Ini Perlunya Periksa Genomik


MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Soal kesehatan, sangat perlu  adanya pemeriksaan genomik.  Hasil dari pemeriksaan itu bisa digunakan untuk berbagai macam tujuan. Antara lain memperkirakan risiko, diagnosis hingga pemilihan obat dan antisipasi terhadap suatu penyakit berdasarkan gen.

Pemeriksaan genomik membuka paradigma baru guna menilai risiko penyakit mendukung preventive medicine. Bahkan, pemeriksaan ini bisa menilai risiko terhadap beberapa penyakit.

“99,9 persen sekuen DNA yang dimiliki masing-masing orang adalah sama dan sisanya berbeda karena melibatkan sejumlah nukleotida dalam DNA seseorang,” kata Prof Gerard Pals Phd, dari VU University Medical Center, Amsterdam, Belanda di Hotel Royal  Ambarrukmo Yogyakarta,  akhir pekan lalu.

Ketika DNA pada keturunan berikutnya, maka nukleotida dapat bertambah atau hilang pada proses tersebut. Pertambahan atau kehilangan mengakibatkan perbedaan.

Ia mengungkapkan hal itu dalam roadshow seminar dokter yang diadakan laboratorium klinik Prodia dengan tema ‘Good Doctor for better disease prevention-seminar on disease prevention through the power of genomic testing‘ di 18 kota. Pembicara dalam seminar Prof Gerard Pals Phd, dr Dian K Nurputra, Msc, Phd SpA, Novi Hastuti, Msc dengan moderator dr Nur Imma Fatimah Harahap Phd.

Gerard menjelaskan perbedaan dapat dilihat dari tinggi badan, berat badan, bentuk hidung hingga banyak atau tidaknya rambut yang tumbuh disekitar bibir (kumis). Selain itu, perbedaan juga bisa terjadi dari perbedaan jenis penyakit yang dimiliki setiap orang.

Bahkan, masing-masing penyakit memiliki persentase angka kejadian berbeda tergantung berapa jumlah orang yang terkena penyakit tersebut. Mutasi menyebabkan perubahan DNA yang dapat menyebabkan perubahan hasil kerja gen.

“Misalnya terjadi perubahan kecil dalam basa nukleotida seperti single nucleotide polymorphisis hingga terjadi penambahan DNA ekstra pada gen,” kata dia.

Single nucleotide polymorphisis (SNP) menjadi jenis variasi genetik yang paling umum di antara manusia. Misalnya suatu SNP dapat menggantikan nukleotida adenin (A) dengan nucleotode timin (T) dalam untaian DNA tertentu.

Untuk  melakukan pengembangan penelitian dan meningkatkan pelayanan kepada masyarakat, laboratorium klinik Prodia menyediakan pemeriksaan genomik menggunakan teknologi microarray. Pemeriksaan genomic yang disediakan di antaranya CArisk untuk melihat risiko terhadap jenis kanker, DIArisk melihat risiko penyakit diabetes termasuk penyakit terkait diabetes.

“Selanjutnya akan hadir CVDrisk

untuk melihat risiko penyakit kardiovaskular dan TENSrisk untuk melihat risiko hipertensi,” kata  Regional Head Prodia Central Java, Endang Hariyani SE,MM.

Disebutkan, riset Kesehatan Dasar 2018 melaporkan bahwa mulai tahun 1995, telah terjadi transisi epidemiologi penyakit, dari penyakit menular yang disebabkan oleh infeksi menjadi penyakit tidak menular. Penyakit tidak menular atau dikenal dengan Non-Comunicable Disease (NCD) merupakan penyakit yang terkait dengan gaya hidup yang tidak sehat.

Seperti pola makan yang tidak sehat, kurangnya aktivitas fisik, serta kondisi lingkungan yang kurang baik, misalnya merokok dan polusi udara. Penyakit yang terkait dengan NCD di antaranya, penyakit kardiovaskular, hipertensi, kanker, obesitas, diabetes dan sindrom metabolik.

Genomik adalah bidang yang mempelajari genom, untuk memahami bagaimana dan apa akibat dari interaksi antar-gen serta pengaruh lingkungan terhadap gen. Manusia memiliki 100-triliun sel di dalam tubuhnya, di setiap sel terdiri dari kromosom yang tersusun dari susunan DNA yang jumlahnya 99,9% sama di seluruh manusia, hanya 0,1% perbedaan yang ada, yang menghasilkan keragaman tinggi badan, warna kulit, warna rambut, warna mata dan kerentanan terhadap penyakit.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar