HMI Gelar Pidato Kebangsaan Redam Konflik Pemilu


MARKNEWS.ID, YOGYAKARTA – Sebagai upaya meredam suhu politik menjelang Pemilihan Umum (Pemilu 2019), 17 April mendatang yang semakin meningkat, Keluarga Besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menggelar pidato kebangsaan, Minggu, 31 Maret 2019. Ketua Penyelenggara, Retna Susanti SH mengatakan, Pidato Kebangsaan digelar karena  keprihatinan bersama Keluarga Besar HMI, baik kader maupun alumni atas fenomena politik yang  potensi perpecahan antar sesama anak bangsa semakin meruncing.

“Kita bisa merasakan bersama apa yang terjadi di tengah masyarakat di tahun politik ini. Tak jarang gara-gara beda pilihan politik, beda capres, sesama saudara bertengkar.  Ini yang membuat kami prihatin,” kata Retna, dalam siaran pers yang terima MARKNEWS.ID,  Jumat, 29 Maret 2019.

Pidato kebangsaan ini  sebagai upaya meredam potensi perpecahan antar sesama masyarakat, untuk mendorong terlaksananya pemilu yang damai dan berkeadaban. Kegiatan yang akan dihelat di Pendopo Bangsal Kepatihan, kompleks Kantor Gubernur DIY tersebut menghadirkan sejumlah tokoh nasional dan DIY. Yaitu, Sri Sultan Hamengku Buwono X (Gubernur DIY) yang didaulat sebagai keynote speaker. Selanjutnya, pidato kebangsaan akan disampaikan para tokoh alumni HMI, yaitu Dr. Hj. Siti Ruhaini Dzuhayatin, M.A (Staf Khusus Presiden Bidang Keagamaan Internasional),   Drs. Suwarsono Muhammad, M.A (Penasihat KPK 2013-2015, Ketua Badan Wakaf UII), Dr. Senawi, M.P (Dirmawa UGM 2012-2017, Lurah Kemahasiswaan Nasional 2013-2017), dan Prof. Dr. Ajat Sudrajat, M. Ag (Dosen PascaSarjana UNY).bertindak selaku moderator,  Hakimul Ikhwan, Ph.D (Sekretaris Jurusan Sosiologi UGM).

Retna menjelaskan,  menurut data Kepolisian Republik Indonesia  secara nasional DIY masuk dalam 15 provinsi yang memiliki kerawanan tinggi dalam hal keamanan sebelum, saat dan sesudah pemilu 2019. Untuk tingkat Kota Madya,Kota Yogyakarta juga masuk dalam 10 kota yang diwaspadai rawan konflik dalam pesta demokrasi.

Menurut dia banyak faktor penyebab  kenapa DIY justru berpotensi rawan konflik politik. Yogyakarta, di sisi lain kota Pelajar dan Kota budaya, namun di lain sisi pengguna sosial media (Sosmed) juga tinggi,

“Konflik politik salah satunya dipicu sosmed. Banyak kampanye hitam yang tidak mendidik jelang Pemilu 2019 ini, termasuk politisasi agama, hoaks, fitnah, ujaran kebencian dan segala bentuk kekerasan. Kami Keluarga Besar HMI menolak itu semua,” tegas Retna yang alumni HMI Cabang Bulaksumur itu.

Tema  Pidato Kebangsaan, yaitu ‘Mengokohkan Keislaman,  Kebangsaan dan Keindonesiaan’ Retna menyatakan hal itu sebagai bentuk dukungan Keluarga Besar HMI DIY untuk menguatkan Yogyakarta sebagai City of Tolerance,

“Sudah seharusnya masyarakat Yogyakarta menjadi  contoh warga Negara Indonesia yang melaksanakan pemilu bermartabat. Sangat disayangkan masyarakat Yogyakarta yang terpelajar dan berbudaya, kok malah tidak memafhumi demokrasi. Dalam demokrasi perbedaan pilihan itu niscaya. Kami Keluarga Besar HMI DIY mengimbau kepada masyarakat Indonesia, khususnya Yogyakarta, apapun referensi politik kita, mari kita saling menghargai. Mari kita jaga dan rawat bersama-sama Yogyakarta istimewa ini agar tetap berhati nyaman,” imbau advokat  alumni Fakultas Hukum  UGM ini.

Ketua Panitia  Wahyu Rezky menambahkan, acara dialog kebangsaan juga akan dimeriahkan penampilan spesial Rampoe UGM, ED Beat BoX. Untuk estimasi peserta, kata dia,
300 an kader dan alumni HMI di Yogyakarta dan sekitarnya sudah mendaftar dan mengkonfirmasi kehadiran,

“Insya Allah acara Minggu, 31 Maret 2019 di Bangsal Kepatihan mulai Pukul 07.30 WIB sampai selesai, akan dihadiri ratusan kader dan alumni HMI. Kami berharap acara ini menjadi ajang silaturahmi kader dan alumni HMI untuk bersama-sama menguatkan ukhuwah serta menyongsong Pemilu 2019 dengan damai dan berkeadaban,” pungkas Rezky, Kader HMI Cabang Yogyakarta.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar