanakannya. Seorang hamba Allah SWT harus sabar ketika menjalankan semua perintah-perintah-Nya, seperti ibadah individual yang terkait dengan Ibadah dalam rukun Islam, itulah yang membedakan kita dengan orang-orang munafik, karena tipe orang munafik itu tidak pernah sabar dalam melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, cenderung malas, khususnya ketika melaksanakan sholat subuh dan Isya’, sholat subuh menurut mereka waktunya masih nyaman untuk melanjutkan tidur, sementara sholat isya’ bagi mereka adalah waktu yang masih melelahkan setelah bekerja seharian. Selain itu ketika orang-orang munafik  melaksanakan perintah-perintah Allah SWT hanya sekedar  bertujuan riya’. 

Atau ketika melaksanakan ibadah sosial seperti pemberian infak shadaqah baik yang wajib atau sunah, perlu kesabaran dalam melaksanakannya, kerena setan musuh utama manusia akan selalu menggoda dengan menakut-nakuti jika bersedekah niscaya akan menjadi miskin, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 268: 

“ Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat kejahatan (kikir); sedang Allah menjadikan untukmu ampunan daripada-Nya dan karunia. dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengatahui.” 

Begitu juga bagi para orangtua dalam mendidik putra-putrinya, diperlukan kesabaran ekstra, dan tidak mudah mengeluh, karena akan mengganggu kecerdasan emosional yang justru akan  mengarah pada tindak kekerasan terhadap putra-putrinya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Thaha ayat :132

                   

“ dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya. Kami tidak meminta rezki kepadamu, kamilah yang memberi rezki kepadamu. dan akibat (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”

  Seorang guru juga harus memiliki kesabaran dalam menyampaikan materi-materi pelajaran dan dalam mendidik murid-muridnya, terlebih ketika berhadapan dengan murid yang agak tertingal prestasinya atau murid yang kurang baik karakter dan akhlaknya, maka seorang guru dituntut untuk bisa mengetahui, mengapa murid tersebut tertinggal prestasinya dari murid yang lain, dan kurang baik karakter serta akhlaknya, hingga menemukan penyebab, sekaligus bisa memberikan solusinya yang terbaik, tentu dengan penuh kesabaran. Itulah pemenang.

Kedua,  الصبر عن المناهي والمخلفات حتي لايقع فيها  Sabar terhadap segala bentuk larangan dan semua hal yang bertentangan dengan perbuatan baik, agar tidak terjebak di dalamnya.

Di dunia ini, seringkali manusia dihadapkan oleh berbagai macam godaan untuk melakukan perbuatan maksiat, oleh karenanya diperlukan kesabaran tingkat tinggi dalam menghadapinya. Itulah kemenangan. 

Dikisahkan dalam sebuah kitab yang berjudul “Mempertajam Kepekaan Spiritual”, tulisan Majdi Muhammad Asy Syahawy, tentang seorang pemuda sholeh yang su’ul khatimah. Adalah salah satu ABK sebuah kapal pesiar mewah antar negara, pemuda tersebut sering dipanggil dengan “Mu’alim” karena keshalehannya, sering adzan di Musholla yang ada di kapal, bahkan tidak jarang juga menjadi imam sholat fardlu, sekaligus memberikan tausiah kepada para penumpang dan ABK. Hingga suatu saat kapal pesiar itu  berhenti merapat di suatu negara, salah satu ABK berusaha mengajak sang Mu’alim untuk turun kapal sambil menikmati keindahan kota, tapi ternyata ABK tersebut mengajak Mu’alim ke suatu perumahan, anehnya ABK masuk sendirian dan mempersilahkan Mu’alim untuk menunggunya di luar rumah yang didatanginya. Mu’alim penasaran dengan apa yang sedang dilakukan teman ABK nya, lebih penasaran lagi ketika ada beberapa wanita berparas cantik dengan pakaian seksi masuk kedalam rumah itu, akhirnya Mu’alim berusaha mengintipnya dari lubang daun pintu, tersentaklah sang Mu’alim dengan apa yang disaksikanya, yang belum pernah sama sekali dia saksikan sebelumnya. Sontak sang Mu’alim lari menuju ke Kapal dengan gemetaran dan keringat dingin yang bercucuran. Kapalpun berlabuh kembali.

Hingga suatu saat kapal pesiar itu berhenti merapat di tempat yang sama, ternyata tidak disangka, sang Mu’alim justru orang pertama yang turun dan menuju ke rumah yang didatangi sebelumnya bersama teman ABK nya, sang mu’alim benar-benar sudah larut dengan kemaksiatan di dalam rumah tersebut sepanjang hari, hingga Nahkoda kapal pesiar menyuruh ABK lain untuk memanggilnya, sang Mu’alim sempat menolak tapi akhirnya mau kembali ke kapal untuk melanjutkan perjalanannya. Sang Mu’alim jadi berubah perangainya, sering mengurung di kamar, tidak adzan, bahkan tidak menjadi imam sholat apalagi memberikan tausiah, hingga puncaknya, Nahkoda kapal menyuruh ABK untuk memanggilnya, namun pintu kamar sang Mu’alim tersebut terkunci, sempat terdengar suara merintih kesakitan kemudian Nahkoda memerintahkan ABK nya untuk mendobrak pintu kamar Mu’alim, setelah pintu kamar sang Mu’alim terbuka, betapa terperangahnya Nahkoda dan ABK mendapati sang Mu’alim yang senantiasa azan, menjadi imam sholat fardlu, bahkan memberi tausiah itu sudah meninggal dalam keadaan mengigit kayu karena menahan rasa sakit yang dideritanya, ditambah ada beberapa binatang semacam set, belatung yang keluar dari dalam celananya. Na’udzubillahi min dzalik.  Itulah salah satu contoh ketika seorang hamba Allah SWT yang tidak sabar ketika berhadapan dengan godaan kemaksiatan. Itulah Pecundang.

Ketiga, الصبر علي الأقدار والأقضية حتي لايسخطها  Bersabar terhadap segala ketentuan Taqdir dan Qadla Allah swt agar tidak murka/emosional. Allah SWT berfirman dalam surat Al Baqarah ayat 155 :    

“ dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.”

Menjadi sangat penting menyikapi segala bentuk ujian dan cobaan dari Allah SWT yang tersebut pada ayat di atas, seperti kehilangan orang yang sangat dicintainya, atau kekurangan harta yang sangat dibutuhkanya, atau terkena musibah bencana alam, banjir, longsor, tsunami serta berkurangnya panen raya karena faktor cuaca atau hama wereng,  Bahwa semua itu  adalah taqdir dan qadla Allah SWT baik berupa kebaikan maupun keburukan adalah ujian dari-Nya. Tidak ada jalan lain untuk menghadapinya kecuali tetap sabar dan menerima dengan ikhlas segala ketentuan-Nya, karena Allah SWT berjanji untuk senantiasa beserta hamba-hamba-Nya yang sabar. Itulah Pemenang.  

 “Hai orang-orang yang beriman, Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”(Al-Baqarah :153).

 Selalu menjaga juga kecerdasan emosional, sabar untuk tidak emosi, itulah kekuatan yang sebenarnya sesuai sabda Rasulullah SAW:

Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, bahwa Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لَيْسَ الشَّدِيْدُ بِالصُّرَعَةِ، إِنَّمَا الشَّدِيْدُ الَّذِيْ يَمْلِكُ نَفْسَهُ عِنْدَ الْغَضَبِ

“Orang yang kuat bukanlah dengan bergulat, namun orang yang kuat itu adalah orang yang mampu mengendalikan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari). 

Dijelaskan juga dalam Hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَجُلاً قَالَ لِلنَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوْصِنِيْ. قَالَ (( لاَ تَغْضَبْ )) فَرَدَّدَ مِرَارًا، قَالَ: لاَ تَغْضَبْ

“Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: ‘Berikanlah nasihat kepadaku.’ Beliau berkata: ‘Janganlah engkau marah.’ Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, beliau tetap berkata: ‘Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari). 

Dalam hadits lain, Rasulullah SAW bersabda,

)مَنْ كَظَمَ غَيْظًا وَهُوَ قَادِرٌ عَلَى أَنْ يُنْفِذَهُ دَعَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ عَلَى رُءُوسِ الْخَلاَئِقِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَتَّى يُخَيِّرَهُ اللَّهُ مِنَ الْحُورِ مَا شَاء(

“Barangsiapa yang menahan kemarahannya padahal dia mampu untuk melampiaskannya maka Allah Ta’ala akan memanggilnya (membanggakannya) pada hari kiamat di hadapan semua manusia sampai (kemudian) Allah membiarkannya memilih bidadari bermata jeli yang disukainya” (HR Abu Dawud no. 4777, at-Tirmidzi no. 2021, Ibnu Majah no. 4186 dan Ahmad 3/440).

Ini sangat relevan sekali dengan peristiwa pandemi Covid-19 yang sedang menimpa manusia saat ini, hampir seantero dunia tak terlepas juga Negara Indonesia. Dalam keyakinan teologi Islam,  kehadiran pandemi Covid-19 adalah merupakan ketentuan/ketetapan dari Allah SWT. Jadi sebagai hamba-Nya harus bisa menyikapi dengan penuh kesabaran dan  menahan diri dengan mengikuti semua protokol kesehatan dari mulai stay at home (WFH), selalu memakai masker ketika keluar rumah, melakukan social distancing, sering mencuci tangan dan tidak bersentuhan. Begitu juga protokol ibadah ditengah pandemi covid-19 seperti yang di fatwakan oleh MUI, serta menjalankan aturan/kebijakan PSBB, tidak mudik yang telah ditetapkan oleh Pemerintah. Itulah pemenang, karena jika masyarakat Indonesia tidak bisa sabar dan menahan diri ditengah pandemi Covid-19, niscaya akan berakibat fatal bagi  orang-orang tercinta disekitarnya, Itulah Pecundang.  

Sebagai hamba Allah SWT, sejatinya  istiqamah sabar dalam berbagai kondisi, baik ketika melaksanakan perintah-perintah Allah SWT, sabar ketika menghadapi godaan kemaksiatan, dan sabar ketika menghadapi segala musibah yang telah menjadi ketentuan Allah swt. Itulah  pemenang bukan pecundang. Wallaahu’alam.  Semoga ibadah puasa ramadhan 1441H mengantarkan Kita kepada Kemenangan di dunia dan akherat, Aamiin Ya Rabbal’alamiin. Minal’aidiin Wal Faidziin mohon ma’af lahir dan batin. Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Taqabbal Ya Kariim.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar