Lima Dasar Pendidikan di DIY Belum Dirumuskan Secara Konkrit

Kepala Disdikpora DIY Kadarmanta Baskara Aji, Pakar pendidikan Prof. Dr. Ki Supriyoko dan Ketua DPW PKS DIY Darul Falah.



MARKNEWS.ID,  Yogyakarta – Pakar Pendidikan Prof. Dr. Ki Supriyoko, mengatakan, ada lima hal yang mendasari pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).  Yaitu  Keraton Yogyakarta, Pesantren, Muhammadiyah, Tamansiswa dan pendidikan non muslim.

“Keraton Yogyakarta memberikan pengaruh nilai – nilai budaya. Pesantren dalam pembentukan pendidikan karakter, Muhammadiyah yang memiliki semangat ijtihad atau pembaruan, Tamansiswa yang berbasis kerakyatan serta pola pendidikan untuk non muslim,” kata Supriyoko dalam telaah kritis pendidikan di DIY bersama pakar pendidikan dan Fraksi PKS di DPRD DIY, Selasa (19/3).

Sayangnya, kata dia kelima hal yang mendasari pendidikan di DIY itu belum sepenuhnya dirumuskan secara konkret.Dosen Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa Yogyakarta ini mengungkapkan, pendidikan bisa dikerucutkan menjadi dua hal saja. Yaitu  karakter dan berbudi halus.

“Misalnya dikaitkan dengan era industri 4.0. Jepang sudah 5.0, yang bikin 5.0 adalah soal karakter,” ia menegaskan.

DIY  identik sebagai kota pendidikan. Luas wilayahnya 3.185,80 kilometer persegi atau sepersepuluh luas Jawa Tengah. Namun wilayah yang sempit itu berdiri Delapan Perguruan Tinggi Negeri (PTN), 106 Perguruan Tinggi Swasta (PTS) terdiri 19 universitas, 5 institut, 41 akademi, 7 poltek dan 34 sekolah tinggi. Juga memiliki 225 SMA/SMK, 492 SMP, dan SD 2.029.

Menurut Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga DIY Kadarmanta Baskara Aji, akses dan layanan pendidikan sudah tidak ada persoalan. Mayoritas sudah berkualitas baik.

“Tapi kita semakin fokus meningkatkan mutu pendidikan,” kata dia.

Ia menambahkan, prioritas pada peningkatan kualitas mutu pendidikan untuk menjadikan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan terkemuka di Asia Tenggara.

“Kita bertekad pada 2025 Yogyakarta menjadi pusat pendidikan terkemuka di Asia Tenggara,” kata dia.

Dia menambahkan, DIY sudah memiliki modal untuk mewujudkan cita-cita itu. Semua tenaga pendidik atau guru di DIY sudah tamatan S1. Namun masih  ada yang tidak sesuai kompetensi.

“Dari segi regulasi itu bermasalah, namun dalam pelaksanaan mengajar ternyata sesuai yang diharapkan,” ia menambahkan.

Persoalan yang dihadapi mewujudkan Yogyakarta sebagai pusat pendidikan terkemuka di Asia Tenggara pada 2025 yakni sarana pendukung dan pendanaan. Ada SMK yang kekurangan fasilitas pendukung. Selain itu juga soal pendanaan yang masih kurang.

Di tempat yang sama, Ketua DPW PKS DIY Darul Falah menyatakan, meski mendapat predikat sebagai kota pendidikan, namun faktanya pendidikan di DIY belum punya ciri khas. Dengan segala plus dan minusnya, sebaiknya pendidikan di Yogyakarta menonjolkan karakter.

Di bidang pendidikan, Yogyakarta layak disebut miniatur Indonesia karena berbagai suku mengenyam kuliah di kota ini. Ada sekitar 298.000 mahasiswa dengan pengeluaran Rp 600 miliar per bulan atau Rp 7,2 triliun per tahun.

“Pada  2030 mendatang, kita dorong seluruh anak di DIY punya kesempatan mengakses pendidikan sampai kuliah, tidak hanya wajib belajar 12 tahun,” kata dia.


FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar