Kunci Mengelola Bank Sampah Malang: Passion


MARKNEWS.ID, Malang – Pemerintah Kota Malang, Jawa Timur dinilai sukses mengelola sampah. Dengan mendirikan bank sampah, sampah yang hanya dibuang justru disulap menjadi rupiah. Nasabahnya pun sudah mencapai 30 ribu, baik perorangan maupun kelompok.

Kunci mengelola sampah ini menurut Kepala Bidang Kemitraan dan Kerjasama Dinas Lingkungan Hidup Kota Malang, Rahmat Hidayat adalah passion. Orientasinya bukan sekedar uang,  tetapi mengelola sampah  dengan baik. Pengelola dan nasabah bank sampah harus punya passion; gairah dan panggilan jiwa.

“Kuncinya adalah passion, baik dari pengelola maupun nasabah,” kata dia, di Balai Kota Malang,Kamis, 31 Oktober 2019.

Ia mengatakan pengelolaan bank sampah harus dengan transparansi harga. Warga terpacu untuk menyetor sampah ke bank daripada  ke pengepul.

Kemudian, bank sampah akan menjual sampah tersebut ke pengepul atau ke perusahaan. Justru dengan cara ini bisa mengurangi mafia-mafia sampah yang selama ini ada.

Rahmat mengakui jika di awal pendirian bank sampah ia merasa kesulitan mengajak masyarakat untuk memilah dan menjual sampah secara mandiri. Tetapi Pemerintah Kota Malang  terus berusaha memberi pengertian soal penting dan keuntungan jika setor sampah ke bank sampah.

Dinas Lingkungan hidup menggandeng ibu- ibu PKK serta ketua RT dan RW untuk menggerakkan masyarakat memilah dan menjual sampah ke Bank sampah. Pemerintah Kota Malang turut menggencarkan promosi dengan mengadakan lomba bersih kampung.

“Setiap tahun pemerintah menggelar  lomba Kampung Bersinar seperti lomba Adipura antar RW yang indikatornya harus punya bank sampah,” kata  direktur Bank Sampah Kota Malang ini.


Hingga 2019, Bank sampah Malang sudah memiliki sekitar 500 cabang, serta 30 ribu nasabah dengan omzet 30 Rp 300 juta perbulan. Selain itu warga sudah punya kesadaran tinggi untuk memilah dan menjual sampah.
Kota Malang meraih penghargaan dari Kemenkomaritim dan didaulat sebagai daerah percontohan pengelolaan sampah.

Sekretaris Pemerintah Kota Malang Wasto menjelaskan program bank sampah dimulai tahun 2010. Ide awalnya mencontoh dari pengelolaan sampah di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Kami adaptasikan program itu dengan wilayah kami,” kata dia.

Lalu pihaknya  memodifikasi melalui sistem bank sampah. Bedanya di Malang dibuat induk bank sampah, lalu masyarakat buka cabang-cabangnya.

“Kalau di Yogya sebaliknya. Cabang dulu baru induknya,” kata  Wasto dalam acara kunjungan wartawan Yogyakarta ke Balaikota Malang.

Tercatat dalam sehari, Kota Malang menghasilkan sampah 500 hingga 600 ton sehari. Wasto melanjutkan masyarakat bisa menjual sampah buangan rumah tangga ke Bank sampah. Harganya kisaran Rp 500 hingga puluhan ribu per kilogram tergantung jenis sampah.

“Ada lebih dari 70 klasifikasi sampah yang bisa dijual di sini. Kami buatkan katalog yang berisi harga sampah per klasifikasi item. Jadi warga bisa menghitung sendiri pendapatannya,” kata Wasto yang  asli Gunung Kidul ini.


Kepala Bidang  Humas dan Protokol Sekretariat DPRD DIY, Budi Nugroho berharap agar pengelolaan bank sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta juga bisa sukses seperti pengelolaan bank sampah di kota Malang.

“Bank sampah Malang ini belajarnya di Bantul, justru nasabahnya  dua kali lipat jumlahnya dari gurunya (bank sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta),” kata dia.

Budi berharap para pengelola bank sampah di Daerah Istimewa Yogyakarta meniru cara  Malang terutama dalam pengembangan dan pengelolaan  bank sampah. Karena dengan pengelolaan bank sampah yang baik akan semakin memberdayakan masyarakat secara ekonomi. Juga mengurangi beban tempat pembuangan sampah akhir.  

“Tempat pembuangan sampah  di  Piyungan Bantul saat ini sudah kewalahan menangani jumlah sampah dari masyarakat,” kata  Budi.
FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar