Layanan Kesehatan Dinilai Masih Tidak Seimbang


MARKNEWS.ID, Yogyakarta – Layanan kesehatan di Indonesia dinilai masih tidak seimbang. Yaitu ketidakseimbangan (inequality) terhadap akses kesehatan dan mutu pelayanan kesehatan.  

“Ketidakseimbangan ini berdampak pada beban yang harus ditanggung oleh masyarakat umum, terutama dalam hal layanan kesehatan di rumah sakit,” kata dr. Rukmono Siswishanto, M.Kes., Sp.OG (K), Ketua Panitia Asia Medical Week-Indonesian Outreach “1st International Hospital Capacity Building Forum” di Yogyakarta,  Jumat, 22 November 2019.

Acara ini diikuti sebanyak 217 peserta. Tidak hanya dari Indonesia tetapi juga dari beberapa negara. Yaitu para dokter dan akademisi dari  China sebanyak  46, Thailand, Bangladesh, Cambodia, Amerika Serikat dan  Nepal sebanyak  21 orang. Yang dari Indonesia ada sebanyak 150 orang. Acara digelar di Hotel Tentrem Yogyakarta,  22 dan 23 November 2019.

Ia menyatakan di era globalisasi, era disrupsi, kolaborasi menjadi solusi dalam meningkatkan layanan kesehatan di rumah sakit.  Baik kolaborasi antar institusi di level nasional maupun di level internasional. Kolaborasi bertujuan untuk meningkatkan kapasitas sehingga layanan kesehatan menjadi lebih baik untuk seluruh masyarakat.

Acara Asia Medical Week-Indonesian Outreach “1st International Hospital Capacity Building Forum ini memfasilitasi rumah sakit di Indonesia dan di manca negara untuk berkumpul menjadi satu forum memetakan permasalahan-permasalahan  guna menghasilkan kerjasama yang mampu meningkatkan kapasitas masing-masing rumah sakit.

Kolaborasi ini mencakup tiga hal utama dalam memecahkan ketidakseimbangan yang ada.  Yaitu kolaborasi dalam hal sumber daya manusia, infrastruktur dan teknologi. Kolaborasi antar institusi rumah sakit ini diharapkan mampu meningkatkan sumber daya manusia melalui pengembangan kapasitasnya.  

Mulai dari pendidikan formal maupun non formal atau pelatihan-pelatihan yang mampu meningkatkan skills dari tenaga kesehatan. Peningkatan infrastruktur, saling berbagi dalam memenuhi fasilitas-fasilitas di suatu kewilayahan layanan kesehatan. Lalu distribusi pasien pada kasus-kasus emergensi, bencana atau outbreak, dan infrastruktur lainnya.  Sehingga mampu memenuhi kebutuhan masyarakat secara lebih proporsional dan seimbang.

“Pengembangan teknologi, dengan adanya kolaborasi antar institusi ataupun negara lain, bisa saling berbagi maupun mengadopsi teknologi-teknologi dalam layanan kesehatan sesuai kebutuhan masing-masing rumah sakit,” kata dia.

Dengan demikian, ia menambahkan pemanfaatan kolaborasi dalam hal teknologi kesehatan mampu memberikan layanan yang lebih efektif, efisien dan hemat. Kolaborasi antar institusi memberikan manfaat yang signifikan bagi masyarakat sebagai pengguna layanan. Sumber daya manusia  yang baik menghasilkan kualitas pelayanan kepada masyarakat menjadi optimal.

Lalu pemberi pelayanan (tenaga kesehatan) dapat meningkatkan skills lebih profesional. Payer, kebutuhan teknologi dan obat-obatan bisa jauh lebih efisien dan lebih hemat. Kemudian produsen alat dan obat akan diuntungkan dengan adanya perkembangan market.

“Harapannya melalui forum kolaborasi peningkatan kapasitas rumah sakit ini mampu menghasilkan aturan-aturan serta mekanisme sistem dalam hal SDM, infrastruktur dan teknologi yang dapat diimplementasikan rumah sakit di level nasional maupun internasional.  Meningkatkan akses pelayanan dan mutu pelayanan, serta kerjasama ini dapat memberikan manfaat kepada semua stakeholder.  Permasalahan-permasalahan lokal bisa diselesaikan dengan lebih cepat guna meningkatkan layanan kesehatan menjadi lebih baik,” kata Rukmono.

Dr. dr. Darwito, SH., Sp.B (K)., Onk,  Direktur RSUP Dr. Sardjito Yogyakarta menyatakan kedudukan pasien dan rumah sakit itu equal atau setara. Pasien kelas 3 juga tidak dibedakan dengan pasien kelas 1. Pasien berhak tahu apa yang dibutuhkan, pihak rumah sakit tahu apa yang dimiliki. Mulai dari sumber daya manusianya,  alat dan lain-lain.

“Dokter equal dengan pasien. Yang miskin punya kesempatan yang sama dengan yang kelas VIP, sama-sama punya hak, itu demokrasi. Kita equal, tahu hak dan kewajiban,” kata dia.

FULL

Tinggalkan komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Harus diisi *

0 komentar