Masyarakat Desa Olah Sampah Secara Mandiri


MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Masyarakat desa-desa di Kabupaten Sleman mengolah sampah secara mandiri. Mereka membentuk kelompok untuk memilah dan mengolah sampah rumah tangga, rumah makan dan kantor. Hasilnya, mereka bisa mengurangi pembuangan sampah ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir (TPSA) hingga 80 persen.

Contohnya pengelolaan sampah di Pengelola Sampah Mandiri Ngudi Raharjo di Desa Widodomartani, Ngemplak, Sleman. Setiap hari bisa mengolah sampah dari masyarakat hingga enam meter kubik atau sekitar empat ton sampah.

“Yang tidak bisa diolah dan harus dibuang itu seperti popok dan pembalut,” kata bendahara Pengelola Sampah Mandiri Ngudi Raharjo, Haryadi, Rabu, 15 Januari 2020.

Ia menyatakan,  pihaknya mengelola sampah di 7 dusun, atau sekitar 315 kepala keluarga, termasuk kantor dan warung makan. Dalam sehari, sampah yang diangkut dari 7 dusun tersebut sekitar 6 meter kubik atau kurang lebih 4 ton.

Sampah yang sudah dipilih kemudian dibeli oleh pengepul, sedangkan yang tidak laku dibuang ke Tempat Pembuangan Sampah Akhir Piyungan. Setelah dikelola, sebanyak 20 sampai 25 persen sampah yang tidak laku lalu dibuang ke Piyungan. 

Ia mengatakan, pengelolaan sampah mandiri berawal dari bank sampah pada 2016 dan menjadi pengelolaan sampah mandiri pada 2017. Ia menyebut, setiap bulan total iuran yang dikumpulkan Rp 6 juta, sedangkan untuk biaya pengeluaran Rp2 jutaan. Hasil penjualan sampah yang akan didaur ulang sekitar Rp 1,5 juta.

Tenaga yang bertugas di dalam ada 5 dan yang di luar (mengambil sampah) ada tiga orang. Di Sleman sudah ada  Pengelola Sampah Mandiri sekitar 19 kelompok.

Wakil Ketua DPRD DIY, Huda Tri Yudiana mengunjungi pengelolaan sampah secara mandiri ini. Ia menyebut Tempat Pembuangan Sampah di  Piyungan menampung sampah dari Kabupaten Bantul dan Sleman serta Kota Yogyakarta sudah semakin penuh. 

Ia pun mendorong agar masyarakat mengelola sampah secara mandiri untuk mengurangi beban Piyungan.

Saat ini, sampah dari tiga daerah tersebut yang dibuang ke Piyungan rata-rata 600 ton perhari. 

“Pengolahan sampah mandiri dapat mengurangi beban sampah di Piyungan,” kata dia di saat mengunjungi kelompok Pengelola Sampah Mandiri Ngudi Raharjo.

Menurut dia, pengelolaan sampah berbasis dusun seperti di Dusun Jetis patut dicontoh. Pasalnya, tempat pengelolaan sampah tersebut berhasil mengurangi sampah yang dibuang ke TPA Piyungan hingga 80 persen.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar