Para Bule Ikut Bedah Rumah Karyawan Sekolah di Yogya

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Suasana di Sekolah Menengah Atas 3 Yogyakarta berbeda saat ada 10 bule memakai pakaian adat Jawa. Mereka ikut berpartisipasi dalam program bedah rumah untuk karyawan yang sudah lama mengabdi dan rumahnya tidak layak huni.

Bertepatan dengan ulang tahun SMAN (Sekolah Menengah Atas Negeri) 3 Yogyakarta ke 77 para siswa dan para bule itu turut serta menyemarakkan program bedah rumah untuk lima karyawan non pegawai negeri.  Para bule dari Jerman, Belanda, Australia dan beberapa negara itu sedang ikut program pertukaran pelajar.


“Saya sangat senang. Ini hal bagus, bisa  saling membantu,” kata pelajar asal Jerman, Elisabeth, 18 tahun, di acara bedah rumah, Kamis, 19 September 2019.


SMAN 3 Yogyakarta, atau yang lebih akrab disebut Padmanaba ini memilih kegiatan sosial dalam merayakan hari jadinya. Launching ground breaking secara simbolis dimeriahkan barisan drone, barisan Bhinneka Tunggal Ika serta pelepasan puluhan jenis burung seperti merpati, kutilang dan perkukut.



Kepala SMAN 3 Yogyakarta Maman Surahman menyatakan, ada lima rumah yang dibedah. Pemilihan rumah yang bedah sudah melalui survei. Diprioritaskan yang tidak layak huni. Rumah yang dibedah milik petugas kebersihan.

“Mereka adalah karyawan non PNS,” kata dia.

Dia mengatakan, rencananya bedah rumah tidak layak huni dilakukan rutin setiap tahun. Pihak sekolah sudah mendaftar rumah karyawan sekolah yang akan diperbaiki.

“Ini yang pertama, harapannya, tahun berikutnya berkelanjutan,” kata Maman.

Ketua Ikatan Alumni PadmanabaDr Hendri Saparini mengatakan, bedah rumah ini melibatkan  seluruh angkatan.  Dari almuni angkatan 50-an sampai  siswa yang masih aktif.

“Kami iuran, termasuk adik-adik yang masih belajar,” kata dia.

Dia mengatakan, total iuran yang terkumpul sekitar Rp 160 juta. Sedangkan biaya perbaikan rumah sekitar Rp 50 juta per unit. Pihaknya masih membuka donasi untuk program ini.
“Kami masih membuka bagi donatur atau alumni yang ingin menyisihkan rezeki untuk membantu bedah rumah ini,” ujar Saparini.

Ia menambahkan, program bedah rumah milik karyawan yang tidak layak huni ini bukan tanpa alasan. Selain memupuk kebersamaan sesama alumni, juga sebagai bentuk kenangan bakti alumni dan siswa kepada guru dan karyawan sekolah.

“Semoga sekolah lain juga melakukannya, sebagai bentuk bakti kepada guru dan karyawan,” kata dia.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar