Perempuan Bermasker Sambangi Warga Yang Lumpuh di Gunung Kidul 

MARKNEWS.ID, Gunung Kidul – Yuni Astuti yang dikenal dengan perempuan bermasker dan sering berderma mengunjungi seorang warga di Dusun Dawung Kelurahan Serut Kecamatan Gedangsari Gunung Kidul, Senin, 13 Juli 2020. Warga itu adalah Lasiyo, 45 tahun.

Bukan tanpa sebab, perempuan bermasker itu datang ke tempat tinggal Lasiyo. Lasiyo sudah empat tahun terbaring lemas di tempat tidur.

Musababnya, lelaki itu terkena setrum alias aliran listrik saat berleha sebagai tukang. Seluruh tubuh terbakar, ia terkapar selama empat tahun ini. Sebagai kepala keluarga dengan satu istri dan dua anak ini tidak bisa melakukan apa-apa. 

Yuni datang tak sendiri. Ia didampingi suaminya, Faried Jayen Soepardjan dan rombongan dari Pemuda Pancasila. Mereka datang bukan tanpa tangan kosong. Datang dengan tujuan menjenguk dan membawa banyak perabotan rumah serta sembako, tak lupa uang juga diberikan. 

Tangis tak terbendung dari perempuan bermasker yang menjadi Ketua Badan Pengusaha Pemuda Pancasila (BPPP) DIY ketika melihat kondisi Lasiyo.  Kondisi Lasiyo ini lumpuh total dan hanya terbaring di tempat tidur. Tangan kanannya diamputasi, sebagian tubuhnya tampak bekas lelehan katana terbakar, syaraf-syaraf otaknya tidak berfungsi secara baik. Tatapan matanya kosong.

“Kenapa harus dibawa ke rumah sakit. Bukannya di kecamatan ada dokter puskesmas. Untuk gerak saja sakit, tempat tinggalnya di tebing, kalau kontrol harus sewa mobil. Kan di desa ada kepala desa, kepala dusun hingga RT bisa mengusulkan. Tanpa mereka harus mengeluarkan biaya, pemerintah yang membiayai,” kata Yuni, Senin, 13 Juli 2020.

Ia berjanji, jika ada lahan yang bisa dibangun  rumah bagi Lasiyo, ia siap membiayai. Material bangunan akan disediakan dan anggota Pemuda Pancasila siap membangun. Karena Lasiyo tinggal di rumah iparnya. Sedangkan rumahnya sudah ambruk karena pergerakan tanah. Lagi pula, rumah yang ia tinggali ini juga tergolong Rumah Tidak Layak Huni (RTLH).

 Yuni dan rombongan mengantarkan beragam perabotan rumah tangga. Semuanya baru. Sebagian masih terbungkus plastik dari  toko. Ada satu set meja tamu, kursi dan lain-lain. Juga ranjang tidur masih baru  beserta bantal, guling maupun sprei. Rumahnya yang relatif sempit itu terlihat penuh perabotan. Tak hanya itu segepok uang tunai diberikan kepada keluarga Lasiyo.

Berulang kali istri Lasiyo, Sukati menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan kepada keluarganya. Menurut Sukati, Lasiyo saat ini masih rutin menjalani kontrol kesehatan. Selain kontrol rutin ke RS Panti Rapih maupun RS Bhayangkara.

“Bapak (Lasiyo) cuma di tempat tidur. Bisa duduk tapi nggak kuat lama,” kata Si kayu.

Saat kondisi fisik yang serba terbatas itu, ia juga mengalami kesulitan ekonomi. Keluarganya tunawisma, dan hanya tinggal di rumah saudaranya itu.

Faried Jayen yang menjadi Ketua Majelis Pimpinan Wilayah (MPW) Pemuda Pancasila DIY menegaskan, para anggotanya  harus punya hati namun tidak boleh gembeng (cengeng). Mereka juga harus bersedia membantu masyarakat berdasarkan kemampuan masing-masing.

“Semampunya kita bantu masyarakat karena kita ada di masyarakat. Gedangsari ini hanya salah satu contoh bentuk kepedulian Pemuda Pancasila kepada sesama,” kata Jayen.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar