KONSEKUENSI BERPALING DARI ALQURAN

M Arif Rodhi, alumnus Pondok Modern Darussalam Gontor dan dosen di Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya.

Tanggal 17 Ramadhan adalah momentum yang sangat berharga bagi umat Islam,  pada tanggal itulah Alquran pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW ketika beliau bertahannuth di gua Hira’. Umat Islam senantiasa setia merayakan nuzulul qur’an setiap tahun dengan meriahnya, untuk mengenang kembali peristiwa yang sangat berharga tersebut, meskipun saat ini hanya melalui pengajian/kajian daring atau webinar,  di tengah kondisi pandemi Covid-19 yang telah melanda hampir semua negara di dunia ini, tak terlepas juga Indonesia, sama sekali tidak menyulutkan semangat untuk merayakannya. 

Mengapa menjadi sangat berharga, karena dengan Alquran umat Islam bisa mendapatkan nasehat-nasehat bijak penuh hikmah, sekaligus penyembuh hati dan jiwa, sebagai petunjuk serta rahmat (kenikmatan) bagi yang mengamalkannya.  Firman Allah SWT dalam surah Yunus ayat 57 ::

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ

“Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.”

Sebagai hamba Allah SWT yang beriman tidak sepantasnya berpaling dari Alquran. Dalam kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) online dijelaskan, bahwa makna berpaling adalah menoleh (ke kiri dan ke kanan, atau ke belakang). Berpaling juga bermakna beralih atau bertukar (perhatian dan sebagainya) atau meninggalkan. 

Jadi berpaling adalah usaha seseorang untuk beralih, atau bertukar perhatian kepada yang lain dan meningalkannya. Artinya ketika seseorang berpaling dari pengajaran Allah SWT, yang dimaksud dengan berpaling adalah usaha seseorang meninggalkan Alquran untuk beralih kepada petunjuk yang lain. Allah SWT berfirman  dalam surat Al Dzukhruf ayat: 36

وَمَنْ يَّعْشُ عَنْ ذِكْرِ الرَّحْمٰنِ نُقَيِّضْ لَهٗ شَيْطٰنًا فَهُوَ لَهٗ قَرِيْنٌ

“Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan yang Maha Pemurah (Al Quran), Kami adakan baginya setan (yang menyesatkan) Maka setan Itulah yang menjadi teman yang selalu menyertainya.”

Dari ayat 36 surah Al-Zukhruf tersebut bisa difahami bahwa Allah SWT melarang keras hamba-Nya untuk berpaling dari pengajaran-Nya yang maha pemurah yaitu Alquran. Karena dari berpaling itu, akan memberi peluang setan untuk menyesatkannya dan akan menjadikan setan sebagai teman yang akan senantiasa menyertainya. 

Ada beberapa konsekuensi bagi hamba Allah SWT yang berpaling dari Alquran pertama, hamba Allah SWT yang berpaling dari pengajaran-Nya (Alquran), akan sangat rentan untuk disesatkan oleh setan, seperti ikrar janji sumpah serapah setan dalam surah al-A’raf ayat 16-17 : 

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman:

قَالَ فَبِمَاۤ اَغْوَيْتَنِيْ لَاَ قْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَا طَكَ الْمُسْتَقِيْمَ ۙ 

Al-A’raf : Ayat 16

ثُمَّ لَاٰ تِيَنَّهُمْ مِّنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ اَيْمَا نِهِمْ وَعَنْ شَمَآئِلِهِمْ ۗ وَلَا تَجِدُ اَكْثَرَهُمْ شٰكِرِيْنَ

 Al-A’raf Ayat 17

 “Iblis menjawab: “Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat).”

Sangat jelas sekali ayat di atas, bahwa setan telah bersumpah serapah akan terus menyesatkan hamba Allah SWT dengan menghalang-halanginya dari jalan-Nya yang lurus dan menjadikanya tidak bersyukur, dengan berbagai macam cara, dari segala arah. Ibarat sebuah pintu jika di dobrak sekali belum rusak, maka akan terus didobrak sampai pintu tersebut benar-benar rusak dan hancur. 

Konsekuensi yang kedua jika hamba Allah SWT  berpaling dari ajaran-Nya, maka Allah SWT akan menjadikan setan sebagai teman yang akan senantiasa menyertainya. Dalam kitab Aqidah al-Islamiyah Sayyid Sabiq mengatakan bahwa setiap manusia itu pasti akan bersamanya seorang  setan yang menyertainya. Tugas utama setan adalah menyuruh manusia untuk berbuat jahat dan keji, dan menyesatkan manusia dengan hal-hal yang dikatakan, padahal tidak mengetahui apa yang dikatakannya itu, disamping juga setan adalah musuh utama dan nyata, seperti yang ditegaskan Allah SWT dalam surah al-Baqarah ayat 168-169:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَ رْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

Al-Baqarah  Ayat 168

اِنَّمَا يَأْمُرُكُمْ بِا لسُّوْٓءِ وَا لْفَحْشَآءِ وَاَ نْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

Al-Baqarah  Ayat 169

“Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan; karena Sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. Sesungguhnya setan itu hanya menyuruh kamu berbuat jahat dan keji, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.”

Maksud dari perbuatan jahat  السوء dalam ayat di atas yaitu setan akan senantiasa menyertai manusia dalam segala bentuk kemaksiatan, contohnya karena atas nama tekanan/kebutuhan  ekonomi saat kondisi pandemi Covid-19 atau hanya sekedar untuk memenuhi kebutuhan gaya hidupnya, manusia tergoda untuk mencuri/merampok/membegal harta milik orang lain, kemudian menghabiskan uangnya di meja perjudian, menkonsumsi dan mengedarkan narkoba karena tergiur dengan tawaran penghasilan tinggi yang dijanjikannya. Melakukan kecurangan dalam takaran timbangan, Korupsi, dan segala bentuk kemaksiatan lainnya. 

Sedangkan yang dimaksud dengan perbuatan keji menurut Imam al Qurtubi dalam kitab tafsirnya adalah perbuatan Zina. Allah SWT menggunakan redaksi

الفحشاء untuk kategori perbuatan zina, karena perbuatan itu sangat keji dan menjijikkan. Berapa banyak manusia telah disesatkan oleh setan yang menyertainya dengan perbuatan zina, melalui tanyangan content pornografi/pornoaksi, pergaulan sex bebas sampai kepada pesta sex pasangan seperti yang telah terjadi di salah satu provinsi di Indonesia, pesta sex antara sesama jenis, dan bentuk kemaksiatan sexual lainnya. 

Mengapa perbuatan zina disebut keji dan menjijikkan, ada 5 alasan penting seperti yang telah diungkapkan Masyfuk Zuhdi dalam kitabnya Masail Fiqhiyah yaitu: a. Ada pencemaran kelamin dan pencampuran nasab, b. Penularan penyakit kelamin terutama virus HIV/AID yang hingga sekarang belum ada obatnya. C. Keretakan rumah tangga yang berakibat perceraian, d.Teraniayanya anak-anak yang tidak berdosa, e. Pembebanan pada masyarakat dan Negara untuk mengasuh dan mendidik anak-anak yang teraniaya akibat perbuatan zina. Meskipun demikian setan yang menyertai manusia berusaha untuk menghiasi perbuatan zina itu menjadi sesuatu yang nampak menjadi indah dan menyenangkan, sehingga manusia yang berpaling dari pengajaran Allah SWT akan dengan mudah tergoda untuk melakukannya.

Adapun maksud dari menyesatkan manusia dengan hal-hal yang dikatakan, padahal tidak mengetahui/memahami apa yang telah dikatakannya, yaitu Menjadikan manusia mudah mengatakan, memutuskan sebuah hukum yang seharusnya halal dikatakan haram, demikian juga dengan sebaliknya yang seharusnya haram justru dikatakan halal, setan senantiasa akan menyertai manusia agar mudah mengeluarkan sebuah fatwa yang dia sendiri tidak mengetahuinya dengan baik tentang fatwa yang diucapkannya. Contoh kasus  Yusman Roy dari malang Jawa Timur. Dia adalah mantan petinju yang baru saja keluar dari penjara karena divonis 2 tahun atas kasus menyebarkan shalat dengan dua bahasa, Arab dan Indonesia. Dalil yang dipakai adalah Surat An-Nisa’ ayat 43. Padahal makna ayat tersebut tidak seperti yang dimaksud. Itulah Akibat dari ketidak fahamannya terhadap apa yang telah dikatakannya.  Sebagaimana Firman Allah SWT dalam Surah Al Hajj ayat 3 dan 8 :

وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يُّجَا دِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّيَـتَّبِعُ كُلَّ شَيْطٰنٍ مَّرِيْدٍ ۙ 

“di antara manusia ada orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan dan mengikuti Setiap setan yang jahat.”

وَمِنَ النَّا سِ مَنْ يُّجَا دِلُ فِى اللّٰهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ وَّلَا هُدًى وَلَا كِتٰبٍ مُّنِيْرٍ ۙ 

“ dan di antara manusia ada orang-orang yang membantah tentang Allah tanpa ilmu pengetahuan, tanpa petunjuk dan tanpa kitab (wahyu) yang bercahaya.”

Bercahaya Ialah: yang menjelaskan antara yang hak dan yang batil. Maksud membantah tentang Allah SWT ialah membantah sifat-sifat dan kekuasaan Allah, tanpa ada referensi, ilmu dan petunjuk yang bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya dengan mengatakan bahwa malaikat-malaikat itu adalah puteri- puteri Allah dan Alquran itu adalah dongengan orang-orang dahulu, mereka juga mengatakan bahwa Allah SWT tidak Kuasa menghidupkan orang-orang yang sudah mati dan telah menjadi tanah.

Oleh karena itu, marilah menjadi hamba Allah SWT yang baik, sejatinya mengikuti segala pengajaran kebaikan dalam Alquran, dari mulai hal-hal  yang terkait dengan Ibadah spiritual individual kepada Allah SWT, ataupun sosial (muamalah) kepada sesama manusia, dan pastikan tidak berpaling dari pengajaran-Nya, agar senantiasa terlindungi dari godaan setan yang terkutuk, mendapatkan petunjuk kejalan yang benar dan di ridhoi oleh Allah SWT. 

Wallahu’alam.   

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar