Penyebar Konten Terorisme Terancam Dipidana, Tambah Bikin Sedih Umat Saja

Sukamta (ist)

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Adanya aksi penembakan jamaah di masjid di Selandia Baru,  selain membuat umat Islam marah juga berefek ke masyarakat Indonesia.  Karena muncul rekaman aksi terorisme itu di media sosial. Namun, penyebarnya justru diancam dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Menanggapi kejadian terorisme yang membunuh puluhan umat Islam yang sedang shalat Jumat di Selandia Baru itu pemerintah RI melalui Kementerian Kominfo mengeluarkan imbauan yang melarang netizen untuk menyebarkan konten foto, gambar atau video terkait itu.

“Kami meminta semua pihak di Indonesia baik pemerintah, tokoh politik, tokoh masyarakat dan media tertentu untuk bersikap bijak. Berhentilah menambah kesedihan dan tekanan kepada umat Islam dengan ancaman jeratan UU ITE,” kata Sukamta, anggota Komisi I DPR RI, Sabtu, 16 Maret 2019.

Ia mengatakan,  umat Islam yang sedang berduka dan sekaligus marah hanya menyalurkan kesedihannya dengan saling membagikan kabar duka ini di media sosial, tidak ada maksud lain.  Apalagi sampai berniat untuk mengancam atau mendiskreditkan umat lain dengan kejadian ini.

“Umat Islam merasa seperti satu tubuh, jika yang satu sakit, maka semua akan merasakan hal yang sama,” kata dia.

Sekretaris Fraksi PKS ini menjelaskan umat Islam dan bangsa Indonesia sudah cukup matang menghadapi tragedi semacam ini. Dalam situasi seperti ini, tidak perlu ada pihak yang malah menambah tekanan pada Umat Islam yang sedang berduka.

“Kami juga mengimbau kepada seluruh masyarakat, khususnya umat Islam untuk tetap berbagi berita ini secara bijak, jangan sampai dimaksudkan lain yang bisa membawa kerugian bagi kehidupan kita semua,” ia menambahkan.

Terorisme, kata dia memang sangat menjijikkan dan  tidak punya agama. Terorisme adalah musuh semua agama. Ia meminta  untuk menghentikan anggapan  dan pemberian label teroris identik dengan Islam.

Ia melanjutkan, terorisme juga musuh kemanusiaan dan musuh negara. Sehingga terorisme tidak boleh hidup di tengah masyarakat.

“Karena itu kami mendorong semua tokoh agama dan negara untuk bersatu melawan terorisme baik teroris individual, kelompok apalagi terorisme negara,” kata Sukamta.

Ia juga meminta pemerintah Selandia Baru dan Australia untuk melakukan investigasi menyeluruh sampai menemukan semua pelaku dan pihak yang terkait dan membawanya ke pengadilan.

“Harus dipastikan apakah mereka ini teroris individual atau berkelompok. Sekecil apapun grup teroris harus dibasmi dan dibawa ke pengadilan untuk mendapatkan hukuman setimpal agar peristiwa serupa tidak terulang kembali di manapun,” kata  Ketua Bidang Pembinaan dan Pengembangan Luar Negeri (BPPLN) DPP PKS ini.

“‘Kami mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya bagi para korban, semoga arwah para korban yang tewas mendapat pahala syahid, dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan. Terkhusus untuk korban dari Yogyakarta, saudara Zulfirmansyah dan anaknya yang menjadi korban penembakan dan tengah dirawat di rumah sakit semoga segera pulih kembali,” kata  wakil rakyat dari Daerah Istimewa Yogyakarta ini.

Dr. Zuli Qodir, Direktur Program Doktor Politik Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menyebut penembakan itu merupakan peristiwa biadab dan tidak dibenarkan oleh siapapun.

“Jika ada yang membenarkan, orang teraebut telah melanggar kemanusiaan yang paling asasi. Alasan apapun tidak bisa membenarkan peristiwa di New Zealand itu,” kata pengamat gerakan radikal ini.

Ia menyebut peristiwa ini memberikan pelajaran sangat berharga kepada bangsa bahwa perilaku terorisme siapapun mereka pasti tidak sungkan melanggar kemanusiaan demi keinginan mereka tercapai untuk  membuat kerusakan dan kegaduhan.

“Saya berharap peristiwa itu tidak dipandang enteng apalagi dikaitkan dengan persiapan pilpres Indonesia April mendatang. Jika ada yang mengaitkan  peristiwa itu  dengan  pilpres Indonesia maka orang ini sudah benar benar tuli dan tuna kemanusiaan,” kata Zuli.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar