Warga Kulon Progo Disiapkan Menghadapi Adanya Bandara Baru


MARKNEWS.ID,  Yogyakarta – Masyarakat di Kabupaten Kulon Progo harus mengikuti perkembangan pembangunan. Terutama saat ini adalah pembangunan bandar udara (bandara) baru New Yogyakarta International Airport atau NYIA. Bandara ini ditargetkan bulan April 2019 sudah beroperasi.

Pusat Studi Pembangunan dan Transformasi Masyarakat, Fakultas Bisnis Universitas Kristen Duta Wacana memfasilitasi Studi Banding Pasar Papringan dan Sarasehan Bapak Singgih Susilo Kartono di desa Kandangan, Temanggung.

Pada Minggu, 17 Februari 2019, rombongan yang terdiri dari akademisi, pemerintah dari Kecamatan Samigaluh, Kepala Desa Kebonarjo, Kepala Desa Sidoharjo, Kepala Desa Pagerharjo dan kepala dukuh dari masing-masing desa. Juga  bersama wakil-wakil dari kelompok masyarakat, sebagai anggota dari Koperasi Griya Jati Rasa, melakukan kunjungan ke pasar Papringan dan sekaligus mengadakan sarasehan bersama Bapak Singgih Susilo Kartono di desa Kandangan, Temanggung.

“Program ini bertujuan untuk mempersiapkan warga masyarakat, pihak swasta dan pemerintah menghadapi pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) dan Bedah Menoreh,” kata Farsijana Adeney Risakotta PhD selaku Investigator Program Samigaluh Tanggap Globalisasi dalam rilis yang diterima marknews.id,  Selasa, 19 Februari 2019.


Pemilihan lokasi studi banding dan sasaran pembelajaran yang ditujukan kepada penguatan kerja Bapak Singgih penemu sepeda bambu “Spedagi” dan mas Imam dari Komunitas Mata Air di Desa Ngadi Mulya, memberdayakan potensi lokal yang ramah lingkungan. Ini  bisa mendorong dan menggerakkan ekonomi lokal dan sekaligus menjaga keberlangsungan kewirausahaan berbasisi kebijakan lokal.  Diharapkan akan menjadi inspirasi kepada masyarakat di Kulon Progo siap menghadapi globalisasi yang sedang terjadi melalui pendirian NYIA.

Untuk mengawalinya, Pusat Studi Pembangunan dan Transformasi Masyarakat, Fakultas Bisnis, UKDW telah melakukan workshop “Samigaluh Tanggap Globalisasi, Tanggung jawab Umat beragama” pada tanggal 31 Mei 2018.

Hasil lokakarya menurunkan berbagai kegiatan seperti riset dosen, riset kolaborasi mahasiswa dosen dari program MM, UKDW, program pemberdayaan kapasitas anggota kelompok koperasi Griya Jati Rasa yang berada di Samigaluh; penguatan spesifikasi produk dan pengurusan HAKI.

“Tujuan yang diharapkan dari studi banding adalah, pertama, mendorong wakil-wakil kelompok-kelompok dampingan Yayasan Griya Jati Rasa, yaitu anggota Koperasi Griya Jati Rasa untuk menambah pengetahuan dalam pengelolaan terpadu produk untuk meningkatkan nilai tambah bagi warga maupun usaha bersama di tingkat desa.  Mendorong adanya pembuatan produk ekonomi berbahan daur ulang dan mampu mengorganisir kegiatannya dalam bentuk koperasi sebagai wadah pembelajaran dan pemupukan modal bersama,” kata dia.

Pihaknya memfasilitasi akses dari kelompok-kelompok dari masing-masing desa di Kecamatan Samigaluh, wilayah kabupaten Kulon Progo maupun di lingkungan Daerah Istimewa Yogyakarta untuk bisa bekerja sama membangun produk unggulan setempat. Hal ini  menjadi ciri khas warga dan tempatnya dalam pengembangan jalur wisata dan lama tinggal wisatawan terkait dengan kehadiran NYIA.

Selain itu juga mendorong masyarakat sipil, Yayasan dan Lembaga Swadaya Masyarakat dan akademisi sebagai partner kerja dari Pusat Studi Pembangunan dan Transformasi Masyarakat untuk berjejaring dalam membantu penguatan kapasitas pengurus dan anggota Koperasi Griya Jati Rasa.  Sehingga bisa siap memfasilitasi pemasaran produk anggota-anggota maupun non anggota di NYIA.

“Acara ini diikuti kurang lebih 30 orang yang datang dari Kabupaten Kulon Progo maupun dari Yogyakarta,” tambah Kiai Benny Susanto, Pengasuh Ponpes Sunan Kalijaga Gesikan, Bantul.

MS

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar