Mbak Anis, Panjenengan Orang Sangat Baik

Dua hari menjelang Haul Almarhum KH Masjkuri,  Mbak Anis Wahidah sibuk dengan persiapan pengajian. Sudah duaratus gelas dipinjam dari RT. Tapi bagi Mbak Nis, panggilan  Mbak Anis dirasa tidak cukup. Ia meminta untuk diantar dan membeli duaratus gelas lagi.

“Mengko yen butuh lan  kurang, ndak nyilah-nyilih wae,” kata Mbak Nis, Selasa 26 Maret 2019.

Rabu, usai berjamaah salat maghrib, Mbak Nis menata gelas-gelas untuk persiapan. Namun tiba-tiba,  ia kembali ke kamar dan tiduran.

Tidak sadar, tapi sempat memanggil-manggil “Mega, Mega,” memanggil anak keduanya. Ternyata itu kesadaran terakhirnya.


Panik, itu wajar bagi keluarga. Langsung dibawa ke IGD Rumah sakit Pandan Arang Boyolali. Setelah ditangani,  denyut jantung mulai membaik. Namun, hingga esoknya tidak ada perubahan yang signifikan.

Kamis petang dipindah ke RS dr Moewardi Solo. Setelah ditangani di IGD, masuk ke ICU. Berbagai upaya dilakukan oleh dokter dan keluarga. Sebagai suami, Mas Mufid meminta upaya terbaik bagi istri tercintanya.

Di malam haul Ayahanda KH Masykuri,  mas Budi memimpin doa untuk kesembuhan. Dengan berdoa dan diiringi air mata, segala doa dipanjatkan. Cinta kami kepada Mbak Nis tidak terkira.

“Dik, aku meminta Allah, segala ibadah dan kebaikan Mbak Anis untuk kesembuhan,” kata Mas Mufid waktu menunggu di RS Moewardi. Aku tak bisa menggambarkan betapa menangisnya Mas Mufid ketika mengucapkan kalimat itu di sampingku.

Namun setelah 13 hari di ICU RS Moewardi,  Allah mempunyai rencana untuk Mbak Nis. Tepat pukul 04.08 WIB, Selasa,  9 April 2019, Mbak Nis yang murah senyum ini wafat. Meskipun secara medis sudah diupayakan yang terbaik, Allah menghendaki Mbak Nis segera berada di sisi-Nya.

Tangis keluarga tak terbendung. Tak mungkin dituliskan dengan kata soal kesedihan ini. Kami kehilangan sosok yang tidak pernah marah. Mbak Nis sosok yang selalu mengalah. Selalu menghindari perdebatan. Tidak pernah mencari masalah. Lebih baik dia diam dan menjauh jika dirasa ada perdebatan. Justru  senyumnya lah yang  selalu mengalahkan orang-orang yang merasa menang.

“Dik, mbakyumu itu orang sangat baik. Tidak ada yang kurang. Dia sangat baik. Sangat baik, sangat baik,” kata Mas Mufid, suami Mbak Nis. Tidak bisa aku menuliskan betapa menangisnya kami saat mas Mufid mengatakan hal itu.

Seribuan orang melayat. Mbak Nis, panjenengan tidak sendiri. Meskipun kebanyakan orang menganggap kalau sudah meninggal dunia akan sendiri, bagi kami, keluarga, tidak begitu. Kami kan selalu berdoa dan mendoakan di mana pun kami.

Setiap langkah, bacaan alfaatihah kami hadiahkan untuk panjenengan. Meskipun sudah di alam sana, kami masih merasa Mbak Anis ada di sisi. Senyuman, keramahan dan sikap adem membuat kami bangga mempunyai Mbak Nis.

Dalam “tidur” panjenengan selama 14 hari itu Allah melunturkan dosa-dosa. Semua orang mendoakan. Semua orang memaafkan jika Mbak Nis pernah berbuat salah. Dalam keadaan suci, Allah menginginkan Mbak Nis menempati surga-Nya.


Mbak Nis,  ketika lahir panjenengan menangis dan orang di sekitar tersenyum. Kini orang di sekitar Mbak Nis menangis, tapi Mbak Nis tersenyum. Ibadah dan amal Mbak Nis menjadi modal senyuman itu. Senyum Mbak Nis masih menghiasi suasana di benak kami.

Suami dan anak-anak begitu cinta panjengan, Mbak Nis. Bahkan hingga liang kubur panjenengan,  Awan dan Khrisna, menantu panjengananlah yang menerima tubuh yang fana panjenengan  dengan tangan mereka  untuk dikuburkan. Kami sekeluarga mengiringi dengan doa dan munajat membuka jalan surga.

Setiap malam ratusan orang datang untuk Yasinan.  Membacakan doa-doa untuk panjenengan, Mbak. Amal jariah panjenengan tidak akan putus. Semua orang mengenang seluruh kebaikan panjenengan.  

Mbak Nis, panjenengan sekarang berada di sisi Ayahanda  KH Masjkuri,  yang haulnya panjenengan siapkan. Surga sudah tersedia untuk Mbak Nis. Amiin.

Mbak Nis Ahli Ibadah

“Le, wis salat,” itulah pertanyaan yang pertama kali diucapkan oleh Mbak Anis Wahidah setiap kami bertemu. Pertanyaan yang mengandung perintah itu meluncur wajar dan datar  bagi Mbak Nis tapi sangat dibutuhkan oleh semua.

Bukan soal kalimat itu wajar atau datar. Tetapi kalimat itu justru istimewa karena muncul dari seorang ahli ibadah. Bagi Mbak Nis mungkin datar. Tapi itu justru kalau bukan ahli ibadah tidak akan meluncur kalimat seperti itu di setiap awal pertemuan.


Ya, Mbak Nis adalah perempuan ahli ibadah. Tidak pernah meninggalkan salat, tidak pernah meninggalkan salat berjamaah.  Setiap malam salat tahajud.  Setiap pagi salat dhuha.  Soal puasa, apalagi yang wajib, puasa sunnah pun dijalani.

Mengaji Alquran itu pasti. Bersalawat  juga dilakukan. Selain mengaji, Mbak Nis juga mengajari para emak membaca Iqro’ dan Alguran di kampung Gatak, tempat tinggalnya. Di subuh hari sering mengirim pesan dalam WA grup keluarga dengan kalimat “Asholatu khoirun minannaum”. Pesan itu pula yang panjengan kirim terakhir di WA grup keluarga.

Bersama Mas Mufid, sang suami, Mbak Nis sering bersenandung salawat sambil klothekan.  Benda di sekitarnya diketuk-ketuk untuk mengiringi senandung salawatnya.  Kadang bergantian, suami bersalawat,  Mbak Nis yang klothekan.


Mbak Nis sering mewanti-wanti soal ibadah. Selalu mengingatkan ke masjid. Meskipun mengingatkan, tapi tidak dengan nada menyuruh atau menggurui. Umrah dan haji sudah Mbak Nis tunaikan. Sempurna sudah hidup Mbak Nis.

Ya, Mbak Mbak Nis memang perempuan  ahli ibadah. Bagi kami, Mbak Nis seperti Rabiah Al Adawiyah zaman now.  

Mbak Nis dan Buah Melon

“Kowe isoh ngonceki iki ora,” kalimat tanya itu muncul dari Mbak Nis ketika Mas Mufid membawakan oleh-oleh buah melon hijau. Bagi kami, buah itu adalah buah baru yang kami lihat.

Ya, pertanyaan itu muncul tigapuluh tahun lalu. Saat itu kami masih di rumah di Jalan Pandanaran Boyolali. Dengan menebak-nebak cara mengupas buah asing itu kami ngobrol soal buah itu. Ternyata cara mengupasnya sama dengan semangka. Baunya wangi. Kami tersenyum sambil menikmati buah melon itu.

Setiap aku makan buah melon, pasti ingat Mbak Nis. Hampir setiap hari aku makan melon. Bahkan di tiga tempat yang berbeda, aku bisa makan melon. Setiap makan melon itu yang muncul di benak adalah sosok ceria Mbak Nis.


Mbak Nis juga pintar menyanyi, lhoo. Aku bisa gitar meskipun tak pandai amat sih. Suaranya pas. Lagu-lagu dinyanyikan dengan nada tanpa fals.  

Oh iya, Mbak Nis itu juga sering jadi qori’ah di acara-acara lho. Meskipun tidak setingkat nasional,  tapi suara dan tajwidnya bagus dan benar.


Ya, Mbak Nis adalah sosok penyabar, penyayang dan ceria. Tulisan ini hanya sekilas tentang Mbak Nis.  Kata dan kalimat tak cukup untuk dituliskan mengenang kebaikannya. Doa kami selalu untukmu, Mbak Nis.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar