Saat Manaqib Budaya, Yenny Wahid: Ada Tiga Tantangan Besar Manusia 

Yenny Wahid: Ada Tiga Tantangan Besar Manusia (ist)

 

Marknews.id, Yogyakarta-Zannuba Ariffah Chafsoh Rahman Wahid atau Yenny Wahid menyatakan ada tiga tantangan besar manusia saat ini. Terutama yang dihadapi makin muda, yaitu disrupsi, ekologi dan emosi.

“Pandemi (covid-19) juga disrupsi, karena perubahan gaya hidup manusia mobilitas lebih luas maka virus pun menyebar lebih cepat. Dahulu virus bisa dilokalisir di suatu wilayah, tetapi saat ini dengan kemajuan teknologi dan mobilitas manusia yang tinggi, virus pun bisa tersebar ke seluruh dunia sehingga menjadi fenomena global,” kata puteri Presiden keempat Abdurrahman Wahid (Gus Dur) ini saat acara Manaqib Budaya di Peace Village, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa petang, 17 Agustus 2021.

Yenny Wahid yang juga Ketua Umum PP Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) ini menjelaskan disrupsi terjadi karena perubahan teknologi dan perubahan gaya hidup. Banyak pekerjaan yg dulu ada, sekarang tidak ada lagi. Misalnya teknisi kapal uap, petugas telepon umum, sekretaris yang menggunakan stenografi, dan lain sebagainya.

Tantangan kedua adalah ekologi meliputi isu perubahan iklim dan dampaknya. Tantangan ini dihadapi seluruh manusia di dunia tak memandang suku, agama dan  negara. 

“Isu perubahan iklim ini akan berpengaruh besar sekali. Mau dia orang Amerika Serikat, Belanda, Tegal, Sumenep semua sama,” jelas dia.

Tantangan ketiga adalah emosi terutama dengan sosial media yang mengaduk-aduk perasaan. Menurutnya, emosi untuk saat ini terutama kaitannya dengan kehadiran sosial media menjadi hal yang penting yang harus diperhatikan karena banyaknya perubahan. 

“Perubahan ini merupakan efek dari cara kita berinteraksi satu sama lain. Ada bulliying, hoaks, hate speech yang kecenderungannya membelah masyarakat. Kamu dukung saya atau kamu membenci saya. Kita harus hadapi ini,” jelas dia.

Ia lalu memberi tips untuk menghadapi tiga tantangan ini. Cara yang bisa dilakukan adalah dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan. 

“Ketika kita selalu ingat pada Tuhan dan mendahulukan kemanusiaan, kita akan jadi lebih bisa menerima dengan tabah saat krisis. Hal itu membuat kita memiliki daya juang untuk survive. Ketika ada daya juang, kita bisa bertahan dan bisa mencari solusi serta kreativitas,” papar dia.

Yenny menjelaskan ketika ada rasa kemanusiaan yang dipraktikkan, maka akan timbul saling bantu. Karena manusia adalah makhluk sosial yang tidak hidup sendiri.

“Selain itu, hal lain yang paling penting adalah keadilan. Kita punya prestasi yakni indeks korupsi salah satu yang paling tinggi di dunia. Kalau kita mau berbuat adil pada semua, pengamalannya gampang. Enggak usah korupsi deh. Semua orang enggak korupsi itu dampaknya luar biasa pada negara kita. Terapin ke diri sendiri dulu. Kita enggak usah ambil hak orang lain. Itu aja dulu,” kata Yenny.

Manaqib Kebudayaan rutin digelar Peace Village setiap malam Rabu Legi. Kali ini bertepatan dengan hari kemerdekaan 17 Agustus. Acara diisi dengan shalawat, manaqib dan dihadiri oleh sutradara Garin Nugroho, seniman Nasirun, budayawan Landung Simatupang dan lain-lain. Bahkan ada lelang lukisan karya para seniman yang diberi judul “Indonesia Rumah Kita”. Lukisan ini dibuat oleh dua pelukis papan atas Indonesia bereputasi internasional, Nasirun dan Jumaldi Alfi. Hasil dari lelang lukisan tersebut sepenuhnya didonasikan untuk membantu warga yang terdampak  covid-19. 

Menurut Garin Nugroho acara seperti ini sangat menarik dan semangat kemerdekaan menjadi energi positif. “Ini adalah eranya kolaborasi, ’juga terjadi transformasi ruang bermain karena kondisi,’’ kata sutradara papan atas tersebut. 

Dia juga menceritakan bagaimana negara-negara Eropa sudah melakukan crowd test, dan di sana terjadi saling berbagi bagaimana survive dalam menghadapi pandemi virus corona ini.

 

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar