Dikatai Teroris, Pedagang Kaki Lima Malioboro Lapor Polisi

MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Para pedagang kaki lima di Jalan Malioboro dan orang Padang yang tergabung dalam Ikatan Keluarga Besar Minang Yogyakarta (IKBMY) melaporkan pengusaha berinisial SB ke Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), Sabtu 10 Agustus 2019. sebab, salah satu anggota IKMBY disebut seorang teroris.

Kuasa Hukum IKBMY Armen Dedi mengaku sudah melaporkan SS ke Polda DIY karena sudah melalukan ujaran kebencian terhadap warga Minang yang ada di Yogyakarta. Ujaran kebencian itu disampaikan melalui video yang dibuat oleh SS lalu disebar ke group Whatsapp.

“Dalam video berdurasi lebih dari 60 detik tersebut meresahkan warga atau suku Minang. Di dalam video ada kata-kata yang tidak pantas yang melukai hati warga Minang,” kata Armen,  Sabtu, 10 Agustus 2019.

Ujaran itu ditujukan kepada warga Minang atau Padang yang berprofesi sebagai pedagang kaki lima  di Malioboro. Memang banyak para pedagang kaki lima itu berasal dari Padang,  Sumatera Barat.

“Terlapor bilang orang Minang itu teroris, perampok, benalu dan parasit ekonomi,” kata Armen.


Menurut dia, meski ujaran kebencian itu ditujukan kepada warga Minang yang berjualan di Malioboro, namun Keluarga Minang di Yogyakarta merasa tersinggung. Sebab, kalimat itu jelas menyebut suku Minang (Minangkabau).

“Ini bukan lagi persoalan PKL, tapi suku Minang di Yogyakarta bahkan di Indonesia tidak terima disebut seperti itu (teroris),” kata dia.

Maka  IKBMY dan masyarakat Minang Yogyakarta melaporkan SS ke polisi. Langkah ini dilakukan sebagai upaya pencegahan, tidak liar dan anarkis merespon tuduhan tersebut.

“Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, masyarakat Minang menggelar rapat dan sowan kepada sesepuh untuk melaporkan SS. Kami memiliki bukti yang kuat, video yang berisi ujaran kebencian itu,” ujar Armen.

Dalam video tersebut, memang nampak SS melakukan merekam sendiri video dengan kata-kata yang dianggap melecehkan warga Minang. SS merekam video saat berada di dalam mobil.

Video itu lalu tersebar ke sejumlah grup Whatsapp. Hingga akhirnya seorang warga Minang, Martius, 58 tahun, menerima video tersebut. Dalam kasus, Martius bertindak sebagai pelapor mengatasnamakan Masyarakat Minang atau Padang.


Terlapor SS mengakui, ia yang membuat video tersebut. Namun ia berkilah, video itu hanya untuk kalangan sendiri.

“Sebenarnya video itu untuk kalangan sendiri, kalau sampai tersebar berarti yang patut dilaporkan yang menyebarkan video itu,” kata dia.

Pemilik toko di Jalan Malioboro ini mengakui video yang dibuatnya itu tidak bermaksud menyinggung etnis tertentu. Namun hanya menyinggung individu.

“Saya hanya menyinggung individu saja,” ungkapnya.

SS menjelaskan, ungkapan yang ada di video tersebut bagian dari rasa  jengkel. Sebab,  depan toko yang ia punya masih   merupakan haknya. Namun  dipakai oleh pedagang kain lima  tanpa izin.

“Dia jualan di depan toko saya tanpa izin. Saya yang membayar pajak. Apa itu bukan perampok, parasit ekonomi? Perilakunya kan mirip teroris,” kata SS.

Ia merasa,  para pelilik toko di sepanjang jalan Malioboro terganggu dengan adanya pedagang kain lima di depan toko mereka. Dia sudah mengajukan keberatan kepada Pemerintah kota Yogyakarta agar para pedagang kain lima itu  ditata. Supaya mereka tidak berjualan di depan toko.

“Tapi faktanya sudah enam tahun depan toko saya dipakai berjualan,” kata SS.

Karena sudah dilaporkan ke polisi, ia akan menghadapi kasusnya. Ia merasa tidak bersalah.

“Saya siap, lha wong saya di pihak yang benar kok,” kata dia.

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar