Malioboro City Dilelang, Konsumen Kondotel Minta Kejelasan

Panji Jumadi (tengah) saat menunjukkan dokumen Perjanjian Pengikatan Jual Beli apartemen di Malioboro City didampingi kuasa hukum.

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Ratusan konsumen atau pembeli apartemen/kondotel di Malioboro City kecewa. Mereka sudah membayar unit kamar apartemen di jalan Adi Sucipto kilometer 8 namun justru mendapat kabar hotel dan kondotel dilelang.

“Kami sudah membayar, ada yang sudah lunas, ada yang masih mengangsur. Sudah ada Perjanjian Pengikatan Jual Beli (PPJB). Tapi tiba-tiba kami dapat kabar hotel dan kondotel dilelang,” kata Panji Jumadi,  salah satu konsumen kondotel di Malioboro City,  Senin, 27 Mei 2019.

Karena kaget, ia lalu menghubungi sesama konsumen kondotel di Malioboro City dan telah ada 25 konsumen yang bergabung menanyakan pelelangan ini. Pihak perusahaan yaitu PT Inti Hosmed tidak pernah memberitahukan soal pelelangan yang akan dilakukan pada 28 Mei 2019.

Panji menyatakan, ia telah mengaku akan uang sekitar Rp 550 juta untuk membeli satu unit kamar kondotel. Namun tiba-tiba ada pengumuman lelang hotel dan kondotel serta lahan kosong di Malioboro City oleh Bank MNC.

Setiap menanyakan ke Malioboro City,  tidak ada jawaban yang memuaskan. Bahkan tidak ada kejelasan soal nasib investasi mereka itu.  

“Itu kan ada 500 an kamar. Yang laku sudah ada sekitar 350 kamar, Kamis sebagai konsumen kan sudah membayar,  tapi tiba-tiba dilelang. Pelelangan besok itu sudah pelelangan kedua,” kata Panji.

Alih-alih mendapatkan sertifikat hak milik atas satuan apartemen, para konsumen  dirinya justru hanya diberikan dokumen Perjanjian Pemesanan Satuan Rumah Susun kendati dirinya telah dibayar dan mengikuti semua kewajiban yang dituntut oleh PT Inti Hosmed selaku pengembang sejak 2015. Termasuk kewajiban membayar lunas sebagai syarat kepemilikan apartemen.

“Dokumen ini dari dulu saya melunasi padahal seharusnya saya mendapatkan akta jual beli sebagai bukti sudah lunas.   Sampai sekarang (2019) belum ada perubahan apa-apa,” kata dia.

Kegelisahan para konsumen itu muncul dengan adanya pengumuman lelang. Malioboro City bakal dilelang melalui aplikasi lelang internet dengan penawaran tertutup (closed bidding) yang ada di website lelang.go.id.

Dari informasi lelang tersebut, disebutkan 1 (satu) bidang Tanah dan Bangunan Hotel dan Condotel Malioboro City, seluas 8.425 meter persegi atas nama PT Inti Hosmed dilelang dengan harga limit sebesar Rp 133 Miliar dengan uang jaminan Rp 60 miliar. Tak hanya itu, tanah kosong di sekitar bangunan seluas 7.686 m2 juga turut dilelang dengan harga limit sebesar Rp 83 miliar dengan uang jaminan Rp 40 miliar. Pelaksanaan lelang pada Selasa, 28 Mei 2019  dengan batas waktu akhir penawaran pada pukul 10.00 WIB.

Para pembeli unit kamar apartemen ini sudah rela menanti selama hampir 4-5 tahun untuk proses pembangunan hingga benar-benar selesai. Pihak pengembang properti yaitu PT Inti Hosmed disampaikan melalui direkturnya yakni Ir Hidayat lewat lisan maupun tulisan (tertuang dalam PPJB) yang menyatakan bahwa apartemen/condotel Malioboro City dimiliki dan dikuasai sepenuhnya oleh yang bersangkutan. sehingga pihaknya memiliki kewenangan untuk mengikat para konsumen.

Terlebih Hidayat kala itu juga meyakinkan bahwa lahan  tidak tersangkut atau terancam dalam sengketa, bebas dari sitaan dan menjamin tidak akan mendapatkan tuntutan atau gugatan dari pihak lain.

“Kami minta perusahaan menjelaskan kepada kami soal kelanjutan kepemilikan kamar dan  lelang sebelum pelelangan  itu,” kata dia.


Panji dan 25 pembeli didampingi kuasa hukum, Nur Jihad berharap pemerintah dalam hal ini Kabupaten Sleman termasuk BPKN (Badan Perlindungan Konsumen Naaional) dan BPSK (Badan Penyelesaian  Sengketa Konaumen) serta Kepolisian untuk memberikan perlindungan hukum kepada pembeli kamar. Para pembeli atau pemilik apartemen ini akan mempertahankan aset kepemilikan dan akan terus memperjuangkan hak-haknya yang memang dijamin oleh hukum.

“Kalau pihak perusahaan menyalahi hukum, maka kami juga menyiapkan laporan dan gugatan. Termasuk akan melaporkan ke polisi. Bisa melalui unsur perdata dan pidana,” kata Nur Jihad.


Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar