Antara Hari Pahlawan dan Emas Freeport

Syekh Fathurrahman, dosen dan penulis tentang keindonesiaan

Tahukah anda jika Perang 10 November 1945 di Surabaya itu awalnya gegara EMAS di Papua

Benar, Belanda telah menjajah Nusantara selama 350 tahun, mengeksplorasi dan mengeksploitasi setiap jengkal bumi Nusantara, terkecuali bumi Papua (dulu Irian Barat) yang belum sempat dijarah. Itu karena Eksplorasi Papua baru dimulai awal abad 20. Ekspedisi pertama Belanda (1903) dipimpin WICHMAN, ahli geologi asal Jerman dalam arahan pemerintah Belanda (Dutch). Ekspedisi ilmiah perdana tersebut guna memetakan kondisi geologi, biologi, etnografi dan lainnya dari wilayah utara Papua.

Ekspedisi ke-2 (1910) dipimpin LORENTZ. Papua masih ‘perawan’, semata hanya hutan belantara dan pegunungan. Medan yang ekstrim itu bahkan hampir menewaskan Lorentz. Namun ia berhasil mencapai wilayah kaki pegunungan Wilhelmina (Pegunungan TRIKORA). Mereka mencapai ketinggian 4461 m DPL (Diatas Permukaan Laut). Tempat markas Lorentz kemudian ditetapkan sebagai Taman Nasional Lorentz.

Ekspedisi ke-3 (1912-1913) lebih masif lagi, melibatkan 40 tentara Belanda, 120 pekerja Dayak dan 40 tahanan yang Kerja-Paksa, dipimpin FRANSEN, perwira KNIL ahli etnografi dan topografi, Dr VERSTEG untuk ahli zoologi dan antropologi, HUBRECHT untuk geologi dan PULLE untuk ahli botani. Mengikuti jalur sebelumnya, mereka mencapai puncak gunung Wilhelmina (Trikora) di 4700 m DPL dengan koleksi 1000 jenis spesimen burung dan 1400 spesimen botani (tumbuh-tumbuhan). Sampai pada ekspedisi ke-3 ini belum ditemukan indikasi adanya batuan yang berasosiasi dengan EMAS .

Ekspedisi Belanda selalu menggunakan bantuan asisten dari warga DAYAK. Karena menurut mereka orang2 Dayak sangat lincah di hutan dan memiliki kemampuan survival, biasa bertahan hidup di alam liar. Warga dayak ahli membuat bivak (perahu kecil untuk sungai), tali temali, buka jalur, berburu dsb sehingga orang Dayak dari Kalimantan selalu dibawa dalam setiap ekspedisi.

Wilayah tengah Papua dieksplorasi pada 1920 melalui India Committee for Scientific Survey pimpinan Capt. Overeem dan Jongejans. Ekspedisi ini gagal mencapai puncak karena keterbatasan logistik. Namun berhasil menemukan kampung kecil baru penduduk lokal Papua yang terisolasi di Lembah Swart.

Tahun 1926-1927, jumlah peserta ekspedisi jauh lebih besar dipimpin Dr. Mathew STIRLING, ahli Antrologi asal Amerika. Ekspedisi yg melibatkan 75 tentara dari Ambon, 130 Dayak dan 250 penduduk lokal itu diberi nama ekspedisi Stirling. Kali ini didukung pesawat terbang guna memetakan hingga pegunungan Nassau Papua. Kalau sebelumnya hanya menggunakan kamera hitam putih, kini sudah menggunakan rekaman film.

Papua hampir setiap tahun dilakukan ekspedisi demi eksplorasi. Hingga pada tahun 1936, sejarah awal ditemukannya ‘FREEPORT’. Ekspedisi yang dipimping oleh COLIJN dan Jean Jacques DOZY (ahli geologi) yang melakukan eksplorasi menuju pegunungan Cartenz (Puncak Jaya), gunung tertinggi di Papua, 4900 meter DPL. Dozy menemukan gunung ORE (mineral) yang kaya Copper (Tembaga), mineral ini berasosiasi dengan emas. Namun karena keterbatasan waktu dan tebalnya salju membuatnya belum melihat banyak akan adanya emas tersembunyi di gunung yang disebut *ESTBERG* itu. Padahal 50 tahun kemudian gunung itulah yang kemudian dikenal sebagai tambang emas GRASBERG FREEPORT. Dozy bekerja pada Nederlandsche Nieuw Guinea Petroleum Maatschappij (NNGPM) milik Shell (1935) dengan 40% saham Standard Vacuum Oil Company_ dan 20% _Far Pacific Investment (Chevron).

Tahun 1936, GRASBERG, salah satu Gunung Emas terbesar di dunia itu baru ditemukan, belum sempat dieksploitasi tapi keburu pecah perang Asia Timur Raya atau Perang Asia Pasifik (1937-1945). Belanda ciut nyalinya menghadapi Fasis Jepang dan segera lari terkencing2. Beruntung, Amerika yang sesungguhnya juga ciut nyalinya lawan Fasis Jepang. Tentara Sekutu tidak mau repot berlama-lama perang lawan Jepang. Amerika pun ambil jalan pintas cukup jatuhkan Bom Atom ke tengah perkampungan penduduk sipil di kota Hiroshima dan Nagasaki. Mendengar Jepang bertekuk lutut, Belanda segera kembali ke Indonesia semata demi Gunung Emas terbesar di dunia yang baru ditemukannya.

Itulah sebab, Indonesia tidak boleh Merdeka, selamanya. Itulah sebab, Negara-negara  penjajah: Belanda, Inggris, Amerika dan Australia gotong royong terus memerangi dan memecah belah kesatuan Republik yang baru lahir ini. Kurang dari sebulan setelah Kemerdekaan RI diproklamasikan, Negara-negara lokomotif HAM se-Dunia itupun menggelar Pembantaian Pribumi berkedok Aksi Polisionil (September-Oktober 1945). 

Pembantaian ribuan penduduk yang mayoritas Muslim oleh Bangsa-bangsa Eropa yang mayoritas Kristen itupun menginspirasi Ulama untuk menfatwakan Resolusi JIHAD tgl 22 Oktober 1945. Dalam waktu singkat pecahlah Perang Jihad 10 November 1945 di Surabaya. Perang Salib di Surabaya itupun dibalas Tentara Kristen NICA Penjajah dengan Agresi Bergelombang (1946 & 1948).

Gagal melalui invasi-Agresi, Negara-negara  Agresor itupun mensupport pemberontakan berjilid-jilid demi menggulingkan Soekarno. Sambil merongrong Soekarno, diam-diam negara-negara Kristen Nekolim itu menyiapkan pengganti Soekarno (yang sosialis) yakni Soeharto,  lengkap dengan para think tank kebijakan politik imperialis yang tergabung dalam CSIS dan para Ekonom Kapitalis. Tim Ekonom Mafia Berkeley yang nantinya membuat aneka kebijakan ekonomi agar Amerika cs tetap dapat menjarah PAPUA dan Gunung-gunung Emas lainnya maupun Lautan Minyak Bumi dan Gas di seluruh Indonesia selama-lamanya tetap GRATIS dan LEGAL. Terbukti sukses, aksi penjarahan SDA Indonesia oleh Negara-negara Imperialis itu tetap LEGAL sampai sekarang. Itu pula sebabnya pemberontakan OPM dari 1965 tidak pernah bisa dituntaskan sampai sekarang. 

Selamat Hari PAHLAWAN. Kalau para pahlawan dulu tahu/sadar bahwa bangsa-bangsa Penjajah yang mereka usir ternyata suatu saat kelak akan disuruh masuk lagi ke Indonesia oleh bangsanya sendiri. Mungkin mereka akan memilih meruncingkan bambu bukan untuk mengusir penjajah, melainkan cukup untuk pagar rumahnya saja. Pagar bambu runcing di halaman rumah itu kini teramat penting. Jangan sampai setelah kehilangan Gunung-gunung emas warisan leluhur gegara ulah Mafia Berkeley, halaman rumah pun ikut digusur mafia tanah.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar