Kemenlu Ajak Pegiat Kemanusiaan Berkolaborasi


MARKNEWS.ID,  Yogyakarta – Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) mengajak para pegiat kemanusiaan untuk berkolaborasi.  Perlu ada kolaborasi antara pemerintah, organisasi, dan pendidikan.

Kementerian Luar Negeri  mengembangkan pendekatan diplomasi kemanusian yang inklusif dan kolaboratif. Juga mendorong aktor kemanusiaan terutama non-pemerintah ikut aktif melakukan diplomasi kemanusiaan dengan berbagai pihak.


“Karena diplomasi kemanusiaan ini tidak lagi eksklusif milik negara. Dengan pendekatan inklusi dan kolaborasi maka penanganan korban bencana akan lebih cepat. Pencegahan terhadap bencana juga efektif,” kata Direktur HAM dan Kemanusiaan Kementerian Luar Negeri RI, Dr. Achsanul Habib saat Pembukaan musyawarah umum pegiat kemanusiaan ke-3 (3rd Annual General Meeting) Southeast Asia Humanitarian (SEAHUM) Committee di Grand Inna Malioboro, Kamis malam, 21 Februari 2019.


Pembukaan musyawarah umum pegiat kemanusiaan ke-3 (3rd Annual General Meeting) Southeast Asia Humanitarian (SEAHUM) Committee berlangsung meriah. Kemeriahan ini terlihat ketika para delegasi antusias melihat penampilan empat penari cantik dari Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta dan performance musik angklung yang dimainkan oleh puluhan siswa-siswi Sekolah Dasar (SD) Juara Rumah Zakat Yogyakarta.


Berulang kali, para delegasi bertepuk tangan sebagai wujud apresiasi penampilan penari dan grup angklung. Para delegasi dari luar Indonesia pun tampak gembira mengikuti pembukaan yang juga dihadiri Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Purwadi. Para delegasi dari negara-negara ASEAN nampak senang ketika oleh panitia diminta mengenakan blangkon, sebuah topi khas adat Jawa.

Achsanul Habib mengapresiasi penyelenggaraan pertemuan pegiat kemanusian yang ke-3 ini. Menurut dia pertemuan ini sangat relevan karena dapat menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan terkini di negara-negara ASEAN.

Habib menyontohkan, tsunami pada 2018 yang menimpa pesisir sejumlah wilayah di Indonesia seperti Palu, Donggala, Pandeglang Banten membuat para elemen bangsa harus bersatu dan tangguh dalam menghadapi bencana.

Dalam beberapa tahun terakhir bencana di Asia telah memakan banyak korban.

“Khusus untuk Indonesia ada lebih dari 10 juta orang yang terdampak. Indonesia mengalami banyak bencana  seperti di Lombok, Donggala, dan Selat Sunda,” kata Habib.


Menurut Habib, ada banyak kendala yang dihadapi dalam memulihkan pascabencana alam gempa bumi dan tsunami serta bencana kemanusiaan yang lain. Kendala itu seperti pendanaan, koordinasi, pengetahuan dan lain sebagainya. Maka sangat diperlukan kolaborasi antara pemerintah,  organisasi dan dunia pendidikan.

Ia menyatakan, pemerintah Indonesia juga terus berupaya melakukan pencegahan dan percepatan terhadap penanganan korban bencana alam.

Karena itu, untuk memaksimalkan peran serta pemerintah dalam menangani bencana kemanusiaan di dunia, telah membentuk agensi tunggal untuk menyalurkan bantuan ke luar negeri.

Tahun ini, organisasi tersebut akan menyelenggarakan konferensi antar pemerintah dan organisasi non-pemerintah di Asia Tenggara. Hal ini bertujuan untuk efektivitas penyaluran bantuan dan bantuan yang disalurkan tepat sasaran.

“Kemenlu membuka kerjasama dengan berbagai pihak untuk berkolaborasi dalam kegiatan kemanusiaan,” jelas Habib.

MS

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar