Pemuda Pancasila : Sebaiknya Polisi Tembak Pelaku Klithih di Tempat 

Faried Jayen Soepardjan, Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila (MPW PP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY)

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Maraknya kriminalitas yang dilakukan oleh remaja atau disebut klithih, Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila (MPW PP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) minta polisi menembak di tempat. Pemuda Pancasila mendorong aparat kepolisian melakukan tindakan terukur dengan menembak  pelaku klitih saat melancarkan aksinya. 

Organisasi ini menilai aksi kejahatan yang dilakukan sudah sangat meresahkan. Perlu tindakan yang tegas untuk mengatasi. Juga memutus rantai tindakan mereka yang dilakukan secara berkelompok atau genk.

“Sebenarnya saya tidak setuju itu disebut klitih karena itu malah menjadi semacam kebanggaan bagi para pelaku. Saya lebih cocok jika disebut pelaku kriminal. Maka itu jika sudah memenuhi prosedur, kami mendorong aparat kepolisian tidak segan-segan melakukan tembak di tempat,”  kata Faried Jayen Soepardjan, Ketua Majelis Pimpinan Wilayah Pemuda Pancasila (MPW PP) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) di sela-sela acara tasyakuran istrinya yang baru sembuh dari sakitnya, di kediamannya di Dalem Sambisari, Kalasan, Sleman, Yogyakarta, Minggu 16 Februari 2020.

 Faried Jayen Soepardjan menyatakan,  aksi kriminalitas ini merupakan teror bagi masyarakat Yogyakarta. Masyarakat resah dan ketakutan terhadap maraknya aksi klitih. Karena itu, pihaknya meminta agar aparat kepolisian tidak segan-segan menembak di tempat bagi para pelaku yang kedapatan sedang melancarkan kejahatannya.

Jayen sapaan akrabnya, kembali menegaskan kasus klitih tetaplah merupakan kriminal murni meskipun pelakunya masih anak-anak di bawah usia 17 tahun. Ia pun menyampaikan apresiasinya kepada pihak kepolisian yang selama ini tetap memproses hukum bagi para pelaku. 

Menurutnya, menghadapi kasus klitih perlu tindakan tegas namun tetap sesuai hukum yang berlaku. Dari sisi pencegahan, pihaknya juga telah menginstruksikan kepada Pimpinan Pemuda Pancasila di semua level di DIY untuk turut melakukan pemantauan ancaman klitih.

“Kami sudah intruksikan sampai pimpinan tingkat anak ranting (setingkat pedusunan) untuk memantau lingkungan terhadap kerawanan klitih. Dimulai dari keluarga,” kata dia.

Penanganan klitih tidak dapat diserahkan pada keluarga dan pihak sekolahan semata. Semua unsur terkait, dituntut juga turut memantau di lingkungannya masing-masing. Termasuk Pemuda Pancasila juga punya peran untuk memantau.

“Sudah kita instruksikan,” ujar dia.

Kepala Kesatuan Bagsa  Kota Yogyakarta Zenni Lingga mengatakan fenomena klitih tidak terlepas adanya genk-genk pelajar.  Bahkan sari catatannya,di Kota Yogyakarta ada 24 genk SMA, SMP/SMK. 

“Kasus klitih secara kuantitatif mengalami penurunan, tahun 2018 terjadi 18 kali dan 2019 sebanyak 16 kali,” terang dia.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar