Kepala BKKBN Dapat Gelar Doktor Honoris Causa dari UNY

Kepala BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K).

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menganugerahkan gelar doktor kehormatan Honoris Causa kepada Kepala BKKBN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K). Penganugerahan akan dilakukan pada Sabtu, 1 Agustus 2020.

Hasto akan menyandang gelar Doktor Kehormatan bidang Teknologi dan Pemberdayaan Masyarakat Vokasional. Gelar itu diberikan berdasarkan keberhasilan peran strategisnya dalam mengaplikasikan pengetahuan, data, sains, dan teknologi sebagai dasar dalam pembangunan.

“Praksis penerapan teknologi dan ilmu pengetahuan untuk pembangunan, layaknya sudah dilakukan Hasto Wardoyo, harus terus dikuatkan, ditularkan, dan senantiasa dikembangkan sehingga bermanfaat untuk pemberdayaan masyarakat. Pak Hasto adalah satu tokoh langka yang selama kepemimpinannya selalu menggunakan data dan teknologi sebagai acuan pengambilan kebijakan,” ujar Sutrisna, Rektor UNY, Jumat, 31 Juli 2020.

Ia berharap pengakuan akademik ini menjadi amanah bagi Kepala BKKBN untuk terus berdedikasi dan berkomitmen dalam pengembangan masyarakat vokasional berbasis teknologi unggul. Ilmu vokasi juga dapat berkembang lebih luas, melibatkan multi disiplin dan komponen pemerintahan, serta terus berkembang dan relevan untuk pembangunan masyarakat. Hasto dinilai berhasil menyinergikan bidang akademik vokasional dan pemberdayaan masyarakat.

Kedua promotor yaitu Prof. Dr. Mohammad Bruri Triyono, M.Pd. dan Prof. Dr. Marsigit, M.A., menganggap posisi Dokter Hasto manakala menjabat sebagai Bupati Kulon Progo selama dua periode (2011-2019) sangat strategis. 

“Promovendus menggerakan masyarakat dan meningkatkan taraf hidup masyarakat sebagai dorongan ideologis. Terutama dalam bidang vokasional serta kemampuan kreativitas dan inovasinya,” kata Moch Bruri Triyono.

Kulon Progo mempunyai 12 kapanewon (kecamatan) yang terbagi menjadi 87 kelurahan serta memiliki 930 pedukuhan. Posisi ini mendorong dokter Hasto mencanangkan gerakan Bela dan Beli Kulon Progo. Ia memperkuat ketahanan ekonomi rakyat melalui sistem bersama yang transparan dan partisipatif. Konsep ini ia realisasikan menjadi mantra: madep mantep mangan panganan dewe, madep mantep ngombe banyune dewe, madep mantep nganggo klambine dewe. Gerakan kemasyarakatan ini secara ideologis membela bangsa sendiri lewat gotong-royong membeli produk masyarakat setempat.

Ide cemerlang Hasto ini menguatkan ekonomi rakyat. Masyarakat diberdayakan supaya tak bergantung semata pada permainan ekonomi makro. Dengan memfokuskan hal mikro, memulai dari industri rumahan, maka Kulon Progo diharapkan mencapai kesejahteraan lahir dan batin. 

Tak mengherankan bila visi besarnya ini bisa dirangkum tiga kata kunci: start small, act now, and think big. Tak tanggung-tanggung, Dokter Hasto mencanangkan swasembada kebutuhan beras guna terpenuhinya kebutuhan sehari-hari masyarakat.

Aksi nyata ini tak berhenti begitu saja. Hasto menautkan kebijakan itu ke ranah pendidikan vokasi. Baginya, pendidikan vokasi harus hadir di masyarakat. Bukan sebatas magang, melainkan pendampingan terpadu. Lulusan vokasi sudah semestinya punya keterampilan, kompetensi, dan karakter soft skills yang mumpuni. Hasto melihat ada peran strategis pendidikan vokasi sebagai pendidikan praktis. 

Contoh keberhasilan lain adalah Tomira (Toko Milik Rakyat) sebagai ikon warung kerakyatan di Kulon Progo difungsikan sebagai salah satu pintu masuk transformasi ekonomi mikro dan pendidikan vokasi. Toko terjaring Alfamart  dan Indomaret tidak ada. Ini terobosan cerdas  Hasto yang merupakan realisasi ekonomi Pancasila yang mengedepankan kedaulatan ekonomi di tangan rakyat dan basis pendidikan vokasi di Kulon Progo. 

“Jika dilacak dari rekam jejak promovendus di dalam menggeluti dunia pemberdayaan masyarakat vokasional selama ini, tampak bahwa perspektif keberpihakan pada ekonomi pancasila, menghadirkan pendidikan dalam peran sosialnya untuk pemberdayaan masyarakat, membangun dan memajukan bangsa,” kata Marsigit selaku Co Promotor penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa ini.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar